[The Big “O”: Bukan XXX] #6 Pemanasan, Cumbu Rayu atau Foreplay

Pernah mencoba menggoreng sesuatu dalam wajan yang telah diisi minyak goreng namun apinya baru saja dinyalakan? Pertama, yang terlihat adalah tiadanya reaksi dari minyak goreng tersebut. Maklumlah, dia belum panas. Kedua, jelaslah menyalahi teori tentang aturan menggoreng.

 

Pada pria, konsep seperti ini relatif bisa dan mudah untuk dilakukan. Sebab kodratnya seorang pria itu jauh lebih cepat terstimulasi (apalagi secara visual) dibandingkan wanita, sehingga ibarat fast food, hidangan dengan cepat dapat terlayani dan tersajikan.

 

Berbeda dengan pria, wanita memerlukan proses yang jauh lebih lama dan sifatnya lebih gradual, artinya ada tahapan-tahapan penting yang harus dilalui untuk pencapaian orgasme yang sempurna.

 

Ada istilah/ slang dalam bahasa Jawa, “Jogja” yang maksudnya adalah “njujug saja” artinya langsung ke masalahnya. Dalam konteksnya dengan masalah yang kita bahas ini adalah situasi dimana dalam suatu hubungan seksual, si lelaki tanpa ba bi bu langsung ambil ancang-ancang dan goool… nah di sini, jogja tidak lagi menjadi istimewa, padahal sesungguhnya Jogja itu istimewa seistimewa orang-orangnya.

 

Begitulah, dalam suatu hubungan suami istri perlu disadari bahwa secara kodrati memang ada perbedaan tingkat persiapan untuk mencapai orgasme antara pria dan wanita. Sayangnya, sungguh banyak sekali kaum pria yang tidak menyadari masalah ini, dan menganggap bahwa kaum wanita itu persis sama dengan mereka sehingga siap untuk dilakukan penetrasi kapan saja.

 

Kanjeng Nabi Muhammad menurut sirah, belum pernah melakukan hubungan suami istri tanpa terlebih dahulu yakin akan kesiapan istri beliau untuk penetrasi itu. Nabi melakukannya dengan cara mencumbui bidadari beliau tersebut. Dengan kata lain, Nabi mengajarkan pada kita tentang pentingnya melihat “kesiapan” pasangan kita untuk masuk ke tahap penetrasi.

 

Kalau begitu bagaimana mempersiapkan pasangan untuk masuk ke kondisi yang siap dalam melakukan hubungan? Pemanasan. Ya, melakukan pemanasan, cumbu rayu atau sering diistilahkan dengan foreplay. Di sini tentu saja masing-masing pihak dapat dan harus berperan aktif agar tujuan awal dari suatu hubungan suami istri yakni orgasme bisa tercapai dengan sempurna.

 

Tahap pemanasan, cumbu rayu atau foreplay ini bisa dilakukan dengan saling melakukan pijatan yang sifatnya relaksasi, baik dengan maupun tanpa menggunakan minyak zaitun atau lainnya yang disukai. Bisa pula dengan usapan, belaian, rabaan, yang kategorinya “luar biasa”. Di samping itu, pada tahap ini stimulasi-stimulasi juga dilakukan pada seluruh titik-titik khusus, dengan menyisakan satu atau dua titik yang paling khusus bagi tiap pasangan untuk distimulasi paling akhir sebelum dilakukan penetrasi.

 

Wanita biasanya selalu memberitahukan akan kesiapannya untuk tahap penetrasi, sekalipun demikian, tetap harus dilihat apakah memang vagina sudah siap untuk penetrasi. Kesiapan ditandai dengan jumlah cairan dari vagina yang cukup, karena jumlah cairan yang cukup pada vagina akan membantu kenyamanan kedua pihak dalam melakukan hubungan.

 

Berapa lama waktu yang diperlukan dalam melakukan foreplay? Tidak ada jawaban yang pasti. Alam akan menuntun Anda dan pasangan untuk berjalan meniti jembatan kebirahian, menikmati alunan dan rintihan gairah, menangguk romansa menunggang libido untuk menyeberang hingga sampai pada kesempurnaan orgasme. Jadi tidak perlu mematok diri harus 10 menit, 20 menit 1 jam dan sebagainya, itu semua adalah deretan angka-angka yang menjerumuskan kita pada situasi yang tidak sehat.

 

Kesimpulannya, dalam keadaan normal, semakin sempurna pemanasan atau foreplay yang dilakukan, maka semakin sempurna pula orgasme yang akan diraih oleh pasangan tersebut. Oleh karena itu, jangan sekali-kali mengabaikan proses atau tahapan foreplay ini.

 

Pilihlah Jogja yang istimewa karena memang istimewa seistimewa orang-orangnya, bukan jogja yang membuat pasangan Anda (terutama wanita) kecewa dan pusing kepala.

[The Big “O”: Bukan XXX] #5 Mengenali Titik-titik Khusus Pada Pasangan

Catatan: Tulisan ini sama sekali tidak dimaksudkan untuk terkesan vulgar, namun harus dibaca dalam koridor pembelajaran.

Pada tulisan-tulisan sebelumnya, disebutkan bahwa ada peran stimulasi dalam pencapaian orgasme pada kedua belah pihak. Besar dan kecilnya stimulasi yang diberikan juga akan mempengaruhi “kualitas” serta “rasa” orgasme yang diraih oleh masing-masing pihak.

 

Masalahnya sekarang, bagaimana seseorang bisa melakukan stimulasi sedangkan ia tidak mengetahui bagian mana dari pasangannya yang perlu distimulasi atau membutuhkan stimulasi? Oleh karena itu, sangat penting artinya bagi kita untuk mengetahui titik-titik atau daerah khusus pada pasangan dan secara rahasia hanya diketahui oleh masing-masing pasangan yang fungsinya sebagai sumber pendorong gairah atau libido dan jalan untuk pencapaian orgasme yang sempurna tersebut. Namun, dari sisi keilmuan, memang ada titik-titik umum yang setelah melalui penelitian mendalam diketahui sebagai titik-titik atau daerah sensitif nan melekat pada setiap insan. Sekali lagi, titik-titik atau daerah sensitif bagi pria satu dengan lainnya bisa berbeda-beda, pun demikian halnya dengan wanita yang satu dengan yang lainnya, sehingga tidak perlu merasa “berkelainan” manakala tidak merasakan titik yang satu, tetapi menyukai titik yang lain.

 

Sang Maha sangat mengetahui kebutuhan kita, sehingga sedari awal, tubuh kita sudah didesain sedemikian rupa agar kebutuhan itu betul-betul pas untuk kita. Hanya saja sayangnya, sering saling berkebutuhan ini diabaikan sehingga apa yang dimaksudkan oleh Sang Maha sedari awal tidak tercapai. Beberapa faktor pemicunya antara lain, ketidakpedulian, ketidaktahuan, ketidaksabaran dan sebagainya. Faktor pemicu ini tentu harus disikapi secara hati-hati karena satu di antara persoalan yang timbul dalam kerumahtanggaan bisa jadi dimulai dari sini.

 

Titik-titik umum bagi pria berbeda dengan titik-titik khusus pada wanita. Namun, kalau boleh disimpulkan, titik-titik khusus pada wanita jauh lebih banyak dari pria, dan jauh lebih banyak dari apa yang dipaparkan di sini. Mengapa? Karena Sang Maha memang telah mendesain struktur tubuh wanita dengan sempurna dan meletakkan titik-titik khusus pada hampir di seluruh tubuh mereka, yang apabila dilakukan stimulasi akan mendorong, memperkuat serta mempercepat pencapaian orgasme.

 

Titik-titik khusus pada pria secara umum adalah sebagai berikut:

1. Leher

Seperti wanita, pria juga senang disentuh, dicium dan sebagainya di area ini. Sensasi yang dirasakan pria sama hebatnya dengan yang dirasakan oleh wanita.

 

2. Rambut dan kepala

Yang dimaksud di sini adalah biarkan pasangan membelai, meremas atau sedikit menjambak rambut ketika bercinta.

 

3. Telinga

Umumnya kaum pria senang merasakan sensasi di seputar telinganya.

 

4. Perineum

Ada satu titik yang kadang terlupakan, yakni perineum. Posisinya yang agak tersembunyi, yakni antara skrotum dan anus, membuat titik ini jarang mendapat perhatian. Padahal area ini dapat memberi sensasi khusus untuk pria.

 

5. Puting

Pria juga senang jika pasangannya mengeksplorasi putingnya, walau tidak semua pria menyenanginya. Oleh karena itu, cara terbaik untuk mengetahui apakah pasangan suka atau tidak adalah dengan mencari tahu secara langsung, baik dengan cara licking mau pun sucking.

 

6. Jari

Umumnya pria senang jika pasangannya mengeksplorasi bagi ini, sebagai refleksi dari cara pasangan memperlakukannya ketika bercinta.

 

7. Punggung

Ketika membelai atau mencium punggung pasangan, perasaan nyaman dan damai mengaliri tubuh. Karena itu, jika sedang bercinta jangan lupa belailah punggung pasangan dengan lembut.

 

8. Penis

Penis menjadi titik utama pada pria, terutama pada bagian frenulum, daerah sensitif di bagian bawah penis, di pertemuan lipatan-lipatan organ tersebut. Bentuknya menyerupai daun bunga. Titik ini jika disentuh, dapat menghasilkan sensasi yang meningkatkan gairah pria. Tempat tersebut merupakan tempat berkumpulnya ujung-ujung syaraf dan juga sangat sensitif. Terutama ketika ia sangat terangsang dan bila organ tersebut tengah membesar.

 

Sedangkan titik-titik khusus pada wanita, secara umum sebagai berikut:

 

1. Pangkal lengan

Pangkal lengan merupakan bagian yang terdekat untuk melanjutkan sentuhan. Pada saat itu sentuhan di lengan ini akan terlihat bagaimana reaksinya. Pangkal lengan bagian dalam lebih sensitif di bandingkan bagian luar.

 

2. Ketiak

Pasangan Anda akan suka sekali jika disentuh di bagian ini. Setelah menyentuh pangkal lengannya, Anda bisa meneruskannya ke arah ketiak. Bagian ini cukup sensitif sehingga jangan sampai menggangu suasana, misalnya, membuatnya kegelian dan bukannya terangsang. Anda bisa mengarahkan sentuhan pada bagian depan ketiak, tepatnya di pangkal lengan.

 

3. Leher

Setelah menyusuri ketiak, teruskan ke bagian atas atau ke bawah. Jika ke atas, arahkan ke lehernya, bisa sisi kanan maupun kiri. Sentuhan yang lembut pada bagian ini akan membuat pasangan bergairah. Telusuri pula bagian leher dari depan hingga belakang, lakukan dengan perlahan dan lembut karena bagian belakang leher sangat sensitif.

 

4. Belakang telinga

Di sini, ringankan sentuhan Anda dan kurangi tekanan pada tangan. Lakukan dengan lembut. Coba lakukan sentuhan yang terasa antara ada dan tiada karena iramanya akan terasa sensasional.

 

5. Pipi dan bibir

Anda tidak harus terus bermain di belakang telinganya. Misalnya, saat jemari telunjuk Anda menyentuh belakang telinganya dan jari yang lain menyentuh pipi. Jari lainnya bisa menyentuh bibirnya. Ingat, dengan semakin lembut sentuhan Anda pada bagian-bagian tubuhnya, gairahnya akan semakin meningkat.

 

6. Payudara

Sentuh bagian ini dengan elusan lembut dan remasan mesra, maka pasangan Anda akan menyukainya, walaupun ada juga wanita yang terlalu sensitif sehingga sentuhan pada bagian payudara justru tidak disukainya. Hampir seluruh bagian payudara merupakan daerah yang sensitif. Anda bisa merangsangnya menggunakan tangan, mulut, lidah dan bahkan gigi.

 

7. Puting payudara

Ini bagian payudara yang paling sensitif, karena terdapat banyak sekali syaraf-syaraf di sana. Puting bila disentuh akan muncul tanda bintik-bintik dan mengeras sebagai pertanda telah terangsang.

 

8. Perut

Seluruh wilayah perut akan menimbulkan rangsangan hebat bila disentuh dengan lembut dan rabaan mesra.

 

9. Punggung

Meski ada di belakang tubuh, punggung tidak kalah sensitif bila diraba pada titik erotik. Mau tahu di mana titik itu? Tepat di tengah-tengah punggung. Rabalah dengan lembut menggunakan ujung jari.

 

10. Pinggul

Daerah ini termasuk daerah paling sensitif. Ada beberapa bagian yang sangat sensitif dan menimbulkan rangsangan bila disentuh. Antara lain pinggul bagian belakang.

 

11. Pangkal paha

Rangsangan lembut di bagian ini akan menimbulkan reaksi yang hebat.

 

12. Paha

Rabalah bagian paha ini dengan lembut. Bila muncul bintik-bintik, pertanda rangsangan telah timbul. Maka rabalah terus dengan mesra dan lembut.

 

13. Vagina

Inilah bagian inti yang akan menimbulkan puncak kenikmatan dalam berhubungan intim. Perlu diketahui bahwa pada vagina ada beberapa bagian titik rangsangan, di antaranya bibir vagina, daerah sekitar vagina dan puncaknya pada klitoris.

 

Titik khusus yang berkaitan dengan vagina akan dibahas pada tulisan tersendiri, mengingat perlu penjelasan yang lebih panjang.

 

Yang perlu dicatat adalah titik-titik di atas merupakan titik-titik yang umum. Eksplorasi lebih lanjut terhadap pasangan sangatlah diperlukan untuk menemukan titik khusus spesifik lainnya pada pasangan kita.

 

Nah, sudahkah kita saling mengetahui titik-titik khusus pada pasangan kita? Sudahkah kita dan pasangan kita saling menstimulasinya? Sudahkah kita dan pasangan kita saling mengeksplorasi untuk menemukan titik-titik khusus atau titik-titik favorit yang hanya kita dan pasangan kita saja yang mengetahuinya?

 

Kalau belum, saran saya adalah, lakukan, lanjutkan, lebih cepat lebih baik.

 

Yogyakarta, 24 April 2012

[CERBUNG] AVENTURA – Bagian 6 – Misi Pertama

Mission
Mission

Alan dan Jennifer tiba di markas Ricardo. Jennifer kembali ke kamarnya, sementara Alan segera berjalan menemui Ricardo. Ricardo dan komplotannya berada di lantai dua sedang melakukan perbincangan serius. Ricardo duduk di tengah memimpin komplotannya yang duduk mengitarinya. Beberapa saat kemudian, Alan pun muncul.

“Hey, Alan, duduklah, malam ini ada tugas untukmu.” Kata Ricardo sambil memainkan serutu di tangannya.

“Tugas apa, bos?” Tanya Alan lalu duduk bersama yang lainnya.

“Tugasmu hanya membawa sebuah barang ke sudut kota Rio. Lalu nanti kau melakukan transaksi dengan seseorang. Awas jangan sampai ketahuan polisi. Tapi jika polisi datang, segera kau melarikan diri. Nanti kita bertemu di suatu tempat.” Tutur Ricardo agak santai.

“Di mana transaksi itu?”

“Di Santo Cristo. Kamu akan ditemani oleh Robert.” Terangnya sambil menunjuk orang yang dimaksud.

“Ingat, kalau transaksi kamu diketahui polisi, maka kamu harus lolos dari kejaran mereka. Pokoknya berhasil atau pun tidak, kamu harus menemui saya di De Neiro.” Lanjut Ricardo.

Alan dilanda dilema. Dia menduga ini pasti transaksi narkoba. Ini adalah misi pertamanya. Bagaimana kalau misinya gagal. Dia pasti akan masuk penjara lagi. Sengsara seumur hidup di balik jeruji besi. Bahkan lebih parah lagi, dia bisa saja tertembak oleh pasukan polisi Rio. Ricardo menangkap gelagat tak tenang pada diri Alan. Dia memaklumi karena Alan memang anak baru dalam komplotannya.

“Tenanglah, Alan, yang kau bawa itu bukan narkoba.”

“Apa itu?”

“Nanti kamu akan tahu.”

Alan agak heran dengan penjelasan Ricardo. Namun setidaknya dia tidak akan membawa barang haram semacam heroin dan sejenisnya. Dia ingin lepas perlahan-lahan dari pekerjaan ini. Mumpung dirinya belum terlibat terlalu jauh.

“Apa kau siap?” Tanya Ricardo agak tegas.

“Ok, sir.”

 

***

Hari sudah malam. Tidak ada bintang-bintang yang terlihat di langit sana. Sepertinya cuaca sedang mendung. Di garasi sudah siap mobil Ferari 250 GTO yang dulu pernah dinaikinya. Alan mengecek keadaan mesin mobil itu. Terdengar suara mesin yang cukup halus. Dia lalu memainkan semua lampu-lampunya yang masih berfungsi dengan baik.

“Hi, buddy, gimana keadaan mobil ini?” Tanya Robert sambil meraba body mobil itu.

“Dia sedang on fire.” Canda Alan dengan masih memainkan gas mobil tersebut.

“Apa kau bisa mengemudikannya.” Robert menyindir Alan.

“Hey, kau jangan meremehkan saya, saya mantan pembalap professional, kawan.” Alan menjawab santai.

“Tepatnya pembalap jalanan.” Ledek Robert.

Robert mengangkat sebuah koper yang dimasukkan ke dalam bagasi. Lalu dia pun masuk ke dalam mobil dengan membawa beberapa peralatan senjata seperti pistol dan senapan mesin AK47.

Let’s go, buddy!” Ajak Robert bersemangat.

Mobil itu mulai berangkat perlahan meninggalkan pemukiman kumuh gangster narkoba. Alan kembali melewati gemerlapnya pusat kota Rio de Janeiro. Alan menginjak pedal gasnya sampai full. Mobilnya melesat kencang meninggalkan mobil-mobil lainnya.

Warna langit di malam itu terlihat semakin gelap. Beberapa kali terdengar suara petir menyambar-nyambar. Suasana alam pun menjadi kelam dan mencekam. Tetesan air hujan mulai jatuh satu per satu di kaca depan mobil yang dikemudikannya. Semakin lama hujan itu turun semakin deras. Jalanan pun menjadi basah dan licin. Adapun Alan masih fokus mengendalikan mobilnya.

Setelah menempuh waktu sekitar satu jam, akhirnya dia sampai di wilayah Santo Costa. Alan pun berhenti di sebuah tempat. Suasananya nampak sepi. Dia lalu menunggu rekan transaksi mereka. Sesuai dengan intruksi dari Ricardo. Sementara guyuran hujan turun semakin deras saja.

“Robert, mana rekan bisnis kita.” Tanya Alan sambil melihat lingkungan sekitar.

“Tunggu sebentar lagi, mereka akan datang.”

Tak lama kemudian, ada suara sirene mobil polisi yang masih terdengar samar-samar. Beberarapa saat kemudian, suara itu terdengar semakin jelas. Dari kejauhan, Alan melihat ada segerombolan mobil polisi yang mendekatinya.

“Oh, sial, bukan rekan kita yang datang. Tapi polisi yang datang.” Kata Alan segera memacu kendaraanya.

Alan mengemudikan mobil itu secepatnya. Dari arah belakang, terdengar suara tembakan yang mengarah pada mobilnya. Dia menghindari tembakan itu dengan cara mengemudikan zig-zag. Namun, tembakan itu datang bertubi-tubi dari berbagai  arah. Kaca mobil bagian belakang pun pecah. Sesekali Alan dan Robert merunduk untuk menghindari lesatan besi panas itu. Robert pun segera melakukan perlawanan dengan menembakkan berondongan senapan mesin AK47 miliknya. Ada satu mobil yang berusaha menghindar dari tembakan Robert, namun mobil itu terbalik karena menabrak badan jalan.

Mobil Ferrari itu melaju semakin cepat. Pasukan mobil polisi itu pun semakin tertinggal jauh. “Kemana mereka, apakah kita sudah aman, Robert?” Tanya Alan. Namun naas baginya, di depannya sudah menunggu segerombolan mobil polisi yang lain. Ada beberapa polisi berdiri menodongkan pistol ke arah Alan. Tak ada pilihan lain, Alan pun maju terus menerobos pasukan polisi itu lalu melewati trotoar jalan. Mereka semua menghindar tapi terus melakukan serangan ke arah mobil Alan. Kaca bagian depan pun pecah. Lalu tiba-tiba, sebuah peluru meluncur deras ke arah Robert.

“Dooorrr..!”

“Aaaaah…!”

Robert pun terkena tembakan di bagian lengan kanannya.

***

Bersambung

[CERBUNG] AVENTURA – Bagian 5 – Gelombang Fitnah

Alan berjalan memasuki sebuah kafe. Dia duduk di dekat jendela sambil memandang kendaraan yang berlalu-lalang. Seorang pelayan mendekatinya lalu menawarkan daftar menu makanan. Alan memesan satu paket stik kentang beserta kopi susu cream. Dia melihat sebuah majalah terbitan Universitas Federal yang tergeletak di atas meja. Dia pun segera mengambilnya lalu membaca beberapa halaman, Alan menemukan sebuah artikel yang cukup menarik perhatiannya. Artikel itu berjudul “Terorisme Atas Nama Agama” ditulis oleh Michele Johnson, seorang dosen di kampus tersebut.

 

Ia menulis, “Akhir-akhir ini saya kira hubungan dialog antar agama semakin hari semakin memburuk saja. Tidak ada lagi keharmonisan, tidak ada lagi kedamaian, semuanya diliputi dengan kekerasan, terror, dan peperangan. Sungguh sangat mengerikan. Dan tragedi yang paling dahsyat di abad ini adalah runtuhnya gedung World Trade Cantre (WTC) yang dilakukan oleh sekelompok teroris Arab.

 

Melihat sejarahnya di masa lalu, penyebaran agama orang Arab memang dilakukan dengan menghunus pedang. Memaklumatkan perang terhadap non Muslim manapun. Sebab memerangi non Muslim adalah sebuah kewajiban agama yang bernilai ibadah. Maka Islam kemudian mencatat kesuksesan setelah melakukan aksi-aksi militernya. Peningkatan angka komunitas Arab-Muslim merupakan kenyataan dari kemenangan perang dan pemaksaan warga penaklukan untuk mengikuti seruan Islam.

fitnah
fitnah

Pedang Islam berhasil menundukkan satu persatu penduduk yang menghuni wilayah Afrika dan Asia. Memang sejarah Islam adalah rentetan-rentetan menakutkan, penuh dengan adegan pertumpahan darah, perang, dan pembantaian. Muhammad menjanjikan mereka yang gugur dalam perang dengan kesenangan abadi. Muhammad memerintahkan kepada pengikutnya mengislamkan seluruh dunia dengan pedang.”

 

Alan cukup terkejut dengan artikel Michele Johnson. Naluri berpikir kritisnya kembali muncul. Bagaimana tidak, secara serampangan ia menuduh pelaku pemboman menara kembar WTC adalah teroris Arab. Karena dunia Arab adalah mayoritas Muslim, maka secara tidak langsung, Michele Johnson telah mengeneralisir bahwa kaum Muslim adalah teroris. Dia sangat tahu bahwa apa yang dikemukakan oleh penulis itu hanya fitnah besar. Alan adalah pemuda yang hobi membaca, dia telah mengamati berbagai artikel di media yang menganalisa tentang bom 911 yang menghancurkan gedung WTC. Benarkah Gedung WTC di New York hancur akibat hantaman pesawat? Apakah mungkin gedung yang disangga baja itu meleleh hanya karena api? Mengapa jet-jet tempur AS tidak mengudara? Siapa sesungguhnya dalang di balik Tragedi 11 September? Apa kepentingan Washington dan Pentagon? Apa kaitannya dengan kepentingan energi di beberapa dekade mendatang. Bagaimana nasib dunia Islam?

 

Alan mendengar banyak pendapat dari berbagai kalangan bahwa tragedy 911 adalah sebuah konspirasi jahat Amerika dan sekutunya. Di antara tokoh-tokoh yang menganalisa tragedi itu di antaranya, pertama, Prof Dr Morgan Reymonds (guru besar pada Texas University, USA) menyatakan ”Belum ada bangunan…baja…ambruk hanya… oleh kobaran api”. Kedua, Michael Meacher (mantan Menteri Lingkungan Inggris, 1997 – 2003) berpendapat ”…perang melawan terorisme dijadikan tabir kebohongan guna mencapai tujuan-tujuan strategis geopolitik AS”.

 

Ketiga,Prof Dr Steven E Jones (guru besar fisika pada Birgham Young University, USA) membeberkan hasil risetnya ”…bahan-bahan peledak telah diletakkan…di bangunan WTC”. Profesor Steven E. Jones dari Brigham Young University, Utah, yang melakukan penelitian dari sudut teori fisika mengatakan bahwa kehancuran dahsyat seperti yang dialami Twin Tower serta gedung WTC hanya mungkin terjadi karena bom-bom yang sudah dipasang pada bangunan-bangunan tersebut. Teori fisika Jones tersebut tentunya sangat bertentangan dengan hasil penelitian FEMA, NIST dan 9-11 Commision bahwa penyebab utama keruntuhan gedung-gedung tersebut adalah api akibat terjangan pesawat dengan bahan bakar penuh.

 

Pernyataan Michele Johnson yang mengatakan Islam disebarkan dengan pedang adalah kesimpulan yang berlebihan dan tidak bercermin pada sejarah. Alan pernah mendengar ceramah dari kyainya dulu di pesantren bahwa Allah tidak mensyariatkan jihad untuk melakukan islamisasi umat manusia. Sebab pemaksaan tidak akan pernah membangun sebuah keyakinan. “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang salah.” (QS. Al Baqarah: 256) Islam tidak pernah memaksa seseorang memeluk agama yang tidak diyakininya dan sangat menjamin kebebasan beragama. Jika benar tuduhan bahwa dalam penebarannya Islam menggunakan pedang, tentu tidak akan ditemukan istilah “jizyah” atau “dzimiyyun”.

 

Jizyah merupakan keharusan bagi non Muslim yang enggan memeluk Islam. Adanya jizyah tidak lain untuk kepentingan dan manfaat bersama seperti halnya kewajiban zakat yang dibebankan kepada kaum Muslim. Setelah menunaikan jizyah, mereka memiliki kebebasan penuh untuk melaksanakan ajaran agamanya masing-masing. Bahkan kata Nabi SAW, “Sesiapa yang menyakiti seorang dzimmi, ia akan berhadapan denganku.” (HR. al khathib) Sabda ini merupakan teks yang secara tegas menyatakan pelarangan terror terhadap non Muslim.

 

Sementara opini yang berkembang bahwa kaum Muslim mengggunakan pedang dalam proyek islamisasinya, bagi Alan, tidak lain sekedar isu murahan yang dijajakan para pembenci Islam. Dulu, penduduk Romawi tidak dihadapkan pada pilihan pedang atau Islam. Melainkan pada Islam atau jizyah. Langkah ini kemudian diadopsi oleh pemerintah Inggris di masa Ratu Elizabeth.

 

Di Indonesia, kita tidak pernah mendengar pasukan tentara Arab yang memaksa rakyat Indonesia masuk Islam. Demikian pula di China, Malaysia, India, dan lainnya. Padahal saat ini di sana, secara kuantitas umat Islam cukup banyak. Bahkan belakangan ini, Islam semakin tersebar ke Amerika dan Eropa, nah kita boleh bertanya tentara Muslim mana yang menyebarkan Islam dengan pedang ke Negara-negara itu. Karena dalam penyebarannya, Islam menggunakan pendekatan rasional dengan memaparkan bukti dan alasan riil. “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik.” (QS. Al Nahl: 125)

 

Saat sedang menyimak serius majalah itu, tiba-tiba ada seorang pria menghampiri Alan. Dengan tersenyum dia berkata, “Maaf, saya mau mengambil kembali majalah saya. Tadi tertinggal di sini.”

 

Seketika Alan kaget lalu memandang wajah pria tersebut.

“Oh, silakan. Apakah ini milikmu?” Kata Alan lalu segera menyerahkan majalah tersebut.

“Yup, thanks.”

Setelah mengambil majalahnya, pria itu pun berlalu pergi. Alan tak habis pikir, fitnah terhadap Islam ternyata sudah tersebar di mana-mana. Termasuk di negeri para mafia ini. Tak bisa dibiarkan, dia harus menanyakan hal ini kepada Jennifer. Apakah memang di kampusnya diajarkan paham kebencian kepada Islam. Tak lama kemudian, dari balik kaca terlihat Jennifer sedang berjalan ke arahnya.

 

“Hey, Alan. Sorry, aku agak lama ya?”

“Tak apa, Jenni.” Kata Alan. “Hmm, apakah kau tak mau minum dulu?”

“Yup, sepertinya aku sedang haus.” Ucap Jennifer lalu duduk di depan Alan.

 

Jennifer memanggil pelayan lalu memesan minuman Cocacola dan roti sandwich. Sementara Alan sedang asyik menikmati stik kentangnya.

 

Alan tidak mau menunda lama rasa penasarannya setelah membaca artikel dari majalah kampus itu. Dia ingin menanyakan langsung kepada Jennifer soal tuduhan-tuduhan yang sering dialamatkan kepada Islam.

 

“Jenni, apakah di kampusmu kerap kali ada diskusi tentang agama-agama?”

“Hmm, sepertinya iya. Tapi menurutku sih agama tidak terlalu penting. Kita hidup di dunia ini hanya sekali. So, nikmatilah hidup ini. Aku gak mau terkekang oleh agama.” Kata Jennifer dengan santai.

 

Dahi Alan berkerut sesaat. Alan cukup terperangah mendengar perkataan Jennifer. Ternyata gadis yang berada di depannya ini seorang yang anti agama. Sungguh sangat disayangkan. Padahal agama adalah petunjuk bagi umat manusia agar tidak tersesat dalam mengarungi kehidupan, sekaligus juga sebagai sarana meraih kebahagiaan di dunia dan hari nanti.

 

“Jenni, aku adalah seorang beragama, namun aku tidak merasa terkekang.” Kata Alan dengan menatap serius wajah Jennifer.

“Benarkah? Ku kira dengan beragama kita harus menaati berbagai aturan yang sangat mengganggu waktuku. Seperti gak boleh ini, gak boleh itu, harus begini dan harus begitu. Sungguh sangat membosankan.” Sahut Jenni enteng lalu menyeruput Cocacola yang berada di depannya.

 

Alan harus berpikir keras, bagaimana seharusnya menjawab komentar Jennifer. Dia harus berusaha menahan emosi, jangan sampai perkataannya semakin kacau. Untuk orang yang masih belum mengenal agama seperti Jennifer, dia memang harus lebih bersabar untuk membimbingnya secara bertahap. Baru saja ingin menjawab pendapat Jennifer, Alan mendapat panggilan telepon dari Ricardo.

 

“Hello, Mr. Ricardo.”

“Alan, kamu di mana? Segera kembali ke markas. Kita mau ada misi penting.”

“Saya bersama Jennifer. Ok, sir, saya segera ke sana.”

“Jenni, saya dapat telepon dari ayahmu. Kita disuruh kembali ke markas segera. Katanya ada misi penting.” Kata Alan lalu bersiap untuk pergi.

“Misi penting apa?” Tanya Jennifer.

“Saya tidak tahu persis. Ayo kita berangkat.”

 

Mereka pun segera melangkah ke arah parkir mobil untuk kembali ke markas. Mobilnya melaju kencang melewati rute yang sama ketika berangkat. Alan nampak fokus dengan kemudinya, sementara Jennifer sedang asyik bersama ponselnya. Saat melewati lampu merah, Alan mempunyai ide untuk menjawab komentar Jennifer tentang agama.

 

Dia berkata, “Jenni, bagaimana pendapatmu jika tidak ada lampu merah di perempatan jalan ini? Apakah lalu lintas akan semakin lancar atau semakin semrawut?”

 

Jennifer hanya menjawab dengan senyuman lalu asyik memainkan ponselnya kembali.

 

***

Bersambung…

[CERBUNG] AVENTURA – Bagian 2 – Terdampar di Carandiru Prison

Alan dijebloskan ke dalam penjara karena tuduhan kasus narkoba. Dia difitnah, dunia kriminal Brazil memang kejam. Sudah dianiaya, barang-barangnya dirampok, dijebloskan dalam penjara pula. Sementara penjara di Brazil begitu panas, padat dan mengerikan. Penjara itu bernama Carandiru Prison. Baru saja dia masuk, semua penghuni penjara berteriak bersahut-sahutan sambil memukul-mukul besi pintu sel penjara. Alan dilanda ketakutan luar biasa. Dia terus berjalan menyusuri lorong-lorong sel penjara. Dilihatnya para narapidana di Brazil posturnya besar-besar, kekar, dan berotot. Di sekujur tubuh mereka hampir dihiasi dengan tato-tato yang menyeramkan.

 

“Hey, pendatang baru, kemarilah. Kita bersenang-senang, hahaha.” Salah seorang berteriak mengolok-olok Alan.

“Orang mana kamu, kok beda dengan kami. Nikmatilah hidupmu di penjara Brazil. Hahaha.”

 

Semua penghuni penjara tertawa. Sepertinya mereka akan mendapatkan ‘santapan’ baru. Alan namanya. Dia mungkin akan menjadi bulan-bulanan bagi mereka. Alan tak habis pikir jalan hidupnya bisa tersesat di penjara Brazil. Di mana Leo, dialah biang kerok semua ini. Dia yang membuatnya menderita seperti ini. Kalau saja nanti bertemu, pasti Alan akan menghabisi Leo.

 

Alan ditempatkan di komplek sel khusus terdakwa narkoba. Kebetulan dia berada satu sel bersama bandar-bandar kakap narkoba. Ada Sergio, dia sangat menguasai bisnis ganja di Brazil, Antonio, sang pemilik pabrik ekstasi di Sao Paulo, dan Ricardo, bandar jaringan narkotika di Rio de Janeiro. Begitu Alan masuk, ketiga orang tersebut diam sambil memandang aneh sosok Alan.  Mungkin mereka baru pertama kali melihat wajah yang asing seperti Alan, selain itu postur tubuhnya juga terbilang kecil jika dibandingkan dengan orang-orang Brazil. Alan pun terdiam cemas sambil melayangkan senyum kecut kepada mereka.

 

“Hey, kamu siapa,” Tanya Antonio.

“Sa.. ya… Aaa.. lan.” Jawab Alan gugup.

“Dari mana asal kamu?”

“Hmm, saya dari Indonesia.”

“Apa kasus kamu, jauh-jauh dari Indonesia ke Brazil?” Kini giliran Sergio bertanya.

“Saya dituduh menjual ekstasi, padahal tidak.”

Mereka bertiga serentak tertawa mendengar kepolosan Alan.

“Hahaha, Brazil memang kejam bung, siapa saja bisa jadi korban.” Sahut Ricardo.

“Masuklah! kamu teman kami sekarang.” Ucap Sergio.

 

Alan pun merasa lega.

 

***

 

Suatu ketika Alan sedang mengantri untuk mengambil jatah makan siang. Sebagai penghuni baru, dia juga harus mengambilkan jatah makan untuk ketiga rekan satu selnya. Dia membawa tiga piring dalam dua tangan. Saat Alan sedang berjalan, tiba-tiba ada seorang narapidana yang usil terhadapnya. Dia pura-pura menabrak Alan sehingga piring-piring yang berisi makanan itu jatuh berantakan.

 

“Hey, kamu menumpahkan makanan saya!” Alan seketika marah.

Orang tersebut malah mendekati Alan, mencekik lehernya lalu mengancam.

“Kamu orang Asia jangan banyak tingkah di sini, bisa tamat riwayatmu. Kamu ingin mati, hah!”

 

Alan hanya bisa terdiam. Dia sebenarnya mau melawan, namun dia pikir percuma saja, dia bisa mati konyol nanti. Dia pun kembali ke kamar selnya dengan tangan hampa. Ricardo menanyakan dimana jatah makan siangnya. Lalu Alan pun menceritakan kronologis sebenarnya. Lalu dia bersama dua temannya segera mendatangi sang pelaku yang menabrak Alan itu. Ricardo yang mempelopori menghajar orang tersebut. Lalu diikuti oleh Antonio dan Sergio. Sang pelaku akhirnya babak belur, menyerah dan minta maaf karena tidak mengetahui bahwa makanan yang dibawa orang Indonesia itu adalah milik mereka.

 

***

 

Malam itu Alan tak bisa tidur. Dia sangat terganggu dengan suara-suara ribut dari para penghuni sel yang lain. Sungguh hidup di penjara sangat menjemukan baginya. Tiga temannya yang lain telah tertidur. Alan mengambil air wudhu ke toilet lalu mendirikan shalat di dalam penjara. Tak sengaja Sergio terbangun sejenak lalu melihat Alan yang menurutnya sedang melakukan gerakan-gerakan aneh.

 

“Hey, apa yang kamu lakukan,” Tanya Sergio agak terkejut.

“Saya sedang sembahyang, Sergio.” Jawab Alan.

“Sembahyang macam apa itu, kau bersujud kepada tembok?”

“Saya bukan bersujud pada tembok, saya bersujud pada Tuhanku.” Terang Alan.

“Hmm, ritual yang aneh.” Gumam Sergio lalu kembali tidur.

 

Keadaan kembali sunyi, pikiran Alan melayang jauh ke tanah kelahirannya di Indonesia. Dia teringat dengan keluarganya, mungkin mereka sangat khawatir dengan kondisi dirinya sekarang yang tak jelas kabar beritanya. Namun Alan tak bisa banyak berbuat, sel-sel jeruji besi membuatnya tersandera di negeri yang dikenal dengan hutan amazonnya itu. Sebenarnya Alan adalah seorang petualang sejati. Sewaktu masih sekolah, dia bersama teman-temannya hobi berpetualang ke berbagai kota besar seperti Yogyakarta, Bali, Lombok, dan lainnya, tanpa bekal sedikit pun. Dia dan teman-temannya hanya berbekal nekat. Ketika tak ada uang, dia punya cara jitu, yaitu mengamen di jalanan.

 

Jika berpetualang, biasanya Alan menggunakan mobil omprengan, seperti truk dan kontainer. Dia juga suka naik kereta api, tapi lagi-lagi dia tidak mau membayar untuk membeli tiket. Suatu ketika, Alan pernah ketahuan tak memiliki tiket. Dia pun langsung diusir dari kereta itu lalu disidang oleh petugas keamanan di stasiun. Dia kena denda dengan membayar dua kali lipat harga tiket. Tapi Alan dan teman-temannya tidak mau membayar. Bukan apa-apa, mereka memang tidak punya uang sepeser pun. Akhirnya para petugas stasiun pun terpaksa membebaskan anak-anak ingusan itu. Mereka nampak kesal sekali dengan perilaku Alan dan kawan-kawannya. Tapi kini, Alan tak menyangka jika petualangannya kali ini berakhir di penjara Brazil, jelas ini mimpi buruk baginya.

 

Saat Alan sedang dalam lamunan, tiba-tiba terdengar suara alarm yang sangat keras. Keadaan penjara menjadi gaduh. Ini tandanya penjara dalam keadaan darurat. Ketiga rekannya pun terbangun. Menurut Sergio, biasanya dalam kondisi seperti ini ada sejumlah napi yang melarikan diri keluar dari penjara. Para penghuni penjara pun berteriak bersahutan. Tak lama kemudian pintu-pintu sel penjara terbuka secara otomatis, semua penghuninya pun keluar berhamburan. Alan diajak Antonio, Sergio dan Ricardo untuk segera kabur dari tempat jahanam ini.

 

“Ayo, kawan, kamu ikuti kami. Kita akan segera bebas dari neraka ini.” Ajak Antonio.

 

Mereka berempat melewati lorong-lorong bawah tanah yang gelap gulita bersama sejumlah narapidana lain. Alan hanya bisa mengikuti rekan-rekannya itu. Sampai akhirnya mereka bisa keluar dari lorong-lorong itu dan bisa menghirup alam bebas. Di sana ternyata sudah menunggu sebuah mobil truk besar untuk membawa para narapidana yang kabur. Saat hendak memasuki mobil, tiba-tiba terdengar tembakan senjata mesin dari arah atas.

 

“Dooor… Dooor!”

 

Semuanya lari merunduk dan menghindar. Tapi naas, Sergio terkena tembakan di bagian kaki kirinya.

 

“Aaaah!”.

 

Dia terjatuh dan berteriak histeris. Untungnya Antonio dan Ricardo sigap langsung memapah Sergio ke arah mobil. Sementara berondongan senapan mesin masih mengincar mereka. Mobil truk itu pun segera melaju kencang, semakin lama semakin jauh meninggalkan penjara laknat itu.

 

***

Bersambung..