[CERBUNG] AVENTURA – Bagian 6 – Misi Pertama

Mission
Mission

Alan dan Jennifer tiba di markas Ricardo. Jennifer kembali ke kamarnya, sementara Alan segera berjalan menemui Ricardo. Ricardo dan komplotannya berada di lantai dua sedang melakukan perbincangan serius. Ricardo duduk di tengah memimpin komplotannya yang duduk mengitarinya. Beberapa saat kemudian, Alan pun muncul.

“Hey, Alan, duduklah, malam ini ada tugas untukmu.” Kata Ricardo sambil memainkan serutu di tangannya.

“Tugas apa, bos?” Tanya Alan lalu duduk bersama yang lainnya.

“Tugasmu hanya membawa sebuah barang ke sudut kota Rio. Lalu nanti kau melakukan transaksi dengan seseorang. Awas jangan sampai ketahuan polisi. Tapi jika polisi datang, segera kau melarikan diri. Nanti kita bertemu di suatu tempat.” Tutur Ricardo agak santai.

“Di mana transaksi itu?”

“Di Santo Cristo. Kamu akan ditemani oleh Robert.” Terangnya sambil menunjuk orang yang dimaksud.

“Ingat, kalau transaksi kamu diketahui polisi, maka kamu harus lolos dari kejaran mereka. Pokoknya berhasil atau pun tidak, kamu harus menemui saya di De Neiro.” Lanjut Ricardo.

Alan dilanda dilema. Dia menduga ini pasti transaksi narkoba. Ini adalah misi pertamanya. Bagaimana kalau misinya gagal. Dia pasti akan masuk penjara lagi. Sengsara seumur hidup di balik jeruji besi. Bahkan lebih parah lagi, dia bisa saja tertembak oleh pasukan polisi Rio. Ricardo menangkap gelagat tak tenang pada diri Alan. Dia memaklumi karena Alan memang anak baru dalam komplotannya.

“Tenanglah, Alan, yang kau bawa itu bukan narkoba.”

“Apa itu?”

“Nanti kamu akan tahu.”

Alan agak heran dengan penjelasan Ricardo. Namun setidaknya dia tidak akan membawa barang haram semacam heroin dan sejenisnya. Dia ingin lepas perlahan-lahan dari pekerjaan ini. Mumpung dirinya belum terlibat terlalu jauh.

“Apa kau siap?” Tanya Ricardo agak tegas.

“Ok, sir.”

 

***

Hari sudah malam. Tidak ada bintang-bintang yang terlihat di langit sana. Sepertinya cuaca sedang mendung. Di garasi sudah siap mobil Ferari 250 GTO yang dulu pernah dinaikinya. Alan mengecek keadaan mesin mobil itu. Terdengar suara mesin yang cukup halus. Dia lalu memainkan semua lampu-lampunya yang masih berfungsi dengan baik.

“Hi, buddy, gimana keadaan mobil ini?” Tanya Robert sambil meraba body mobil itu.

“Dia sedang on fire.” Canda Alan dengan masih memainkan gas mobil tersebut.

“Apa kau bisa mengemudikannya.” Robert menyindir Alan.

“Hey, kau jangan meremehkan saya, saya mantan pembalap professional, kawan.” Alan menjawab santai.

“Tepatnya pembalap jalanan.” Ledek Robert.

Robert mengangkat sebuah koper yang dimasukkan ke dalam bagasi. Lalu dia pun masuk ke dalam mobil dengan membawa beberapa peralatan senjata seperti pistol dan senapan mesin AK47.

Let’s go, buddy!” Ajak Robert bersemangat.

Mobil itu mulai berangkat perlahan meninggalkan pemukiman kumuh gangster narkoba. Alan kembali melewati gemerlapnya pusat kota Rio de Janeiro. Alan menginjak pedal gasnya sampai full. Mobilnya melesat kencang meninggalkan mobil-mobil lainnya.

Warna langit di malam itu terlihat semakin gelap. Beberapa kali terdengar suara petir menyambar-nyambar. Suasana alam pun menjadi kelam dan mencekam. Tetesan air hujan mulai jatuh satu per satu di kaca depan mobil yang dikemudikannya. Semakin lama hujan itu turun semakin deras. Jalanan pun menjadi basah dan licin. Adapun Alan masih fokus mengendalikan mobilnya.

Setelah menempuh waktu sekitar satu jam, akhirnya dia sampai di wilayah Santo Costa. Alan pun berhenti di sebuah tempat. Suasananya nampak sepi. Dia lalu menunggu rekan transaksi mereka. Sesuai dengan intruksi dari Ricardo. Sementara guyuran hujan turun semakin deras saja.

“Robert, mana rekan bisnis kita.” Tanya Alan sambil melihat lingkungan sekitar.

“Tunggu sebentar lagi, mereka akan datang.”

Tak lama kemudian, ada suara sirene mobil polisi yang masih terdengar samar-samar. Beberarapa saat kemudian, suara itu terdengar semakin jelas. Dari kejauhan, Alan melihat ada segerombolan mobil polisi yang mendekatinya.

“Oh, sial, bukan rekan kita yang datang. Tapi polisi yang datang.” Kata Alan segera memacu kendaraanya.

Alan mengemudikan mobil itu secepatnya. Dari arah belakang, terdengar suara tembakan yang mengarah pada mobilnya. Dia menghindari tembakan itu dengan cara mengemudikan zig-zag. Namun, tembakan itu datang bertubi-tubi dari berbagai  arah. Kaca mobil bagian belakang pun pecah. Sesekali Alan dan Robert merunduk untuk menghindari lesatan besi panas itu. Robert pun segera melakukan perlawanan dengan menembakkan berondongan senapan mesin AK47 miliknya. Ada satu mobil yang berusaha menghindar dari tembakan Robert, namun mobil itu terbalik karena menabrak badan jalan.

Mobil Ferrari itu melaju semakin cepat. Pasukan mobil polisi itu pun semakin tertinggal jauh. “Kemana mereka, apakah kita sudah aman, Robert?” Tanya Alan. Namun naas baginya, di depannya sudah menunggu segerombolan mobil polisi yang lain. Ada beberapa polisi berdiri menodongkan pistol ke arah Alan. Tak ada pilihan lain, Alan pun maju terus menerobos pasukan polisi itu lalu melewati trotoar jalan. Mereka semua menghindar tapi terus melakukan serangan ke arah mobil Alan. Kaca bagian depan pun pecah. Lalu tiba-tiba, sebuah peluru meluncur deras ke arah Robert.

“Dooorrr..!”

“Aaaaah…!”

Robert pun terkena tembakan di bagian lengan kanannya.

***

Bersambung

[CERBUNG] AVENTURA – Bagian 5 – Gelombang Fitnah

Alan berjalan memasuki sebuah kafe. Dia duduk di dekat jendela sambil memandang kendaraan yang berlalu-lalang. Seorang pelayan mendekatinya lalu menawarkan daftar menu makanan. Alan memesan satu paket stik kentang beserta kopi susu cream. Dia melihat sebuah majalah terbitan Universitas Federal yang tergeletak di atas meja. Dia pun segera mengambilnya lalu membaca beberapa halaman, Alan menemukan sebuah artikel yang cukup menarik perhatiannya. Artikel itu berjudul “Terorisme Atas Nama Agama” ditulis oleh Michele Johnson, seorang dosen di kampus tersebut.

 

Ia menulis, “Akhir-akhir ini saya kira hubungan dialog antar agama semakin hari semakin memburuk saja. Tidak ada lagi keharmonisan, tidak ada lagi kedamaian, semuanya diliputi dengan kekerasan, terror, dan peperangan. Sungguh sangat mengerikan. Dan tragedi yang paling dahsyat di abad ini adalah runtuhnya gedung World Trade Cantre (WTC) yang dilakukan oleh sekelompok teroris Arab.

 

Melihat sejarahnya di masa lalu, penyebaran agama orang Arab memang dilakukan dengan menghunus pedang. Memaklumatkan perang terhadap non Muslim manapun. Sebab memerangi non Muslim adalah sebuah kewajiban agama yang bernilai ibadah. Maka Islam kemudian mencatat kesuksesan setelah melakukan aksi-aksi militernya. Peningkatan angka komunitas Arab-Muslim merupakan kenyataan dari kemenangan perang dan pemaksaan warga penaklukan untuk mengikuti seruan Islam.

fitnah
fitnah

Pedang Islam berhasil menundukkan satu persatu penduduk yang menghuni wilayah Afrika dan Asia. Memang sejarah Islam adalah rentetan-rentetan menakutkan, penuh dengan adegan pertumpahan darah, perang, dan pembantaian. Muhammad menjanjikan mereka yang gugur dalam perang dengan kesenangan abadi. Muhammad memerintahkan kepada pengikutnya mengislamkan seluruh dunia dengan pedang.”

 

Alan cukup terkejut dengan artikel Michele Johnson. Naluri berpikir kritisnya kembali muncul. Bagaimana tidak, secara serampangan ia menuduh pelaku pemboman menara kembar WTC adalah teroris Arab. Karena dunia Arab adalah mayoritas Muslim, maka secara tidak langsung, Michele Johnson telah mengeneralisir bahwa kaum Muslim adalah teroris. Dia sangat tahu bahwa apa yang dikemukakan oleh penulis itu hanya fitnah besar. Alan adalah pemuda yang hobi membaca, dia telah mengamati berbagai artikel di media yang menganalisa tentang bom 911 yang menghancurkan gedung WTC. Benarkah Gedung WTC di New York hancur akibat hantaman pesawat? Apakah mungkin gedung yang disangga baja itu meleleh hanya karena api? Mengapa jet-jet tempur AS tidak mengudara? Siapa sesungguhnya dalang di balik Tragedi 11 September? Apa kepentingan Washington dan Pentagon? Apa kaitannya dengan kepentingan energi di beberapa dekade mendatang. Bagaimana nasib dunia Islam?

 

Alan mendengar banyak pendapat dari berbagai kalangan bahwa tragedy 911 adalah sebuah konspirasi jahat Amerika dan sekutunya. Di antara tokoh-tokoh yang menganalisa tragedi itu di antaranya, pertama, Prof Dr Morgan Reymonds (guru besar pada Texas University, USA) menyatakan ”Belum ada bangunan…baja…ambruk hanya… oleh kobaran api”. Kedua, Michael Meacher (mantan Menteri Lingkungan Inggris, 1997 – 2003) berpendapat ”…perang melawan terorisme dijadikan tabir kebohongan guna mencapai tujuan-tujuan strategis geopolitik AS”.

 

Ketiga,Prof Dr Steven E Jones (guru besar fisika pada Birgham Young University, USA) membeberkan hasil risetnya ”…bahan-bahan peledak telah diletakkan…di bangunan WTC”. Profesor Steven E. Jones dari Brigham Young University, Utah, yang melakukan penelitian dari sudut teori fisika mengatakan bahwa kehancuran dahsyat seperti yang dialami Twin Tower serta gedung WTC hanya mungkin terjadi karena bom-bom yang sudah dipasang pada bangunan-bangunan tersebut. Teori fisika Jones tersebut tentunya sangat bertentangan dengan hasil penelitian FEMA, NIST dan 9-11 Commision bahwa penyebab utama keruntuhan gedung-gedung tersebut adalah api akibat terjangan pesawat dengan bahan bakar penuh.

 

Pernyataan Michele Johnson yang mengatakan Islam disebarkan dengan pedang adalah kesimpulan yang berlebihan dan tidak bercermin pada sejarah. Alan pernah mendengar ceramah dari kyainya dulu di pesantren bahwa Allah tidak mensyariatkan jihad untuk melakukan islamisasi umat manusia. Sebab pemaksaan tidak akan pernah membangun sebuah keyakinan. “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang salah.” (QS. Al Baqarah: 256) Islam tidak pernah memaksa seseorang memeluk agama yang tidak diyakininya dan sangat menjamin kebebasan beragama. Jika benar tuduhan bahwa dalam penebarannya Islam menggunakan pedang, tentu tidak akan ditemukan istilah “jizyah” atau “dzimiyyun”.

 

Jizyah merupakan keharusan bagi non Muslim yang enggan memeluk Islam. Adanya jizyah tidak lain untuk kepentingan dan manfaat bersama seperti halnya kewajiban zakat yang dibebankan kepada kaum Muslim. Setelah menunaikan jizyah, mereka memiliki kebebasan penuh untuk melaksanakan ajaran agamanya masing-masing. Bahkan kata Nabi SAW, “Sesiapa yang menyakiti seorang dzimmi, ia akan berhadapan denganku.” (HR. al khathib) Sabda ini merupakan teks yang secara tegas menyatakan pelarangan terror terhadap non Muslim.

 

Sementara opini yang berkembang bahwa kaum Muslim mengggunakan pedang dalam proyek islamisasinya, bagi Alan, tidak lain sekedar isu murahan yang dijajakan para pembenci Islam. Dulu, penduduk Romawi tidak dihadapkan pada pilihan pedang atau Islam. Melainkan pada Islam atau jizyah. Langkah ini kemudian diadopsi oleh pemerintah Inggris di masa Ratu Elizabeth.

 

Di Indonesia, kita tidak pernah mendengar pasukan tentara Arab yang memaksa rakyat Indonesia masuk Islam. Demikian pula di China, Malaysia, India, dan lainnya. Padahal saat ini di sana, secara kuantitas umat Islam cukup banyak. Bahkan belakangan ini, Islam semakin tersebar ke Amerika dan Eropa, nah kita boleh bertanya tentara Muslim mana yang menyebarkan Islam dengan pedang ke Negara-negara itu. Karena dalam penyebarannya, Islam menggunakan pendekatan rasional dengan memaparkan bukti dan alasan riil. “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik.” (QS. Al Nahl: 125)

 

Saat sedang menyimak serius majalah itu, tiba-tiba ada seorang pria menghampiri Alan. Dengan tersenyum dia berkata, “Maaf, saya mau mengambil kembali majalah saya. Tadi tertinggal di sini.”

 

Seketika Alan kaget lalu memandang wajah pria tersebut.

“Oh, silakan. Apakah ini milikmu?” Kata Alan lalu segera menyerahkan majalah tersebut.

“Yup, thanks.”

Setelah mengambil majalahnya, pria itu pun berlalu pergi. Alan tak habis pikir, fitnah terhadap Islam ternyata sudah tersebar di mana-mana. Termasuk di negeri para mafia ini. Tak bisa dibiarkan, dia harus menanyakan hal ini kepada Jennifer. Apakah memang di kampusnya diajarkan paham kebencian kepada Islam. Tak lama kemudian, dari balik kaca terlihat Jennifer sedang berjalan ke arahnya.

 

“Hey, Alan. Sorry, aku agak lama ya?”

“Tak apa, Jenni.” Kata Alan. “Hmm, apakah kau tak mau minum dulu?”

“Yup, sepertinya aku sedang haus.” Ucap Jennifer lalu duduk di depan Alan.

 

Jennifer memanggil pelayan lalu memesan minuman Cocacola dan roti sandwich. Sementara Alan sedang asyik menikmati stik kentangnya.

 

Alan tidak mau menunda lama rasa penasarannya setelah membaca artikel dari majalah kampus itu. Dia ingin menanyakan langsung kepada Jennifer soal tuduhan-tuduhan yang sering dialamatkan kepada Islam.

 

“Jenni, apakah di kampusmu kerap kali ada diskusi tentang agama-agama?”

“Hmm, sepertinya iya. Tapi menurutku sih agama tidak terlalu penting. Kita hidup di dunia ini hanya sekali. So, nikmatilah hidup ini. Aku gak mau terkekang oleh agama.” Kata Jennifer dengan santai.

 

Dahi Alan berkerut sesaat. Alan cukup terperangah mendengar perkataan Jennifer. Ternyata gadis yang berada di depannya ini seorang yang anti agama. Sungguh sangat disayangkan. Padahal agama adalah petunjuk bagi umat manusia agar tidak tersesat dalam mengarungi kehidupan, sekaligus juga sebagai sarana meraih kebahagiaan di dunia dan hari nanti.

 

“Jenni, aku adalah seorang beragama, namun aku tidak merasa terkekang.” Kata Alan dengan menatap serius wajah Jennifer.

“Benarkah? Ku kira dengan beragama kita harus menaati berbagai aturan yang sangat mengganggu waktuku. Seperti gak boleh ini, gak boleh itu, harus begini dan harus begitu. Sungguh sangat membosankan.” Sahut Jenni enteng lalu menyeruput Cocacola yang berada di depannya.

 

Alan harus berpikir keras, bagaimana seharusnya menjawab komentar Jennifer. Dia harus berusaha menahan emosi, jangan sampai perkataannya semakin kacau. Untuk orang yang masih belum mengenal agama seperti Jennifer, dia memang harus lebih bersabar untuk membimbingnya secara bertahap. Baru saja ingin menjawab pendapat Jennifer, Alan mendapat panggilan telepon dari Ricardo.

 

“Hello, Mr. Ricardo.”

“Alan, kamu di mana? Segera kembali ke markas. Kita mau ada misi penting.”

“Saya bersama Jennifer. Ok, sir, saya segera ke sana.”

“Jenni, saya dapat telepon dari ayahmu. Kita disuruh kembali ke markas segera. Katanya ada misi penting.” Kata Alan lalu bersiap untuk pergi.

“Misi penting apa?” Tanya Jennifer.

“Saya tidak tahu persis. Ayo kita berangkat.”

 

Mereka pun segera melangkah ke arah parkir mobil untuk kembali ke markas. Mobilnya melaju kencang melewati rute yang sama ketika berangkat. Alan nampak fokus dengan kemudinya, sementara Jennifer sedang asyik bersama ponselnya. Saat melewati lampu merah, Alan mempunyai ide untuk menjawab komentar Jennifer tentang agama.

 

Dia berkata, “Jenni, bagaimana pendapatmu jika tidak ada lampu merah di perempatan jalan ini? Apakah lalu lintas akan semakin lancar atau semakin semrawut?”

 

Jennifer hanya menjawab dengan senyuman lalu asyik memainkan ponselnya kembali.

 

***

Bersambung…

[CERBUNG] AVENTURA – Bagian 4 – Aksi Kejar-kejaran di Kota Rio de Janeiro

Alan duduk santai di kursi kamar lalu menyalakan televisi. Dia mencari chanel berita berbahasa Inggris. Setelah beberapa saat berpindah-pindah chanel, dia pun menemukan acara berita pagi berbahasa Inggris di stasiun CNN. Dalam berita itu ada informasi menarik mengenai penangkapan gembong narkoba di Sao Paulo yang memakan puluhan korban jiwa. Dalam penyergapan itu, petugas berhasil menangkap 30 orang, 5 di antaranya adalah polisi, dan 2 dari 5 polisi itu termasuk petinggi polisi yang ada di Sao Paulo. Dalam penggrebekan itu memakan 15 korban jiwa. Informasi ini sangat mengerikan bagi Alan. Bagaimana jika penggrebekan itu terjadi di rumah ini? Mungkin dia bisa mati konyol.

 

Telepon rumah di kamar Alan berdering. Dia segera mengangkatnya. Ricardo menyuruhnya untuk turun ke lantai satu. Ada beberapa hal yang akan dibicarakan oleh komplotan narkoba tersebut. Alan pun segera turun. Di sana telah menunggu Ricardo, Sergio, Antonio, Robert dan komplotannya yang lain.

 

To the point, tadi malam saya dapat kabar bahwa kawan kita di Sao Paulo telah dihabisi oleh polisi setempat.” Kata Ricardo.

“Oh, ya?” Tanya Antonio penasaran.

“Kekalahan mereka disebabkan jumlah polisi yang menyerbu sangat banyak. Dengan senjata yang lengkap pula. Ini harus menjadi perhatian serius buat kita semua.”

 

Alan menyimak serius pembicaraan Ricardo. Dia tak menyangka jika gembong narkoba yang diberitakan di televisi itu adalah teman Ricardo. Ini sungguh bahaya. Pasti dalam waktu dekat ini, polisi juga akan menyerbu markas Ricardo. Itu artinya, dirinya juga akan menjadi korban.

 

“Saya baca berita itu di televisi tadi pagi, Mr. Ricardo. 15 orang yang meninggal” Ucap Alan ikut dalam pembicaraan.

“Tapi jangan khawatir, daerah kita di sini sangat kuat. Kalau ada yang macam-macam ke sini kita habisi mereka.” Ujar Sergio.

“Yeah, polisi Rio de Janeiro tidak dapat berbuat banyak di sini.” Kata Robert.

 

Beberapa saat kemudian, Jennifer muncul kemudian mendekati ayahnya.

“Ayah, bisakah kau temani aku ke kampus?” Ujar Jennifer.

“Ayah sedang sibuk, sayang.”

“Ayolah, ayah.” Desaknya dengan suara manja.

“Hmm, kamu, Alan, bisa temani anakku ke kampus?”

 

Alan kelihatan gugup. Dia agak grogi untuk menemani gadis cantik seperti Jennifer. Apalagi dia belum terlalu akrab dengan putri Ricardo itu. Dia khawatir Jennifer masih marah akibat kejadian di kolam renang tadi.

 

“Alan….” Ricardo kembali memanggil Alan.

“Ok, Mr. Ricardo.” Jawab Alan agak gugup.

“Bagus, jaga Jennifer baik-baik. Pakai saja mobilku yang di parkiran depan itu.”

Yup, Thanks sir.” Jawab Alan.

 

Alan pun berlalu bersama Jennifer. Mereka berdua berjalan keluar lalu segera menuju tempat parkiran. Di sana terdapat berbagai koleksi mobil milik Ricardo, di antaranya ada mobil Toyota Camry 2012, warnanya hitam mengkilap, ada Chevrolet Silverado 2500 HD berwarna silver dengan style yang gagah, ada pula Ferrari 250 GTO yang desain modern ala mobil balap. Mobil yang terakhir itu pernah dinaiki Alan ketika kabur dari penjara.

 

“Kamu mau naik mobil yang mana, Jenni? Banyak sekali mobil di sini.” Kata Alan takjub.

“Kita naik Chevrolet yang warna silver itu, I like it.”

“Ok.” Kata Alan sembari berjalan menuju mobil tersebut.

 

***

 

Mobil itu bergerak cepat melewati jalan José Higino menuju Extra-Maracanã Mall. Kata Jennifer, tempat itu adalah fashion mall yang banyak sekali menyediakan mode baju terbaru. Harganya juga terbilang elit, mungkin hanya bisa dijangkau oleh masyarakat menengah ke atas. Di saat Arif sedang asyik menyetir, seketika Jennifer bertanya.

 

By the way, kenapa kamu bisa sampai di Brazil, Alan?”

 

“Hmm, awalnya saya ditawari pekerjaan oleh kawan saya di kota ini. Namanya Leo. Dia bisa dibilang sudah sukses hidup di Brazil. So, saya memberanikan diri datang ke kota ini. Dia janji bakal menemui saya kalau sudah sampai di Rio.

“So, terus?” Jennifer agak penasaran.

 

“Ketika saya sudah sampai di kota ini, kawan saya ini tak bisa dihubungi. Ponselnya tak aktif. Lalu saya terdampar di terminal Rio.  Sampai akhirnya saya dirampok. Barang-barang dan uang saya habis dibawa kabur. Tak hanya itu, saya pun dituduh menjual ekstasi. Padahal itu ulah si perampok menaruh ekstasi di tas saya.” Terang Alan cukup serius.

 

“Bagaimana kamu bisa bertemu dengan ayah saya?” Jennifer kembali bertanya.

“Di penjara, saya satu sel dengan dia.”

Oh my God, what a pity you are.” Jennifer menyindir Alan.

“It’s just my adventure, Jenni. I’m happy.”

“Yeaaah… Aventura…” Ucap Jenni.

“Apa itu Aventura?” Tanya Alan.

“Aventura itu bahasa kami. It means adventure.” Jelas Jennifer.

“Hmm.”

 

Alan pun mengangguk mengerti. Lalu keduanya terdiam dalam lamunan masing-masing. Saat itu, mobil yang dikemudikan Alan melaju kencang melewati sebuah perempatan yang memiliki rambu lampu merah. Saat mobilnya melintas, lampu itu masih dalam keadaan hijau, namun ketika baru melewati garis batas sedikit saja lampu sudah berubah berwarna merah. Karena tanggung, Alan pun meneruskan laju mobilnya semakin cepat. Di pinggir jalan terlihat ada polisi lalu lintas memberi sinyal bahwa mobilnya ditilang. Namun Alan tak menghiraukan itu lalu berlalu begitu saja. Polisi lalu lintas itu segera mengejar mobilnya.

 

Oh, shit! Kita mendapat masalah baru.” Kata Jennifer.

 

Alan pun menginjak pedal gasnya lebih kencang. Dia menyalip sejumlah mobil agar bisa lolos dari kejaran polisi. Suara sirene terdengar sangat keras di belakangnya. Alan berbelok ke arah jalan yang lebih sepi. Namun mobil polisi itu masih mengikutinya, malah semakin lama semakin banyak.

 

Come on, Alan, kita menangkan permainan ini!” Jennifer memotivasi.

“Permainan?! Ini gawat Jenni.” Gumamnya menggerutu.

 

Alan pun jadi tertantang ingin membuktikan bakat balapnya kembali. Ketika di Bandung, Alan adalah langganan masuk podium dalam kompetisi balapan liar. Dan saat ini, dia harus menguji skillnya di kota Rio de Janeiro. Alan membawa mobilnya kembali ke jalan raya yang cukup ramai. Mobilnya berbelok dan menyalip layaknya sedang bermain racing car di playstation 3. Dia pun mulai menikmati permainan ini. Sampai akhirnya Alan melihat ada barisan parkir mobil di pinggir jalan. Dilihatnya ada satu ruang kosong di antara mobil-mobil itu yang kelihatannya cukup untuk satu mobil. Alan pun langsung mengerem mendadak sambil berputar masuk ke dalam satu ruang kosong itu. Mobilnya terlihat diam seperti mobil-mobil yang sedang parkir lainnya. Iringan mobil patroli polisi itu berlalu begitu saja. Sepertinya mereka kehilangan jejak mobil Alan.

 

That’s cool, Alan.” ucap Jennifer kagum dengan aksi Alan.

I beat you.” Kata Alan meluapkan kemenangannya.

 

Keduanya pun tertawa bersama. Setelah melihat keadaan sudah aman, Alan dan Jennifer melanjutkan perjalanan mereka ke kampus Jennifer. Jennifer menyuruh Alan untuk mengganti plat nomor mobil yang bisa diubah secara otomatis agar tidak lagi dideteksi oleh polisi lalu lintas itu. Mobil Chevrolet milik Ricardo sungguh keren.

 

“Hey, apakah kamu tahu di mana komunitas orang Asia di Rio.” Tanya Alan meneruskan obrolannya.

“Hmm, di mana ya? Oh ya, saya pernah mengunjungi satu tempat di Givea. Di sana banyak orang Asia. Ada dari China dan Jepang. Tapi ada juga dari mereka berwajah Arab.” Jawab Jennifer.

“Oh, ya?”

“Para lelakinya biasanya berjenggot, sementara wanitanya memakai jubah. Mereka menutupi semua tubuhnya kecuali kedua telapak tangan dan wajahnya.”

 

Alan akhirnya mendapat kabar gembira. Di tengah negeri antah-berantah ini masih ada komunitas Muslim yang bisa bertahan. Mudah-mudahan suatu saat nanti Alan bisa bertemu dengan mereka.

“Baiklah Alan, kita hampir sampai di Universitas Federal do Rio de Janeiro. Pelanlah kita akan berbelok lalu masuk ke dalam.” Kata Jennifer.

“Baik, Nyonya Jennifer.” Jawab Alan sedikit bercanda.

Mobil itu berhenti di tempat parkir kampus.

 

Universitas Federal do Rio de Janeiro adalah salah satu universitas federal terbesar di Brasil, di mana perguruan tinggi negeri mayoritas terdiri dari lembaga-lembaga terbaik dan paling berkualitas. Universitas ini pertama kali didirikan pada tanggal 7 September, 1920 oleh Presiden Epitácio Pessoa. Awalnya Universitas ini bernama Universidade do Rio de Janeiro. Ia kemudian diganti sebagai Universidade do Brasil, pada tanggal 5 Juli 1937. Pada tanggal 17 Desember 1945, Universitas mencapai status otonomi penuh di bawah Brasil Departemen Pendidikan . Pada tahun 1965 itu diubah namanya menjadi Universitas Federal Rio de Janeiro.

 

“Alan, apakah kau tidak ingin ikut masuk?” Ajak Jennifer sambil membuka pintu mobilnya.

“Oh, ku kira tak usah Jenni. Lebih baik aku menunggu di luar saja.” Kata Alan dengan masih memegang stir mobil.

“Hmm, baiklah. Lebih baik kamu menunggu di kafe sebelah sana.” Kata Jennifer menunjuk suatu tempat. “Aku akan kembali secepatnya jika urusanku selesai.”

“Ok, berapa lama, Jenni?”

“Ya, sekitar setengah jam-an.”

“Baik, aku menunggumu di kafe ya.”

“See you soon.”

Jennifer pun bergegas berlalu memasuki sebuah ruangan di kampus universitas Federal do Rio de janeiro.

 

***

Bersambung..

[CERBUNG] AVENTURA – Bagian 3 – Terperangkap Mafia Narkoba

Setelah melewati perjalanan yang cukup jauh, mobil truk besar itu berhenti di pinggir Teluk Guanabara. Semua penumpang turun satu-persatu. Sementara Sergio berjalan terpincang-pincang. Dia cukup banyak kehilangan darah. Di sampingnya telah menunggu sebuah mobil Ferrari 250 GTO berwarna merah cerah. Ada seorang pria berjaket hitam tinggi besar menyambut ketiga bandar kakap narkoba itu.

 

“Semua berjalan sesuai rencana bos.”

“Bodoh kamu! Misimu tak sempurna, lihatlah satu kawanku tertembak.” Jawab Ricardo.

“Sorry bos, itu di luar dugaan. Kami tak tau kalau masih ada penjaga yang belum dilumpuhkan. Ok, nanti saya urus kawan bos itu.”

“Ah, sudah jangan banyak ngomong! Ayo kita pergi dari sini. Hey, Alan, ayo kamu juga ikut dengan kami.” Ajak Ricardo.

 

Bagi Ricardo, Alan adalah prospek yang besar bagi bisnis narkobanya ke depan. Dia bisa melebarkan kekuasaannya hingga ke Indonesia. Apalagi Indonesia termasuk dalam negara teratas dalam bisnis barang haram ini.

 

“Sorry, Ricardo, sepertinya sayaaa….” ucap Alan seperti hendak menolak.

Come on Arif, memang kamu mau pergi kemana. Mau jadi gelandangan di Brazil. Negeri ini keras kawan. Lebih baik kamu ikut kami.”

 

Alan terdiam sejenak berpikir. Dia melihat kondisi dirinya sekarang semakin tak jelas, dia sebenarnya mau mencari temannya, Leo, tapi dia tak tahu di mana temannya itu sekarang. Sedangkan saat ini dia tak memiliki apapun, semua barang dalam tasnya telah raib dirampok. Alan pun terpengaruh oleh bujuk rayu Ricardo. Akhirnya dia memutuskan untuk ikut bersama gerombolan pengedar itu.

 

“Baiklah Ricardo, saya ikut bersama kalian.”

 

Alam masih gelap. Mobil itu mulai melewati panjangnya jembatan Rio-Niteroi Bridge. Panoramanya cukup indah dengan titik-titik cahaya kecil terlihat dari kejauhan. Mobil itu menembus keramaian Kota Rio de Janeiro. Dunia malam kota ini begitu mengerikan. Sepanjang perjalanan Alan menyaksikan beberapa insiden peperangan yang terjadi di jalanan kota. Mereka perang bukan lagi menggunakan batu atau pun kayu, tapi mereka terlihat membawa senapan laras panjang dan pistol. Mereka adalah para gengster yang berperang dengan geng lainnya, atau pun antara gengster dengan polisi Rio de Janeiro. Ya, polisi di Brazil memang harus bekerja lebih keras, bahkan nyawa menjadi taruhannya. Alan jadi berpikir, betapapun banyaknya kejahatan di Indonesia, tapi masih tidak terlalu parah seperti yang terjadi di Brazil.

 

Mereka akhirnya tiba di salah satu pemukiman kumuh di pinggiran Rio De janeiro. Para warga menyambut gembira begitu melihat kedatangan tiga gembong narkoba itu. Mereka mengelu-elukan Sergio, Antonio, dan Ricardo yang telah lama meninggalkan daerah ini.

 

“Estou de voltatempo de vingançaaaaaa!”[1] Ricardo berteriak menyambut pengikutnya.

“Yeaaaah! Waktunya pembalasan!” Semua orang pun berteriak, bergemuruh sambil mengacung-acungkan senjata mereka. Semua orang mendekati mereka bertiga untuk memberi selamat.

Hey, Ricardo, o que você está?”[2] Tanya seorang berkulit hitam berambut gondrong.

“Como eu estava fazendo o bem, hahaha.”[3]

“Hey, siapa di sampingmu itu?”

“Oh, dia orang Indonesia, Alan namanya. Dia kawan kita sekarang.”

“Hai buddy, kenalkan saya Robert.” Orang itu mengenalkan dirinya.

“Saya Alan, senang mengenalmu, Robert.” Ujar Alan dengan sedikit tersenyum.

 

Alan mengira pemukiman kumuh ini mungkin memang markas bagi para gengster narkoba. Semua warga satu suara menyambut senang datangnya begundal narkoba seperti Sergio, Antonio, dan Ricardo. Ini gila bagi Alan. Bagaimana mungkin semua orang dalam satu pemukiman menyetujui bisnis gelap ini. Tapi ini Brazil bung, semuanya bisa saja terjadi.

 

Di tengah pemukiman kumuh itu ada sebuah rumah besar yang cukup megah. Rumah itu dikelilingi oleh pagar besi yang kokoh. Alan diajak masuk ke dalam rumah tersebut. Rumah itu memiliki tiga lantai. Di lantai satu terlihat seperti rumah biasa, hanya ada barang-barang property seperti kursi, TV, meja, dan semacamnya. Tapi ternyata rumah itu memiliki lantai bawah tanah. Alan melihat Ricardo dan komplotannya turun ke tangga bawah tanah. Alan tak ikut masuk ke dalam ruang rahasia itu. Sepertinya ruangan bawah tanah itu adalah gudang narkoba yang mereka miliki.

 

Saat Alan sedang duduk di kursi sofa depan, dia melihat seorang gadis cantik masuk ke dalam rumah tersebut. Namanya Jennifer. Dia memiliki wajah cantik khas Amerika Latin, putih dan tinggi semampai. Dia berlalu begitu saja melewati Alan. Namun karena Jennifer baru melihat sosok Alan, apalagi wajahnya tidak seperti orang Brazil pada umumnya. Dia pun berbalik menyapa Alan.

 

“Hey, kamu siapa?”

“Hmm, saya Alan, rekannya Mr. Ricardo.” Jawab Arif mencoba tenang.

“Oh ya, Dia ayahku.”

“Ok. Aku mau ke atas dulu. Bye…”

“Eh, siapa namamu?” Tanya Alan.

“Jennifer.” Jawabnya sambil berlalu.

 

***

 

Mentari mulai muncul di langit Brazil. Cahayanya yang menguning indah menembus masuk ke dalam kaca-kaca di rumah besar milik Ricardo.  Alan menikmati pemandangan indah itu dari balik jendela yang berada di lantai tiga. Dia sudah menunggu mentari itu dari semenjak subuh. Sentuhan hangatnya tak jauh beda dengan matahari yang ada di Indonesia. Maklum, keduanya sama-sama memiliki iklim tropis. Lalu Alan kembali merenung sejenak mengenai jalan hidupnya saat ini. Apakah dia sanggup mempertahankan idealismenya di negeri penuh dengan aksi kriminal ini. Dia sangat khawatir dirinya akan terseret masuk bersama komplotan Ricardo. Mungkinkah dirinya akan menjadi pecandu, bahkan pengedar? Ya, sangat mungkin. Kalau benar itu terjadi, itu adalah bencana besar dalam hidupnya.

 

Dia lalu teringat kembali dengan keluarganya di Indonesia, tepatnya di daerah Bandung. Bagaimana keadaan mereka sekarang. Siapakah yang membiayai adik-adiknya sekolah. Padahal dirinyalah seharusnya menjadi tumpuan harapan keluarga. Dialah anak laki-laki paling besar dalam keluarganya. Sementara ayahnya telah meninggal beberapa tahun yang lalu.

 

Dulu, Alan kerap kali tidak menuruti kemauan ayahnya. Dia pernah disuruh ayahnya untuk masuk ke pondok pesantren, namun Alan menolak. Dia tak begitu suka dengan dunia santri, dia menginginkan hidup bebas. Alan juga sering memakai mobil ayahnya tanpa izin. Parahnya, mobil ayahnya itu digunakan untuk adu balap atau trek-trekan bersama teman-temannya. Biasanya ajang balapan ini dilakukan di waktu tengah malam ketika jalanan sudah sepi dari kendaraan. Sering pula mobil ayahnya itu mengalami lecet gara-gara insiden kecil dalam balapan. Kalau sudah begitu, Alan akan diceramahi habis-habisan oleh sang ayah di rumah.

 

Namun kini, ayahnya telah tiada. Alan ingat betul ketika dia menyaksikan detik-detik menjelang ayahnya meninggal. Dia duduk di samping ayahnya sambil melantunkan do’a agar ayahnya cepat sembuh. Dalam keadaan seperti itu, ayahnya pernah berpesan kepadanya untuk menyempatkan diri masuk pondok pesantren, meski cuma sebentar. “Ini untuk kebaikanmu sendiri, Alan. Ayah sangat sayang padamu.” Ucap ayahnya pelan saat itu. Kali ini, Alan menuruti keinginan ayahnya itu. Dia berjanji akan masuk ke pondok pesantren. Tak berapa lama kemudian, ayahnya pun meninggal. Alan pun menepati janji kepada ayahnya itu. Dia menjadi seorang santri, walaupun hanya enam bulan lamanya.

 

Alan terhenyak dari lamunannya. Dia berjalan keluar untuk menghirup udara segar. Di samping kamar itu ada kolam renang yang cukup luas. Airnya terlihat jernih kebiru-biruan. Dia menyentuh air itu perlahan-lahan. Air itu masih cukup dingin. Lalu dari arah belakang tiba-tiba ada yang menyapanya.

 

“Hey, Alan, ayo kita berenang.” Jeniffer berjalan menghampiri Alan dengan hanya mengenakan pakaian renang yang minim.

 

Alan seketika terkejut melihat pemandangan itu. Dia lalu memalingkan wajahnya ke arah lain. Jennifer pun bingung dengan tingkah Alan.

 

“Kenapa kamu? Apakah saya seperti hantu?”

“Oh, tidak, jelas kamu manusia Jenni, bahkan kamu manusia yang sangat cantik. Tapi orang Indonesia tidak terbiasa melihat pakaian seperti yang kamu pakai itu.”

“Oh ya? So, what’s wrong?” Tanya Jennifer penasaran.

“Wanita Indonesia terbiasa memakai pakaian yang rapi dan tertutup.” Kata Alan menjelaskan.

“Oh, kalau budaya di Brazil memang seperti ini. Ini sangat biasa dan tak ada yang aneh.”

“Baiklah, saya masuk kamar dulu, Jenni.” Alan menghindar pergi.

“Hmm, budaya yang aneh.” Gumam Jennifer dalam hati.

 

***

Bersambung…

[CERBUNG] AVENTURA – Bagian 2 – Terdampar di Carandiru Prison

Alan dijebloskan ke dalam penjara karena tuduhan kasus narkoba. Dia difitnah, dunia kriminal Brazil memang kejam. Sudah dianiaya, barang-barangnya dirampok, dijebloskan dalam penjara pula. Sementara penjara di Brazil begitu panas, padat dan mengerikan. Penjara itu bernama Carandiru Prison. Baru saja dia masuk, semua penghuni penjara berteriak bersahut-sahutan sambil memukul-mukul besi pintu sel penjara. Alan dilanda ketakutan luar biasa. Dia terus berjalan menyusuri lorong-lorong sel penjara. Dilihatnya para narapidana di Brazil posturnya besar-besar, kekar, dan berotot. Di sekujur tubuh mereka hampir dihiasi dengan tato-tato yang menyeramkan.

 

“Hey, pendatang baru, kemarilah. Kita bersenang-senang, hahaha.” Salah seorang berteriak mengolok-olok Alan.

“Orang mana kamu, kok beda dengan kami. Nikmatilah hidupmu di penjara Brazil. Hahaha.”

 

Semua penghuni penjara tertawa. Sepertinya mereka akan mendapatkan ‘santapan’ baru. Alan namanya. Dia mungkin akan menjadi bulan-bulanan bagi mereka. Alan tak habis pikir jalan hidupnya bisa tersesat di penjara Brazil. Di mana Leo, dialah biang kerok semua ini. Dia yang membuatnya menderita seperti ini. Kalau saja nanti bertemu, pasti Alan akan menghabisi Leo.

 

Alan ditempatkan di komplek sel khusus terdakwa narkoba. Kebetulan dia berada satu sel bersama bandar-bandar kakap narkoba. Ada Sergio, dia sangat menguasai bisnis ganja di Brazil, Antonio, sang pemilik pabrik ekstasi di Sao Paulo, dan Ricardo, bandar jaringan narkotika di Rio de Janeiro. Begitu Alan masuk, ketiga orang tersebut diam sambil memandang aneh sosok Alan.  Mungkin mereka baru pertama kali melihat wajah yang asing seperti Alan, selain itu postur tubuhnya juga terbilang kecil jika dibandingkan dengan orang-orang Brazil. Alan pun terdiam cemas sambil melayangkan senyum kecut kepada mereka.

 

“Hey, kamu siapa,” Tanya Antonio.

“Sa.. ya… Aaa.. lan.” Jawab Alan gugup.

“Dari mana asal kamu?”

“Hmm, saya dari Indonesia.”

“Apa kasus kamu, jauh-jauh dari Indonesia ke Brazil?” Kini giliran Sergio bertanya.

“Saya dituduh menjual ekstasi, padahal tidak.”

Mereka bertiga serentak tertawa mendengar kepolosan Alan.

“Hahaha, Brazil memang kejam bung, siapa saja bisa jadi korban.” Sahut Ricardo.

“Masuklah! kamu teman kami sekarang.” Ucap Sergio.

 

Alan pun merasa lega.

 

***

 

Suatu ketika Alan sedang mengantri untuk mengambil jatah makan siang. Sebagai penghuni baru, dia juga harus mengambilkan jatah makan untuk ketiga rekan satu selnya. Dia membawa tiga piring dalam dua tangan. Saat Alan sedang berjalan, tiba-tiba ada seorang narapidana yang usil terhadapnya. Dia pura-pura menabrak Alan sehingga piring-piring yang berisi makanan itu jatuh berantakan.

 

“Hey, kamu menumpahkan makanan saya!” Alan seketika marah.

Orang tersebut malah mendekati Alan, mencekik lehernya lalu mengancam.

“Kamu orang Asia jangan banyak tingkah di sini, bisa tamat riwayatmu. Kamu ingin mati, hah!”

 

Alan hanya bisa terdiam. Dia sebenarnya mau melawan, namun dia pikir percuma saja, dia bisa mati konyol nanti. Dia pun kembali ke kamar selnya dengan tangan hampa. Ricardo menanyakan dimana jatah makan siangnya. Lalu Alan pun menceritakan kronologis sebenarnya. Lalu dia bersama dua temannya segera mendatangi sang pelaku yang menabrak Alan itu. Ricardo yang mempelopori menghajar orang tersebut. Lalu diikuti oleh Antonio dan Sergio. Sang pelaku akhirnya babak belur, menyerah dan minta maaf karena tidak mengetahui bahwa makanan yang dibawa orang Indonesia itu adalah milik mereka.

 

***

 

Malam itu Alan tak bisa tidur. Dia sangat terganggu dengan suara-suara ribut dari para penghuni sel yang lain. Sungguh hidup di penjara sangat menjemukan baginya. Tiga temannya yang lain telah tertidur. Alan mengambil air wudhu ke toilet lalu mendirikan shalat di dalam penjara. Tak sengaja Sergio terbangun sejenak lalu melihat Alan yang menurutnya sedang melakukan gerakan-gerakan aneh.

 

“Hey, apa yang kamu lakukan,” Tanya Sergio agak terkejut.

“Saya sedang sembahyang, Sergio.” Jawab Alan.

“Sembahyang macam apa itu, kau bersujud kepada tembok?”

“Saya bukan bersujud pada tembok, saya bersujud pada Tuhanku.” Terang Alan.

“Hmm, ritual yang aneh.” Gumam Sergio lalu kembali tidur.

 

Keadaan kembali sunyi, pikiran Alan melayang jauh ke tanah kelahirannya di Indonesia. Dia teringat dengan keluarganya, mungkin mereka sangat khawatir dengan kondisi dirinya sekarang yang tak jelas kabar beritanya. Namun Alan tak bisa banyak berbuat, sel-sel jeruji besi membuatnya tersandera di negeri yang dikenal dengan hutan amazonnya itu. Sebenarnya Alan adalah seorang petualang sejati. Sewaktu masih sekolah, dia bersama teman-temannya hobi berpetualang ke berbagai kota besar seperti Yogyakarta, Bali, Lombok, dan lainnya, tanpa bekal sedikit pun. Dia dan teman-temannya hanya berbekal nekat. Ketika tak ada uang, dia punya cara jitu, yaitu mengamen di jalanan.

 

Jika berpetualang, biasanya Alan menggunakan mobil omprengan, seperti truk dan kontainer. Dia juga suka naik kereta api, tapi lagi-lagi dia tidak mau membayar untuk membeli tiket. Suatu ketika, Alan pernah ketahuan tak memiliki tiket. Dia pun langsung diusir dari kereta itu lalu disidang oleh petugas keamanan di stasiun. Dia kena denda dengan membayar dua kali lipat harga tiket. Tapi Alan dan teman-temannya tidak mau membayar. Bukan apa-apa, mereka memang tidak punya uang sepeser pun. Akhirnya para petugas stasiun pun terpaksa membebaskan anak-anak ingusan itu. Mereka nampak kesal sekali dengan perilaku Alan dan kawan-kawannya. Tapi kini, Alan tak menyangka jika petualangannya kali ini berakhir di penjara Brazil, jelas ini mimpi buruk baginya.

 

Saat Alan sedang dalam lamunan, tiba-tiba terdengar suara alarm yang sangat keras. Keadaan penjara menjadi gaduh. Ini tandanya penjara dalam keadaan darurat. Ketiga rekannya pun terbangun. Menurut Sergio, biasanya dalam kondisi seperti ini ada sejumlah napi yang melarikan diri keluar dari penjara. Para penghuni penjara pun berteriak bersahutan. Tak lama kemudian pintu-pintu sel penjara terbuka secara otomatis, semua penghuninya pun keluar berhamburan. Alan diajak Antonio, Sergio dan Ricardo untuk segera kabur dari tempat jahanam ini.

 

“Ayo, kawan, kamu ikuti kami. Kita akan segera bebas dari neraka ini.” Ajak Antonio.

 

Mereka berempat melewati lorong-lorong bawah tanah yang gelap gulita bersama sejumlah narapidana lain. Alan hanya bisa mengikuti rekan-rekannya itu. Sampai akhirnya mereka bisa keluar dari lorong-lorong itu dan bisa menghirup alam bebas. Di sana ternyata sudah menunggu sebuah mobil truk besar untuk membawa para narapidana yang kabur. Saat hendak memasuki mobil, tiba-tiba terdengar tembakan senjata mesin dari arah atas.

 

“Dooor… Dooor!”

 

Semuanya lari merunduk dan menghindar. Tapi naas, Sergio terkena tembakan di bagian kaki kirinya.

 

“Aaaah!”.

 

Dia terjatuh dan berteriak histeris. Untungnya Antonio dan Ricardo sigap langsung memapah Sergio ke arah mobil. Sementara berondongan senapan mesin masih mengincar mereka. Mobil truk itu pun segera melaju kencang, semakin lama semakin jauh meninggalkan penjara laknat itu.

 

***

Bersambung..