[Mengatasi Hambatan Menulis] Sediakan Tumbal : Sekarung COKLAT!

Oleh: Rahma Damayanty Rivai

“Konon kabar, kata seorang paranormal, Jembatan Kutai Kertanegara ambruk karena tiada tumbal kepala kerbau. Nah, mungkin tulisan-tulisan anda mengalami hambatan, karena tak menyediakan tumbal sekarung coklat…“(kata paratidaknormal)

Pertama. Apakah aku pantas menulis tentang ini?

Sedangkan banyak draft-draft tulisanku terbengkalai. Tak berjudul. Tak beralur yang indah. Tak bertenaga. Tak ada akhir yang disiapkan. Tak ada tokoh yang sekuat Ikal dan Arai di Laskar Pelangi.

Apa yang ku miliki untuk menulis? Hanya segunung cita-cita. Setumpuk ide, sejumput motivasi dan waktu tidur siang yang tidak produktif.

Kedua. Tapi, karena menurut guru kesayanganku, Bapak Ersis Warmansyah Abbas: Menulis itu berbagi, jangan pelit menulis, maka ku tuliskan hal-hal ini.

Setiap pekerjaan besar, butuh suatu pengorbanan. Namun dalam hal menulis, ku rasa tak ada pengorbanan. Karena menulis adalah salah satu bentuk terapi jiwa. Saya pernah membaca, banyak jiwa yang terpulihkan karena menulis.

Yang perlu anda sediakan adalah menyediakan tumbal atau sajen SEKARUNG COKLAT. Atau SEKILO GETUK GORENG. Atau SEMANGKUK BUAH-BUAHAN. Atau SEGALON KOPI LATTE.

Atau ……..dan mulailah lakukan ini: Tinggalkan pekerjaan menulis. Berjalan-jalanlah. Temui banyak orang. Nikmati kota. Nikmati desa. Nikmati pagi. Nikmati malam.

Memasak. Coba resep-resep baru. Membaca banyak buku. Ada banyak buku panduan menulis termasuk didalamnya soal mengatasi hambatan menulis, seperti Buku-buku Pak Ersis Warmansyah Abbas (jumlahnya banyak sekali), Buku Arswendo Atmowiloto, Buku Gola Gong, atau yang paling mengena Stephen King on Writing. Buku Bu Naning Pranoto tentang Creative Writing.

Memberanikan diri mengirim surat pada para penulis terkenal. Luar biasa, mereka mau meluangkan waktu untukmu dan memberi saran-saran yang eksklusif Membaca Novel yang paling disukai. Novel klasik ok. Novel science fiction ok. Chicklit boleh juga (asal tak cabul). Baru-baru ini, saya membaca buku, “Diary Si Bocah Tengil” Jeff kinney. Asli lucu, asyik, dan menyegarkan. Menonton banyak film.

Ketiga. Nah, setelah melakukan semua hal ini, mulailah menulis lagi. Jika dalam proses ini tumbal SEKARUNG COKLAT itu tak habis, kau tahu kemana akan dikirimkan. HUBUNGI AKU.

********
Hatchery of words, Sunday November 27, 2011
Please, jangan habiskan coklatnya.Hubungi aku.

[Cerpen] Tunggu Aku di Nirwana, Chieko..!

Oleh : Hesti Setiarini

 Hari Minggu ini genap dua bulan sudah Chieko pergi. Sudah bulan Juni sekarang. Bulan yang sering diwarnai derai hujan, sebelum musim panas menjelang.Terkadang angin bertiup kencang tak bersahabat.

Masih jelas membekas dalam ingatan Hiroaki saat istri tercintanya itu meregang nyawa, tepat sehari sebelum hari pernikahan mereka yang ke duapuluhtujuh. Bunga sakura kala itu masih menguncup, hanya menunggu beberapa hari saja sebelum bersemi indah. Continue reading [Cerpen] Tunggu Aku di Nirwana, Chieko..!

[Cerpen] Sepucuk Surat di Samping Nisan

Oleh: Lovalyka Maudy Chyntia

 

Di depan meja kasir, aku merogoh dompet warna merahku. Memberikan beberapa lembar lima puluhan ribu untuk pembayaran buku-buku yang baru saja kubeli. Setelah menerima uang kembalian dan mengucapkan terima kasih, aku bergegas keluar dari toko buku itu.
Di luar ternyata hujan deras. Biasanya kalau sedang pergi belanja begini, aku selalu ditemani Thomas, pacarku. Tapi kali ini, Thomas sedang ada acara di gereja. Sehingga aku pergi tanpa dia. Lagipula ini hari Sabtu, jadwalku untuk pulang ke rumah ibu. maklum, anak kost. Continue reading [Cerpen] Sepucuk Surat di Samping Nisan

[Tips Menulis] Tulis Saja!

Oleh: Maulida Azizah

Seringkali teman saya sudah menganggap saya sebagai penulis walaupun sebenarnya saya hanyalah orang yang suka nulis. Seringkali pula saya ditanya bagaimana cara menulis atau bahkan ada yang meminta untuk diajarkan menulis. Saya pun hanya dapat memberikan saran yaitu “Tulis saja apa yang ingin kamu tulis!” Belajar menulis adalah dengan menulis. Tulisan kita tak akan berkembang jika hanya diam tanpa memulainya. Karena teori pada dasarnya akan menjadi tumpukan bangkai tanpa dipraktekan.

Jika kemudian bingung hendak memulai menulis, maka berhentilah sejenak. Barangkali kita masih terlalu memikirkan apa yang hendak ditulis. Seperti pesan pak Heri, tulislah apa yang dipikir, bukan memikirkan apa yang ditulis. Jika kemudian ada celetukan tulisanku hasilnya tidak bagus, maka jangan pernah sekalipun mempermasalahkannya. Karena memang inilah dulu yang harus dilalui sebelum berhasil. Seperti lukisan yang awalnya coretan tak beraturan, lambat laun tangan seniman pandai gemulai, memainkan kuas membentuk indah lukisan. Seperti itu juga menulis, semakin lama maka akan semakin pandai pula kita memainkan kata dalam tulisan.

Tips menulis saya:

Tulis semua yang hendak ditulis. Seringkali banyak ide yang bermunculan namun kita bingung menuangkan. Kita bingung masih memikirkan bagaimana agar ide tersebut langsung tertuang dengan indah. Tulis saja dahulu ide-ide tersebut meskipun nanti hasilnya masih tak beraturan. Tulis saja dahulu semuanya, meski nanti hasilnya masih carut-marut.

Setelah ide tertuang, maka pilahlah setiap ide yang sudah kita tulis. Pilahlah juga setiap paragraph yang sudah terbentuk dan sambungkanlah antar paragraf.

Perhatikan kembali kata-kata dalam setiap paragraf. Perbaiki kalimat yang masih terasa janggal. Perindah kata dengan beberapa pilihan kosakata. Sebenarnya, menulis hanyalah soal mengolah kata-kata, bagaimana kita bisa memainkannya.

Rajinlah membaca buku untuk menambah wawasan, agar banyak informasi yang tertuang, agar banyak kosakata yang dapat dimainkan.

Jika ingin pandai dalam menulis maka belajarlah dengan cara rajin menulis. Ayo ayo ayo Indonesia menulis ^^.

[Puisi] Menunggu Rindu

Oleh: Krisna Yudha

 

Di Tepian ini ku menungu
berbalut warna biru, merah dan Unggu

Memyimpan sejuta Rindu yang mengebu
pada Pujaan hati yang selalu merayu syahdu

Mungkin hari ini kau tiada di sisi
Insya Alloh suatu saat nanti kita kan bersama kembali

bercanda, bercerita dan memadu kasih suci
Harapku Selalu Alloh kan meridho’i

 

 

After Sunset
at Yellowstone Lake, Wyoming