[Cerpen] Tunggu Aku di Nirwana, Chieko..!

Oleh : Hesti Setiarini

 Hari Minggu ini genap dua bulan sudah Chieko pergi. Sudah bulan Juni sekarang. Bulan yang sering diwarnai derai hujan, sebelum musim panas menjelang.Terkadang angin bertiup kencang tak bersahabat.

Masih jelas membekas dalam ingatan Hiroaki saat istri tercintanya itu meregang nyawa, tepat sehari sebelum hari pernikahan mereka yang ke duapuluhtujuh. Bunga sakura kala itu masih menguncup, hanya menunggu beberapa hari saja sebelum bersemi indah. Continue reading [Cerpen] Tunggu Aku di Nirwana, Chieko..!

[Cerpen] Sepucuk Surat di Samping Nisan

Oleh: Lovalyka Maudy Chyntia

 

Di depan meja kasir, aku merogoh dompet warna merahku. Memberikan beberapa lembar lima puluhan ribu untuk pembayaran buku-buku yang baru saja kubeli. Setelah menerima uang kembalian dan mengucapkan terima kasih, aku bergegas keluar dari toko buku itu.
Di luar ternyata hujan deras. Biasanya kalau sedang pergi belanja begini, aku selalu ditemani Thomas, pacarku. Tapi kali ini, Thomas sedang ada acara di gereja. Sehingga aku pergi tanpa dia. Lagipula ini hari Sabtu, jadwalku untuk pulang ke rumah ibu. maklum, anak kost. Continue reading [Cerpen] Sepucuk Surat di Samping Nisan

[Tips Menulis] Tulis Saja!

Oleh: Maulida Azizah

Seringkali teman saya sudah menganggap saya sebagai penulis walaupun sebenarnya saya hanyalah orang yang suka nulis. Seringkali pula saya ditanya bagaimana cara menulis atau bahkan ada yang meminta untuk diajarkan menulis. Saya pun hanya dapat memberikan saran yaitu “Tulis saja apa yang ingin kamu tulis!” Belajar menulis adalah dengan menulis. Tulisan kita tak akan berkembang jika hanya diam tanpa memulainya. Karena teori pada dasarnya akan menjadi tumpukan bangkai tanpa dipraktekan.

Jika kemudian bingung hendak memulai menulis, maka berhentilah sejenak. Barangkali kita masih terlalu memikirkan apa yang hendak ditulis. Seperti pesan pak Heri, tulislah apa yang dipikir, bukan memikirkan apa yang ditulis. Jika kemudian ada celetukan tulisanku hasilnya tidak bagus, maka jangan pernah sekalipun mempermasalahkannya. Karena memang inilah dulu yang harus dilalui sebelum berhasil. Seperti lukisan yang awalnya coretan tak beraturan, lambat laun tangan seniman pandai gemulai, memainkan kuas membentuk indah lukisan. Seperti itu juga menulis, semakin lama maka akan semakin pandai pula kita memainkan kata dalam tulisan.

Tips menulis saya:

Tulis semua yang hendak ditulis. Seringkali banyak ide yang bermunculan namun kita bingung menuangkan. Kita bingung masih memikirkan bagaimana agar ide tersebut langsung tertuang dengan indah. Tulis saja dahulu ide-ide tersebut meskipun nanti hasilnya masih tak beraturan. Tulis saja dahulu semuanya, meski nanti hasilnya masih carut-marut.

Setelah ide tertuang, maka pilahlah setiap ide yang sudah kita tulis. Pilahlah juga setiap paragraph yang sudah terbentuk dan sambungkanlah antar paragraf.

Perhatikan kembali kata-kata dalam setiap paragraf. Perbaiki kalimat yang masih terasa janggal. Perindah kata dengan beberapa pilihan kosakata. Sebenarnya, menulis hanyalah soal mengolah kata-kata, bagaimana kita bisa memainkannya.

Rajinlah membaca buku untuk menambah wawasan, agar banyak informasi yang tertuang, agar banyak kosakata yang dapat dimainkan.

Jika ingin pandai dalam menulis maka belajarlah dengan cara rajin menulis. Ayo ayo ayo Indonesia menulis ^^.

[Puisi] Menunggu Rindu

Oleh: Krisna Yudha

 

Di Tepian ini ku menungu
berbalut warna biru, merah dan Unggu

Memyimpan sejuta Rindu yang mengebu
pada Pujaan hati yang selalu merayu syahdu

Mungkin hari ini kau tiada di sisi
Insya Alloh suatu saat nanti kita kan bersama kembali

bercanda, bercerita dan memadu kasih suci
Harapku Selalu Alloh kan meridho’i

 

 

After Sunset
at Yellowstone Lake, Wyoming

[Cerpen] Lelaki Itu Berilmu

Oleh: Osya Wafir

Siang itu, sekitar pukul dua siang. Bus yang mengantarkanku dari Arjosari-Malang tiba di terminal Osowilangun-Gresik. Setelah menyerahkan tiket masuk pada petugas kupercepat langkahku agak terburu melewati beberapa kondektur yang sibuk teriak-teriak menuju bus yang akan membawaku sampai rumah.

Dug! Ada yang menyenggol pundakku.

“Maaf Mbak!” Seorang lelaki berjaket kuning yang warnanya sudah memudar dengan tas ransel di punggung dan kotak kardus di tangan kanan. Continue reading [Cerpen] Lelaki Itu Berilmu