[Cerita Legenda] : Kulit Kima di Gunung Sekrat

Oleh Haidi Yan di PNBB – Proyek Nulis Buku Bareng

 

tebing-gunung

Gunung Sekrat, berada di Kabupaten Kutai Timur, antara Kecamatan Bengalon dan Kecamatan Kaliorang. Ketika melintasi jalan darat, kita berada di Selatan Gunung Sekrat, dan di Utara adalah Selat Makasar. Gunung Sekrat sebuah pegunungan batu kapur yang cukup tinggi, jika dilihat dari kejauhan akan tampak awan putih mengambang antara puncak batu dan kaki gunung.

Banyak cerita rakyat yang ada di sekitar Gunung Sekrat ini. Seperti Goa 22 Tahun atau ada yang menyebut Goa Awet Muda. Pintu goa hanya terbuka selama satu hari setiap 22 tahun sekali. Siapa yang beruntung atau tersesat ke goa tersebut pada hari pintu terbuka, ia akan akan melalui waktu 22 tahun dalam kehidupan nyata, walau dijalani tidak lebih dari satu jam. Ketika keluar dari goa, ia masih muda, sedangkan orang lain di luar goa akan menjadi tua. Namun ini sangat sulit dibuktikan.

Kisah lain, seperti Batu Pondong (Batu Patah=Dayak Basap) masih bisa di temui sampai sekarang. Termasuk kawasan Lebok Tutung (Rumah Terbakar=Dayak Basap) yang sekarang orang sering salah menyebut menjadi Lubuk Tutung. Kedua tempat tesebut berasal dari cerita rakyat, tampaknya tidak pernah tercatat dalam sejarah.

~o~

Kima adalah jenis kerang laut, banyak terdapat diperairan dari Teluk Sangkulirang hingga Tanjung Mangkalihat, termasuk jenis kerang berukuran besar. Di puncak Gunung Sekrat itu terdapat sebuah kulit kima besar terlihat dari kejauhan.  Tapi tunggu dulu, kulit kima itu tidak akan ditemui, jika sengaja dicari, walau berbulan-bulan, kita hanya akan menemui puncak-puncak bukit batu.

 

Menyusuri dongeng rakyat setempat, kulit kima itu berasal dari Gunung Setebah, tidak jauh dari Tanjung Mangkalihat berada dalam wilayah Kecamatan Sandaran sekarang.

Diceritakan, pada jaman yang manusia masih besar, dengan dada selebar tujuh hasta atau lebih. Di Kawasan Gunung Sekrat itu hidup satu keluarga dengan anak-anaknya bernama Ayus, Ongo dan Silu. Mereka masih anak-anak saat itu, oleh orang tua mereka, disuruh menjaga jemuran padi di halaman rumah. Mereka masih suka bermain-main termasuk gasing. Tempat bermain yang mereka sukai adalah di Gunung Setebah. Saat itu ayam peliharaan mereka memakan jemuran padi. Oleh Ayus, kakak tertua, melempar ayam itu dengan sebuah kulit kima dari tempat mereka bermain. Namun lemparan lepas sasaran,  sehingga kulit kima tertancap di gunung Sekrat. Sampai sekarang kulit kima itu masih ada pada tempatnya dan memantulkan sinar matahari maupun cahaya bulan. Begitu ringkasan ceritanya.

Pantulan cahaya itulah yang dijadikan petunjuk arah oleh pelaut-pelaut yang melintasi Selat Makasar dari arah Samarinda menuju Kabupaten Berau dan sebaliknya. Termasuk mereka yang akan menyeberangi Selat Makasar dari Tanjung Mangkalihat menuju Palu-Sulawesi Tengah.

Sebagai tambahan, di Sulawesi Tengah juga berpatokan pada Gunung Sojol. Sampai sekarang masyarakat setempat biasa menggunakan kapal-kapal kecil menyeberangi Selat Makasar, dalam waktu delapan hingga sembilan jam dengan berpatokan pada kulit kima di Gunung Sekrat itu.

~o~

Gambar sekedar ilustrasi diambil dari sini

[Cerpen] Kisah Si Kimci, Si Gajah Kecil

Oleh: Rahma Damayanty Rivai

(Didongengkan dan dituliskan mama era pada Iqbal “cosmos” tanggal 6 januari 2011)

Kimci adalah seekor gajah yang lahir di bulan januari, dua tahun yang lalu. Ketika ia lahir, Kimci sangat lucu dan berbadan gemuk. Matanya bulat indah dengan tatapannya yang menggemaskan. Karena badannya gemuk, Kimci sangat kesulitan untuk berdiri dan menyusui pada ibunya yang bernama Kimura. Dengan lembut, Ibu Kimura membujuk dan memberi semangat pada Kimci untuk terus belajar berdiri dan segera menyusui. Continue reading [Cerpen] Kisah Si Kimci, Si Gajah Kecil

[Tips Menulis] Menulis Fiksi

Oleh: Moenir al-banny

Memunculkan ide menulis cerita fiksi:

menulis cerita fiksi walaupun tampaknya mudah tapi akan bisa dirasakan sulit oleh sebagian orang lain. Mungkin sebagian orang itu termasuk anda. Berikut saya mencoba memberikan tips bagaimana agar kita bisa menulis cerita fiksi atau bahkan cerita surealis.
1. Harus alay.


Maksudnya bukan berarti nulisnya “p4d4 5u4tu h4r1…” atau “pâdä süåtú hârí…” tapi kita harus meng-alay-kan (baca: melebih-lebihkan) pengalaman yang menjadi sumber cerita kita . Kalau masalah pengalaman yang menjadi sumber inspirasi sudah dibahas oleh teman-teman lain.
2. Bawa catatan saat akan buang air besar.
Mungkin ini saran paling gila yang pernah anda dengar, tapi coba kalian jawab apa yang kalian lakukan ketika sendirian dan berada di tempat yang sunyi? Pasti melamun! Ya karena itulah catat apa yang kalian lamunkan. Habis ngeden tentunya. Hehe
3. Catat apa yang kamu mimpikan semalam


Inspirasi bisa datang dari mana saja termasuk dari mimpi di waktu tidur. Asal jangan pas mimpi basah aja. Haha

ingat jk.rowlings yang menulis idenya tentang seorang anak yang tidak tahu kalau dia adalah penyihir saat menunggu datangnya kereta di stasiun pada selembar kertas tissu? Lalu tulisan di selembar tissu itu dia kembangkan dan jadilah buku paling best seller di dunia. Ya harry potter. Andapun bisa seperti jk.rowling. Kalau mau menulis. Tinggal menulis lalu kembangkan.

******

23 11 11
tulisan ini ditulis menjelang bobok dengan hape nokia c1-01

[Tips Menulis] Berdamai Dengan Diri Sendiri

oleh: Irawati Syahriah

Tiap penulis memiliki tips –tips sendiri dalam menuangkan tulisannya, disesuaikan dengan karakter kepribadiaan yang bersangkutan yang unik dan tidak bisa dibuat-buat. Boleh jadi dalam keseharian orang tersebut tampak pendiam namun tulisannya adalah tulisan mengalir dahsyat bak banjir tsunami. Ada pula orang yang tampak rame dan banyak omong, namun tulisannya santun dan menggugah jiwa.

Oleh karena itu marilah berdamai dengan diri sendiri, bila ingin menulis. Bertanya ke dalam diri patutkah  ide yang datang tiba-tiba ini saya tulis. Terkesan penakut dan lamban memang, tapi itulah suatu upaya membentengi diri dari berpikir sebelum bertindak.

Menulis sebagai sebuah action, atau tindakan memang perlu manajemen diri bahkan manajemen hati, menulis seperti berbicara, tidak bisa  dilakukan asal bunyi (asbun). Kerja otak kanan yang acak dalam menyalurkan ide tulisan harus diimbangi dengan otak kiri yang penuh ketelitian, bahkan seluruh otak mesti kita fungsikan dalam menulis. Hal ini perlu dilakukan bukan hanya  karena kita ingin menjaga image (jaim) para pembaca terhadap diri kita, ataupun karena ingin menghasilkan tulisan yang penuh sanjungan, bukan itu para sahabat. Ini hanyalah sebuah bentuk tanggung jawab moral kita ketika nanti pembaca ada yang mempertanyakan tentang akibat atau dampak dari tulisan kita. Berapa banyak tulisan yang membuat para penjahat berubah haluan menjadi orang soleh hanya karena membaca tulisan pencerahan jiwa, dan banyak pula tulisan yang membuat para ABG yang masih polos terpacu adrenalinnya menjadi teroris kelas kakap. Rumah tangga broken home bisa menjadi rukun karena tulisan kita, anak durhaka berbalik menjadi anak soleh juga karena tulisan, so, tulisan bisa merubah hal suram menjadi hal indan, karena tulisan bak pedang,  bisa menghujam jauh kelubuk hati, juga bagai irigasi mengisi jiwa yang kering dan mengaliri sawah hati.

Menulis memang harus dilakukan dengan proforsional bahkan professional, adalah baik kita menerapkan tips, tulis saja ada yang ada dalam pikiranmu, dan jangan memikirkan apa yang akan kau tuliskan, ini memang tips yang sangat cespleng untuk memulai suatu tulisan, tetapi tahap selanjutnya, kalau boleh dianalogikan  para penulis adalah koki masakan, yang ingin menyajikan masakan terlezat, sebelum penyajian barangkali harus ada penyiapan resep dan bahan- bahan serta proses pengolahan sampai penyajian, sehingga akhirnya akan diperoleh masakan yang maknyuss, serta dikemudian hari, akan banyak orang yang ketagihan masakan lezat tersebut. Memang sih bagi koki yang jam terbangnya sudah tinggi mengolah masakan lezat, gak akan ribet dan gak pake lama, tetapi bagi koki pemula atau baru belajar bukankah perlu tanya sana sini (sharing ), tak sekedar baca resep dan berani mencoba, kecuali yang dimasak cuma mi instan he he, itu mah gampang.

Karena ketika tulisan kita dilempar ke khalayak, para pembacanya adalah semua kalangan yang sengaja maupun tidak sengaja membaca tulisan kita, akan selalu ada tanggapan pro dan kontra, like and dilike. So pasti menulislah tentang apa saja dan jangan lupa berdamai dengan diri sendiri, sebelum menuangkan ide,atau  ketika menuangkan tulisan bahkan sesudah tulisan menjadi. Karena akan ada pembaca yang bersorak kegirangan menyambut tulisan kita, ini tidak membuat kita sombong dan akan ada pembaca yang mencemooh dan hal ini juga tidak akan membuat kita patah semangat. Menulislah, berdamailah, dan rasakan kedamaian itu, salam menulis.

[Ide Menulis] Permainan Tradisional

oleh: Hidi Yan

Terkadang ide menulis “sesuatu” tiba-tiba muncul ke permukaan dan menjadi mudah untuk di tulis. Tetapi ketika akan menulis yang sedikit saja ada unsur “pemaksaan” pikiran, [ada tema yang harus diikuti, atau ada orderan tertentu] semua jadi terasa sulit, buntu bahkan otak terus dipaksa memutar memori, akhirnya membaca berbagai referensi, dan hasilnya tidak diragukan lagi, menjadi sebuah tulisan “gado-gado”, antara referensi yang di baca dengan pikiran sendiri.

Jika sudah terkait dengan menulis yang ada unsur “pemaksaan” tersebut, maka setiap detik terus menggiring pikiran dalam berbagai pertanyaan : apa, dimana, siapa, kapan, berapa, dan lain-lain pertanyaan, tidak ubahnya seperti seorang anak-anak yang cerewet bertanya terus menerus kepada ibunya.

Sebagai orang yang memandang tulisan sebagai karya seni, tidak dituntut dengan target dan materi, strategi bermain tradisional tampaknya lebih sesuai, karena selama permainan itu berlangsung, suasana hati lepas bebas bagai elang di angkasa raya. Bermain di alam bebas, dengan pulpen dan kertas, tidak berusaha duduk di depan komputer yang terhubung dengan internet, karena jika sudah berjumpa si cantik google, bisa saja merusak ciri khas karya penulisnya.

“Penemuan Ide” melalui permainan tradisional ini akan banyak membatu dan ketika mendapat sedikit pencerahan, secepatnya tulis walau harus menggunakan kertas rokok yang ditemukan di tempat sampah, yang terpenting “amankan” dulu ide itu dengan memberikan “keterangan” dalam catatan, apa yang sedang terpikir saat itu, sehingga ketika membaca catatan tadi, keterangan itu berguna sebagai penuntun pada pemikiran semula, walau telah berlangsung satu atau dua minggu.

Repotnya, terkadang lupa menyimpan catatan tersebut. Tidak perlu khawatir, sekarang lebih mudah, tidak perlu repot mencari kertas dan pulpen ketika terpikir sebuah ide yang menarik untuk di tulis, tulis saja di SMS, kirim ke email, atau cukup simpan di draf sms, maka aman untuk sementara.

Mengamankan ide seperti ini, tentunya hanya berlaku bagi yang ingin menulis bebas, tanpa dituntut oleh pesanan dan orderan, apalagi harus mengikuti suatu tema tertentu. Penuangan ide dalam bentuk tulisan, murni dipandang sebagai sebuah karya seni. [Hd]