[Tips Menulis] Menulis Fiksi

Oleh: Moenir al-banny

Memunculkan ide menulis cerita fiksi:

menulis cerita fiksi walaupun tampaknya mudah tapi akan bisa dirasakan sulit oleh sebagian orang lain. Mungkin sebagian orang itu termasuk anda. Berikut saya mencoba memberikan tips bagaimana agar kita bisa menulis cerita fiksi atau bahkan cerita surealis.
1. Harus alay.


Maksudnya bukan berarti nulisnya “p4d4 5u4tu h4r1…” atau “pâdä süåtú hârí…” tapi kita harus meng-alay-kan (baca: melebih-lebihkan) pengalaman yang menjadi sumber cerita kita . Kalau masalah pengalaman yang menjadi sumber inspirasi sudah dibahas oleh teman-teman lain.
2. Bawa catatan saat akan buang air besar.
Mungkin ini saran paling gila yang pernah anda dengar, tapi coba kalian jawab apa yang kalian lakukan ketika sendirian dan berada di tempat yang sunyi? Pasti melamun! Ya karena itulah catat apa yang kalian lamunkan. Habis ngeden tentunya. Hehe
3. Catat apa yang kamu mimpikan semalam


Inspirasi bisa datang dari mana saja termasuk dari mimpi di waktu tidur. Asal jangan pas mimpi basah aja. Haha

ingat jk.rowlings yang menulis idenya tentang seorang anak yang tidak tahu kalau dia adalah penyihir saat menunggu datangnya kereta di stasiun pada selembar kertas tissu? Lalu tulisan di selembar tissu itu dia kembangkan dan jadilah buku paling best seller di dunia. Ya harry potter. Andapun bisa seperti jk.rowling. Kalau mau menulis. Tinggal menulis lalu kembangkan.

******

23 11 11
tulisan ini ditulis menjelang bobok dengan hape nokia c1-01

[Tips Menulis] Berdamai Dengan Diri Sendiri

oleh: Irawati Syahriah

Tiap penulis memiliki tips –tips sendiri dalam menuangkan tulisannya, disesuaikan dengan karakter kepribadiaan yang bersangkutan yang unik dan tidak bisa dibuat-buat. Boleh jadi dalam keseharian orang tersebut tampak pendiam namun tulisannya adalah tulisan mengalir dahsyat bak banjir tsunami. Ada pula orang yang tampak rame dan banyak omong, namun tulisannya santun dan menggugah jiwa.

Oleh karena itu marilah berdamai dengan diri sendiri, bila ingin menulis. Bertanya ke dalam diri patutkah  ide yang datang tiba-tiba ini saya tulis. Terkesan penakut dan lamban memang, tapi itulah suatu upaya membentengi diri dari berpikir sebelum bertindak.

Menulis sebagai sebuah action, atau tindakan memang perlu manajemen diri bahkan manajemen hati, menulis seperti berbicara, tidak bisa  dilakukan asal bunyi (asbun). Kerja otak kanan yang acak dalam menyalurkan ide tulisan harus diimbangi dengan otak kiri yang penuh ketelitian, bahkan seluruh otak mesti kita fungsikan dalam menulis. Hal ini perlu dilakukan bukan hanya  karena kita ingin menjaga image (jaim) para pembaca terhadap diri kita, ataupun karena ingin menghasilkan tulisan yang penuh sanjungan, bukan itu para sahabat. Ini hanyalah sebuah bentuk tanggung jawab moral kita ketika nanti pembaca ada yang mempertanyakan tentang akibat atau dampak dari tulisan kita. Berapa banyak tulisan yang membuat para penjahat berubah haluan menjadi orang soleh hanya karena membaca tulisan pencerahan jiwa, dan banyak pula tulisan yang membuat para ABG yang masih polos terpacu adrenalinnya menjadi teroris kelas kakap. Rumah tangga broken home bisa menjadi rukun karena tulisan kita, anak durhaka berbalik menjadi anak soleh juga karena tulisan, so, tulisan bisa merubah hal suram menjadi hal indan, karena tulisan bak pedang,  bisa menghujam jauh kelubuk hati, juga bagai irigasi mengisi jiwa yang kering dan mengaliri sawah hati.

Menulis memang harus dilakukan dengan proforsional bahkan professional, adalah baik kita menerapkan tips, tulis saja ada yang ada dalam pikiranmu, dan jangan memikirkan apa yang akan kau tuliskan, ini memang tips yang sangat cespleng untuk memulai suatu tulisan, tetapi tahap selanjutnya, kalau boleh dianalogikan  para penulis adalah koki masakan, yang ingin menyajikan masakan terlezat, sebelum penyajian barangkali harus ada penyiapan resep dan bahan- bahan serta proses pengolahan sampai penyajian, sehingga akhirnya akan diperoleh masakan yang maknyuss, serta dikemudian hari, akan banyak orang yang ketagihan masakan lezat tersebut. Memang sih bagi koki yang jam terbangnya sudah tinggi mengolah masakan lezat, gak akan ribet dan gak pake lama, tetapi bagi koki pemula atau baru belajar bukankah perlu tanya sana sini (sharing ), tak sekedar baca resep dan berani mencoba, kecuali yang dimasak cuma mi instan he he, itu mah gampang.

Karena ketika tulisan kita dilempar ke khalayak, para pembacanya adalah semua kalangan yang sengaja maupun tidak sengaja membaca tulisan kita, akan selalu ada tanggapan pro dan kontra, like and dilike. So pasti menulislah tentang apa saja dan jangan lupa berdamai dengan diri sendiri, sebelum menuangkan ide,atau  ketika menuangkan tulisan bahkan sesudah tulisan menjadi. Karena akan ada pembaca yang bersorak kegirangan menyambut tulisan kita, ini tidak membuat kita sombong dan akan ada pembaca yang mencemooh dan hal ini juga tidak akan membuat kita patah semangat. Menulislah, berdamailah, dan rasakan kedamaian itu, salam menulis.

[Ide Menulis] Permainan Tradisional

oleh: Hidi Yan

Terkadang ide menulis “sesuatu” tiba-tiba muncul ke permukaan dan menjadi mudah untuk di tulis. Tetapi ketika akan menulis yang sedikit saja ada unsur “pemaksaan” pikiran, [ada tema yang harus diikuti, atau ada orderan tertentu] semua jadi terasa sulit, buntu bahkan otak terus dipaksa memutar memori, akhirnya membaca berbagai referensi, dan hasilnya tidak diragukan lagi, menjadi sebuah tulisan “gado-gado”, antara referensi yang di baca dengan pikiran sendiri.

Jika sudah terkait dengan menulis yang ada unsur “pemaksaan” tersebut, maka setiap detik terus menggiring pikiran dalam berbagai pertanyaan : apa, dimana, siapa, kapan, berapa, dan lain-lain pertanyaan, tidak ubahnya seperti seorang anak-anak yang cerewet bertanya terus menerus kepada ibunya.

Sebagai orang yang memandang tulisan sebagai karya seni, tidak dituntut dengan target dan materi, strategi bermain tradisional tampaknya lebih sesuai, karena selama permainan itu berlangsung, suasana hati lepas bebas bagai elang di angkasa raya. Bermain di alam bebas, dengan pulpen dan kertas, tidak berusaha duduk di depan komputer yang terhubung dengan internet, karena jika sudah berjumpa si cantik google, bisa saja merusak ciri khas karya penulisnya.

“Penemuan Ide” melalui permainan tradisional ini akan banyak membatu dan ketika mendapat sedikit pencerahan, secepatnya tulis walau harus menggunakan kertas rokok yang ditemukan di tempat sampah, yang terpenting “amankan” dulu ide itu dengan memberikan “keterangan” dalam catatan, apa yang sedang terpikir saat itu, sehingga ketika membaca catatan tadi, keterangan itu berguna sebagai penuntun pada pemikiran semula, walau telah berlangsung satu atau dua minggu.

Repotnya, terkadang lupa menyimpan catatan tersebut. Tidak perlu khawatir, sekarang lebih mudah, tidak perlu repot mencari kertas dan pulpen ketika terpikir sebuah ide yang menarik untuk di tulis, tulis saja di SMS, kirim ke email, atau cukup simpan di draf sms, maka aman untuk sementara.

Mengamankan ide seperti ini, tentunya hanya berlaku bagi yang ingin menulis bebas, tanpa dituntut oleh pesanan dan orderan, apalagi harus mengikuti suatu tema tertentu. Penuangan ide dalam bentuk tulisan, murni dipandang sebagai sebuah karya seni. [Hd]

[Tips Menulis] Mendapatkan Ide Menulis!

Oleh: Risma Purnama

Banyak cara yang bisa dilakukan untuk mendapatkan bahan tulisan,antara lain dengan mengamati lingkungan yang ada di sekitar Anda berada. Jika Anda seorang yang sering bepergian, akan makin banyak bahan yang bisa anda peroleh selama kurun waktu perjalanan Anda. Misalnya macet di jalanan, kebosanan selama dalam perjalanan bisa anda tuliskan. Atau Anda mencatat apa saja yang terjadi selama perjalanan, apa saja yang Anda lihat, misalnya anda bisa mencatat apa yang terjadi di lampu merah, atau apa yang terjadi di dalam bis yang anda tumpangi. Saya selalu melakukan hal itu. Ketika saya melakukan perjalanan naik kereta, saya mencatat mulai dari saya membeli tiket, keadaan kereta, dan mencatat obrolan saya dengan penumpang, sampai saya ke tujuan semua saya catat. Dalam perjalanan jangan lupa bawa kertas dan pena untuk mencatat supaya tak ada yang tertinggal, atau jika Anda punya daya ingat yang tajam, silahkan simpan di memori anda yang bernama otak (saya menyebutnya sel sel kecil kelabu).

Selain itu juga Anda bisa mendapatkan ide atau bahan menulis dari membaca apa saja. Jika anda seorang kutu buku, maka akan semakin mudah bagi Anda untuk mendapatkan ide dan mengembangkan ide itu menjadi tulisan. Saya seorang anggota jemaah fesbukiyah sangat rajin membaca status dan komentar di fesbuk saya, termasuk tagging notes maupun link yang dibagikan. Tujuan saya selain mencari hiburan, terutama untuk mencari bahan atau ide tulisan saya. Seringkali status pertemanan saya sangat menginspirasi saya untuk menjadikannya tulisan.
Jika Anda seorang yang sangat gaul dan mempunyai teman yang banyak dari berbagai kalangan sangat mendukung sekali untuk mendapatkan ide tulisan. Curhat teman, pengalaman teman yang di ceritakan ke Anda bisa juga di jadikan bahan tulisan. Atau sangat mungkin kisah pribadi Anda, atau keluarga Anda. Saya juga telah membuat catatan mengenai beberapa sahabat saya, kisah yang menginspirasi, maupun kisah sedih, ataupun yang mengundang gelak tawa. Apa saja yang Anda dan teman Anda rasakan bisa dijadikan bahan tulisan.

Biasanya dari satu ide menulis akan mengalir ide ide lain, kadang bahkan tak terbendung! Mulailah dari ide yang ringan ringan saja dulu. Sampai nanti anda akan terpikirkan untuk membuat ide ide besar. Jangan terpaku dengan apakah tulisan saya akan di baca atau tidak, tapi mulailah saja dengan menulis dulu. Sama seperti yang saya lakukan. Pokoknya menulis dulu, seiring dengan waktu tulisan Anda pun akan mulai dilirik pembaca,percayalah! Apakah Anda sudah mendapatkan ide dari tulisan saya ini, jika belum cobalah membaca lagi tulisan yang lain, jika sudah, ayo tuliskanlah!

Salam PNBB, apa ide Anda hari ini, yuk tuliskan 😀

[Ide Menulis] Membaca Semesta

Oleh : Afiani Gobel

 

Awal dari menulis, adalah membaca.

Mengapa begitu? Karena perintah pertama adalah BACA.

Tidak perlu ditelaah ulang. Karena itulah yang tertuang dalam Al Qur’an.

Lalu, mengapa membaca ? Karena seseorang dapat mengetahui lebih banyak dengan membaca. Dan kehidupan menulis hadir dari ruh membaca.

Lalu muncul pertanyaan selanjutnya. Mbak-nya kok bisa sering2 nulis itu, idenya dapat dari mana ? Banyak baca ya ? (Untuk pertanyaan ini saya akan malu menjawabnya. Karena, saya itu CINTA menulis tapi, hanya SUKA membaca) Intinya besar pasak dari pada tiang. Itu kalau ukurannya membaca buku yaa. Apalagi kalau dilanjutkan dengan ‘Punya banyak sekali buku ?’ (makin saya malu menjawabnya. Karena belakangan saya mulai jarang beli buku)

Jadi, bagaimana mendapatkan ide?

Sederhana saja, yaitu dengan membaca.

Membaca Apa :

  • Membaca Peristiwa

Bagi yang benar2 ingin sering2 melakukan menulis. Maka setiap peristiwa di sekitar kita merupakan sebuah bacaan penting. Disana ada tokoh, waktu, tempat, alur dan segala hal yang kita butuhkan dalam membuat tulisan yang utuh. Kita tinggal membacanya dengan sungguh-sungguh. (Contoh, kecelakaan yang kita lihat, sebuah demo di jalan, sopir angkot yg ugal-ugalan, dll) Baca peristiwa, olah dengan pikiran mendalam, lalu mulailah merangkai kata.

  • Membaca Suara

Telinga kita juga adalah alat ‘baca’ yang luar biasa. Suara akan menyampaikan satu bentuk imaginasi (terutama saat kita tidak melihat sumber dari suara tersebut) yang akan dapat kita olah untuk menjadi sebuah tulisan. Tentu kita pernah membaca, bagaimana suara jangkrik juga bisa menjadi sebuah bagian dalam tulisan. Suara burung yang merdu, menjadi bagian dalam tulisan yang menyatakan bahwa suara itu serupa dengan buluh perindu. Syahdu. Perhatikan suara2 di sekitar kita. Ia adalah satu nada, di mana kita bisa menemukan banyak aksara.

  • Membaca Alam

Pernah lihat video Harun Yahya? Bagi yang sudah, bersyukurlah. Bagi yang belum, carilah. Hehee.
Video Harun Yahya adalah serangkaian video yang menggambarkan bagaimana ajaibnya penciptaan, keunikan binatang, ada juga video tentang tumbuhan. Kesemua isi dari video2 Harun Yahya, menampilkan peristiwa alam yang ternyata merupakan peristiwa yang telah tercantum dan dijelaskan dalam Al Qur’an. Siapapun yang telah membuat video-video itu, ia telah membaca alam dan ‘menulis’kannya dalam bentuk video. Penulis yang telah membaca alam, akan segera menegakkan pena-nya. Perhatikanlah pepohonan, jangan lewatkan untuk membaca hujan, cernalah semilir sang angin, bacalah alam maka ide kan menghampiri kita.

  • Membaca Manusia

Manusia adalah objek paling menarik yang bisa kita tulis. Bagaimana tingkah laku mereka, apa saja yang mereka alami, pendapat mereka yang berbeda-beda, pembicaraan mereka, cara bicaranya, kata-kata mereka. Semua dalam diri manusia dapat kita baca. Bahkan hati, jiwa.. Maksudnya ruhiyah mereka pun dapat pula kita baca. Itulah yang biasa kita sebut aura. (meski kita bukan seorang yang tajam bashirahnya. Tentu sedikit pula yg bisa kita baca. Tergantung batas diri kita) Seorang teman dalam sebuah pertemuan, berkata pada teman-teman saya yang lain. “Hei, hati-hati kalau bicara pas ada Fian. Ntar ditulis lho.” Begitulah saya. Banyak tulisan merupakan hasil dr mengamati manusia dan segala bentuknya. Jadi, waspadalah kalau berinteraksi dengan saya. Bisa jadi tulisan. 😀 Jadi, kenali manusia, baca dirinya dan tulis apa yang telah kita baca.

  • Membaca Media

Kita tidak mungkin senantiasa mendapati diri kita mengalami sendiri sebuah peristiwa, atau selalu mendapatkan cerita dari orang-orang didekat kita, atau sedikit-sedikit beranjangsana untuk membaca alam, atau terlalu sering berkumpul untuk membaca manusia. Adakalanya kita hanya bisa berada di rumah dan tidak menemukan sesuatu yang menarik untuk dibaca. Apakah saat di rumah kita tidak perlu membaca?? Kita mungkin bisa membaca manusia2 yang ada di rumah. Namun, jika itu sudah pernah ditulis, maka menfaat si kotak hitam yang ‘gendut’ atau si warna-warni yang ‘langsing’. (apa coba?) Hehee. Itulah si televisi. Tontonlah TV, maka ia bisa menjadi ide. Beberapa tulisan saya juga terinspirasi dari televisi. Bisa juga nonton film dari DVD. Dengarkan radio, baca koran, majalah, buku dan teman2nya. Karena media menyajikan sesuatu yang mungkin terlalu jauh untuk dapat kita akses. Baca media, dan ide pun datang.

 

  • Mentok Membaca

Ini adalah masa, dimana sudah membaca, sudah sungguh2 mencerna, ternyata sang ide tak juga di dapat. Seorang penulis novel2 terkenal (saya bener2 lupa namanya. Yang jelas dari luar negeri) berkata, “Tuhan, datangkanlah ide.” lalu.. “Dan ide itu pun datang.” lanjutnya. Hmm.. Ajaib ternyata. 🙂 Lakukan ini, setidaknya, setiap kali memulai sesuatu, mulailah dengan ‘bismillaah’. Kebaikan yang di awali dengan kebaikan tidak akan memunculkan selain kebaikan.

Aktifkan setiap indera. Bacalah semesta. Ide akan selalu ada. Tuliskan semuanya.