[Tips Menulis] Beberapa Rumus Menulis

Oleh: Haris A Djauhari

rumus #1: TULIS APA YANG KAMU DIKERJAKAN, KERJAKAN APA YANG KAMU TULIS

 

Disebuah kelas yang riuh ramai para murid dengan berbagai kelakuannya ketika guru belum hadir. Ada yang ngejahilin temannya, ada beberapa murid cewek yang sedang asyik ngegosipin betapa gantengnya David Beckham, ada yang berusaha mengindonesiakan nama mantan pemain top Manchester United yang sekarang main bola di Amerika LA Galaxi.

“cocoknya sih namanya Daud Yusuf Bekam!”.

“yah ! itu sih emang nama benerannya cing!!” klo aku suka panggil dia pisang ambon, kan tendangan mautnya itu macem banana pisang kitu!!”.

Sedang disudut belakang sepasang siswa penggemar siomay berat berdebat sengit enak enakan siomay mana buat acara malming mereka.

“say, kita makan siomay nya bang Doel saja ya di perapatan pasar inpres, gue demen ma rasanya dan porsinya nendang banget!!”

“males lah cyn, gue pengin kita nongkrong saja dirumah sambil pesen siomay saja, denger denger ada siomay onlen yang lagi heboh tuh di FB! kata sohib gue sih rasanya ‘sesuatu bangets’ deh gitu…jadi penasaran pengin order juga..”

“hooeyyy… ada yang minat ikutan bike to school minggu depan gak ? gwe ada sepeda nganggur neh!!! si jambul maniac down hill berorasi di depan kelas.. “aku mau!” separoh kelaspun seperti koor paduan suara tanpa birama… ngaco banget!.

“ehem… ehem” terdengar suara berdehem sang Guru killer meredam gemuruh kelas yang berusan meledak….serentak hening mendengingkan telinga para siswa yang terkejut badan.

“sekarang keluarkan selembar kertas dan TULIS APA YANG BARU SAJA KALIAN LAKUKAN!” waktu nya lima belas menit!” tanpa ba-bu sang guru Bahasa memberi tugas.

———————————————————————————————————–

ilustrasi diatas adalah juga bentuk penerapan dari rumus 1, ketika dikepala sedang ada bergelayut keinginan memberi tips buat PNBB yang muncul adalah serangkaian imaji sederhana diatas. sekecil apapun kegiatan kita, berfikir, beraktifitas, usahakan untuk menulisnya semampunya. seperti melaporkan sebuah kejadian diri dan orang lain saja. semudah itu! kuncinya adalah : yang jelas bisa mengerti dan bisa menulis, jika tidak, minta bantuan sseorang menuliskannya.

dalam sebuah manajemen modern kegiatan menulis adalah salah satu syarat terpenuhinya standar internasional suatu perusahaan. sistim pelaporan semua kegiatan kerja dalam suatu industri misalnya diperlukan sebagai standarisasi atas produk yang dihasilkan. pencatatan pelaporan dan pengarsipan semua kegiatan yang terkait dengan proses produksi akan menjadi bahan audit terpenting guna peningkatan kualitas produksinya.

nah, diawalnya mungkin ada hambatan, lumrah dan wajar, tapi ini instruksi wajib dalam konteks dunia penulisan. masih ragu? sahabat Ali RA pernah berkata,”ikatlah ilmu dengan menulisnya”.

perintah sekaligus doktrin yang positif tentang betapa pentingnya tulisan.sepenting perintah “membaca” yang tertulis dalam literatur keagamaan.

jadi mulailah dengan “SATU KATA” dan temukanlah dengan “KATA YANG LAIN” ini akan menjadi rumus #2 dari tips menulis berikutnya…

Note: ditulis langsung tanpa edit di create doc. PNBB karena takut disuruh lari keliling sekolahan PNBB yang seluas bumi 🙂

[Tips Menulis] Penulis = Pemberani!

Oleh: Akung Krisna

Ketika banyak orang yang ingin bisa membuat tulisan (menulis) seringkali mereka dihantui oleh berbagai ketakutan dan kekhawatiran. Bahkan kadang sangat berlebihan rasa takut itu. Takut tulisannya jelek. Takut salah, khawatir di kritik atau mungkin juga akan menerima cacian dan hinaan dari teman ataupun orang yang membaca tulisannya.

Disaat rasa takut dan khawatir itu muncul dibenak kepala ataupun dihati yang terdalam, orang lain tidak ada yang benar-benar mengetahuinya. Hanya dirinyalah yang benar-benar merasakan. Maka selalu urunglah keinginan dan niat untuk mencoba merangkai kata dalam menciptakan sebuah tulisan. Begitu banyak orang yang mengeluh kepada orang lain tentang sulitnya membuat sebuah tulisan. Padahal kalau saja kita tidak terlalu berfikir macam-macam membuat tulisan itu tidaklah sesulit yang dibayangkan. Menurut saya, cuma satu syaratnya: BERANI!

Berani, menurut dari Kamus Bahasa Indonesia Online memiliki arti :[a] mempunyai hati yang mantap dan rasa percaya diri yang besar dalam menghadapi bahaya, kesulitan, dsb; tidak takut (gentar, kecut): kita harus — mempertahankan kebenaran. (Referensi: ).

Mungkin kita semua pernah merasakan di saat kecil dulu bagaimana proses belajar naik sepeda roda dua. Rasa takut jatuh pasti ada. Namun kenapa akhirnya dengan segala upaya akhirnya kita berhasil mengendarai sepeda roda dua? Dan mungkin masih ingat bagaimana rasanya ketika berhasil? Tentu amatlah bahagia. Sebagi ilustrasi sederhana saja, disaat kita mampu melawan rasa ketakutan untuk terjatuh dari sepeda ketika belajar atau berlatih, disitulah bisa disebut awal datangnya sebuah keberanian. Diri kita benar-benar berani mencoba. Berani memulai. Berani mengambil resiko, misalnya terjatuh, kecebur saluran air atau menabrak tukang sayur yang papasan dengan kita. Atau contoh yang lebih ekstremnya, bagaimana para pemanjat tebing tidak mampu mengusir rasa takutnya akan ketinggian? Tentunya mereka tidak akan pernah mencapai ketinggian puncak suatu tebing yang diinginkannya.

Jika saja kita memiliki rasa keberanian dalam menulis tentu tidak akan pernah ada rasa takut untuk dikatakan tulisan kita jelek, tidak bermutu, atau sulit dipahami. Singkirkan jauh-jauh rasa takut seperti itu. Tidak ada sebuah perjalanan yang jauh jika tidak di mulai oleh sebuah keberanian melangkah. Tidak ada pisau yang tajam tanpa pernah di asah. Tidak ada seorang juara tanpa perjuangan dan latihan dengan tekun dan gigih. Tidak akan pernah ada tulisan jika tidak ada keberanian dalam diri. Berani untuk memulai. Berani untuk mencoba dan mencoba lagi. Berani untuk di kritik ataupun dihina. Berani menempa jiwa. Berani berbuat salah dengan semangat belajar memperbaiki kesalahan. Menulis adalah suatu upaya menembus sekat-sekat ketakutan dalam diri yang seharusnya tidak perlu ada. Percayalah, semua orang pasti bisa menulis. Termasuk diri kita tentunya.

Tidak perlu membandingkan diri kita dengan penulis-penulis terkenal yang hebat. Tapi coba pelajari bagaimana mereka bisa sampai berada di titik sekarang ini. Apakah secara tiba-tiba begitu saja? Terakhir, selamanya kita menjadi seorang penakut dan pengecut selama itu pula kita tidak akan pernah berhasil mewujudkan keinginan kita. Tunjukkan keberanianmu, Sahabat!

Hidup ini hanya milik orang-orang pemberani.

(Kata beberapa orang)

[Tips Menulis] Mengapa Harus Menulis?

Oleh: Risma Purnama Aruan

Ketika saya mengajak Anda untuk menulis,pasti akan muncul pertanyaan ini, mengapa saya harus menulis? Saya bukan penulis, saya bukan satrawan atau novelis, saya bukan mahasiswa atau saya bukan wartawan atau reporter, atau seribu alasan bukan lainnya. Menulis bukan soal siapa Anda, tapi soal menuangkan isi pikiran atau hati. Siapa saja bisa menulis, karena setiap kita punya pikiran punya hati dan punya banyak hal yang ingin diungkapkan dengan kata kata. Tapi banyak di antara kita tidak pandai untuk mengeluarkan isi hati dan pikiran dalam bentuk percakapan, termasuk saya. Menulis bisa menjadi solusinya.

Tahukah Anda bahwa kitab kitab jaman dulu yang Anda baca sekarang, ada karena ada yang menuliskannya? Juga karya karya ilmiah jaman dulu bisa kita pelajari kembali sekarang karena ada yang menuliskannya. Bayangkan jika semua itu tidak ada, kita takkan pernah tahu yang namanya sejarah, asal usul, dan segala kejadian yang pernah tercatat di muka bumi ini. Hanya saja memang ada tulisan yang dianggap sudah usang, tidak up to date untuk di terapkan pada jaman ini, tapi persoalannya bukan di situ. Persoalannya adalah penulisnya sudah tercatat dalam sejarah bahwa satu kejadian yang pernah terjadi dulu dicatat, bisa dijadikan bukti sejarah maupun hanya konon ceritanya. Bahwa apa yang ditulis di jaman dulu ada kesinambungannya dengan apa yang terjadi saaat ini. Siapkah anda mencatat sejarah jaman sekarang, hanya dengan menulis apa yang anda lihat, dengar dan rasakan. Kelak Anda akan dikenal oleh keturunan anak cucu anda dari tulisan Anda. Menulis juga salah satu kita mencari kebenaran. Tentunya yang memproses adalah waktu,apakah yang kita tulis itu sebuah kebenaran atau hanyalah pendapat pribadi kita. Jika Anda memiliki ide ide tapi hanya tersimpan di pikiran dan hati Anda, maka yang mengetahuinya hanyalah Anda. Mungkin Anda bisa saja menceritakan ide Anda pada orang lain, hanya saja orang bisa saja lupa, bahkan Anda sendiripun mungkin lupa dengan apa yang telah Anda ceritakan tersebut. Jika Anda menuangkannya dalam bentuk tulisan orang lain bisa mengetahui dan mengerti pikiran Anda, bahkan mungkin mempelajarinya. Ide ide ini bisa sangat bermanfaat , mungkin saja menginspirasi,memotivasi hal orang lain hanya dengan membaca tulisan Anda. Jangan pernah pelit dengan isi pikiran Anda, tuliskan dan bagikanlah. Semoga Anda termotivasi.

Salam PNBB, sudahkah Anda menulis hari ini ? 🙂

[Tips Menulis] Mengejar “Bang Ilham”

Oleh: Osya Oshin

Mitos yang selama ini berkembang di kalangan penulis adalah bahwa aktifitas tulis menulis hanya bisa dimulai jika muncul inspirasi, atau yang biasa diistilahkan sebagai ilham.

Konon, ilham tak ubahnya jaelangkung; datang tak dijemput, pulang tak diantar.

Dengan kata lain, dia bisa datang tiba-tiba seperti jatuh dari langit, tapi kalau sudah mampet bikin sepet. Tidak heran, seseorang akan melakukan apa saja (termasuk bersemedi di goa-goa?) demi menanti kedatangan “Bang Ilham”.

Mungkin tidak sepenuhnya salah, tapi menunggu ilham dengan cara seperti itu, kok, rasanya lamban. Seorang penulis tidak akan produktif jika bersikap pasif, sebaliknya dia harus aktif mengejar “Bang Ilham” dan tidak sekedar menunggu kedatangannya.

Putu Wijaya pernah menyarankan: “Perkosalah dirimu sendiri untuk produktif dan kreatif dalam mengarang.” Ya, memperkosa diri sendiri, sebab sejatinya ilham telah ada dalam diri penulis sendiri.

Ibarat time warp atau lorong waktu, seorang penulis hanya butuh menekan tombol Enter, klik. . . lalu dia akan melesat sekedipan mata ke dalam situasi yang sama sekali berbeda. Sampai pada ruang dan waktu yang dia inginkan. Berkelana menjamah galaksi, menjamah dunia bawah laut, mengobrak-abrik alam mimpi, kembali ke masa lalu, mengintip skenario masa depan, bahkan dunia antah barantah sekalipun.

J. K. Rowling, dengan kelincahannya dalam mengembangkan daya khayalnya, mampu mencipta dunia sihir, membikin jutaan orang di dunia terlena. Atau Edgar Rice Bourroughs, dengan imajinasi liarnya mampu menaklukkan ganasnya belantara Afrika lewat tokoh Tarzan, ciptaannya, mengecoh jutaan generasi selama berpuluh tahun, padahal Bourroughs tak pernah sekalipun menginjakkan kaki di benua hitam itu.

Bagi saya pribadi, ilham bisa saya pungut dari mana saja. Adakalanya ia lahir dari curhatan teman-teman, saudara, orang asing yang baru kenal sambil lalu, atau bahkan penderitaan mantan kekasih *eh?!*

Tidak jarang pula ilham saya petik dari pengalaman pribadi. Berangkat dari pengalaman menimba ilmu di pesantren, misalnya, saya jadi tau seluk beluk darah biru keluarga Kyai, dimana anak-anak Kyai akan dijodohkan dengan anak Kyai pula. Setahun setelah lulus dari pesantren, saya merasa “hamil” cerpen dan akhirnya melahirkan tulisan berjudul “Pilihan Mas Fathan”. Atau saat saya berkenalan dengan lelaki asing di bus yang mengaku memiliki ilmu laduni, turun dari bus saya sudah “hamil” dan melahirkan cerpen “Lelaki Itu Berilmu” segera setelah sampai di rumah.

Tebaran sumber-sumber ilham tersebut benar-benar tersangkut dalam sanubari saya, dan dengan sedikit sentuhan imaji (Imagical Touch) sebagai bumbunya, jadilah cerita fiksi.

Ilham begitu menarik untuk ditulis jika setidaknya memenuhi dua hal: ilham itu lekat dengan fenomena sehari-hari, dan menyentuh rasa di hati. Penghayatan akan nilai hidup, kemarahan, kejengkelan, penderitaan, kebahagiaan, atau apapun yang mengusik batin bisa menjadi lahan-lahan subur bagi lahirnya “Bang Ilham”.

Begitulah. Sebab kehidupan itu sendiri adalah sumber ilham yang tidak akan habis untuk digali. Selanjutnya, tentu saja, penulis hanya perlu berurusan dengan teknik penulisan, seperti plotting, karakterisasi, setting, dll. Lalu, agar cerita fiksi itu lebih bernyawa dan membangkitkan rasa di jiwa pembaca, penulis juga perlu menambahkan sentuhan agama (tanpa harus terkesan menggurui), moral, atau ajaran kebajikan lainnya.

Setelah semua “bumbu” tersebut diracik dan membaur dengan imajinasi yang meletup-letup, tinggal memberi judul yang pas dan kemudian memeriksa ulang kesalahan yang mungkin terjadi sebagai sentuhan akhir (finishing).

Kuncinya hanya satu: Terus Menulis!

Di sekitar kita, “Bang Ilham” gentayangan, tinggal tangkap, olah, lalu tulis. Ya, tulis! Apalagi?

[Mengatasi Hambatan Menulis] Libas Monster Breaker dengan Malaikat William

Oleh: Osya Oshin

 

Jika saya tulis, inilah daftar hambatan menulis, setidaknya bagi saya pribadi:
1. Tidak punya waktu
2. Deadline yang mengejar
3. Belum ada ide
4. Pikiran buntu
5. Takut salah
6. Merasa konyol
7. Butuh eskrim dan duren

*yang nomor 7 hanya modus 😀

Semua hambatan tersebut di atas saya sebut sebagai “Monster Penghancur Diri” (agar terkesan garang, saya sebut Monster Breaker).

Bisakah saya lepas dari cengkraman Monster Breaker? Bisa!

Dan saya hanya butuh bantuan malaikat bernama “Keinginan” (yang ini saya namai Will-I-Am —> William; Will artinya Keinginan).

Saat Monster Breaker berusaha menguasai, tak ada jalan lain selain: tinggalkan PC lalu ngeloyor pergi atau tidur! Bukan berarti saya menyerah pada Monster Breaker. Bukan.

Saya lebih memilih jalan-jalan sejenak, sekedar beli eskrim, melumerkan ketegangan.

Atau saya tinggal tidur dengan lagu dari Westlife jaman SMA sebagai pengusir si Monster, dan begitu bangun, Monster itu kabur, saya langsung menulis apa saja.

Menulis tidak hanya di atas kertas, tidak melulu di depan komputer. HP pun jadi.

Tidak masalah jempol six pack karena kebanyakan nulis catatan di HP, yang penting saya bisa menulis, menulis, dan menulis! Stephen King, seperti dikutip dalam buku Quantum Writing, mengatakan: “Menulislah dengan alasan apapun asal bukan untuk meremehkan.”

Nasihat bijak juga saya dapat dari penulis buku Dear Writer: The Classic Guide to Writing Fiction (diterjemahkan oleh penerbit Kaifa dengan judul “Menulis dengan Emosi”), Camel Bird, yang mengatakan bahwa untuk menulis sebuah prosa yang dibutuhkan pertama kali adalah niat dan keyakinan, setelah itu baru pikiran. Bird mengatakan berkali-kali, “Menulislah dengan hati”.

Sejalan dengan pendapat William Forrester, bahwa: “Kunci pertama dalam menulis adalah bukan berpikir, melainkan mengungkapkan apa saja yang Anda rasakan. Maka menulislah –pada saat awal- dengan hati. Setelah itu perbaiki tulisan Anda dengan pikiran.”

Ini artinya, yang perlu kita lakukan hanyalah terus menulis, jangan banyak berpikir macam-macam yang membuat ragu. Lalu setelah kalimat terakhir digoreskan, maka kita membaca ulang dari awal dengan pikiran.

Monster Breaker datang lagi? Sekali lagi, abaikan dia!

Jika dengan jalan-jalan dan tidur masih belum sanggup mengusir Si Monster, ada 1 hal lagi untuk menyiasatinya: bertualang keliling dunia.

Mungkinkah saya mengelilingi dunia ini dalam waktu singkat? Mungkin! Dengan cara apa? Membaca!

Jengah karena terus dikejar Monster Breaker, saya diam-diam berkenalan dengan Naguib Mahfouz lewat novelnya “Di Bawah Bayang-bayang Perang” (judul asli Al Hubbu Tahta Al Mathar). Dengannya saya diajak berkeliling kota Kairo, menelanjangi karakter orang-orang Mesir, ikut larut merasakan suasana Mesir pasca perang dengan Israel yang penuh ketidakpastian, moral dan etika yang langka, pemuda yang terkena wajib militer, sementara pemudinya terjerumus pergaulan bebas. Saya juga berkesempatan mengenal sosok Ibrahim, Nona Muna, Aliyah, Tuan Husni Hijazi, Tuan Hasan Hamudah, Tsaniya, dan sederet orang Mesir lainnya.

Lain waktu, saya singgah di Libanon dan berkenalan dengan seorang pramugari bernama Syuruq, berbagi cerita cinta dengannya lewat novel “Cahaya Cinta” karya Samiroh. Hari berikutnya, mengikuti langkah Bang Valiant Budi Yogi menjadi TKI di Arab Saudi, turut menangis dan tertawa miris bersamanya lewat kisah nyatanya di “Kedai 1001 Mimpi”.

Lewat The Journeys, saya juga menyempatkan singgah sebentar mencicipi hidangan tapas dari Spanyol, menerima kecupan dari lelaki asing dari Lucerne, Swiss, mengunjungi Institute of Mental Health di Singapura, melipir ke Tel Aviv, kedinginan di Belanda, lalu berakhir di pulau surga Karimunjawa, Indonesia.

Begitulah. Ada banyak cara yang dilakukan William untuk membantu saya melibas Mosnter Breaker.

So, Monster Breaker, I dare you to try!