[Mengatasi Hambatan Menulis] Buat Kesepakatan Dengan Ide!

Oleh: Navwierqz Part X

Setiap profesi yang kita lakukan pasti ada yang namanya hambatan . entah itu hambatan yang mudah di lalui hingga hambatan yang bisa bikin stress , mual mual , kejang kejang ,diare dan bahkan bisa bunuh diri . . . astagfirullahaladzim .

Begitu juga dengan profesi dunia kecil kita , menulis . banyak penulis , khususnya yang masih amatir seperti saya ini mengalami hambatan hambatan tersebut . mungkin karena kurangnya pengalaman dalam mengatasinya . hambatan sering kali muncul disaat kita benar benar telah menemukan ide . entah itu tidak ada pena , kertas, hp . pas lagi asyik asyiknya bekerja , di saat sedang berbincang dengan orang , dan bahkan yang lain lagi . memang sesuatu yang bernama ide ini pantas di beri gelar JELANGKUNG . datang tak di undang dan pergi seenaknya .

Trus, bagaimana dunk ?? oke , saya akan mencoba memberi saran bagaimana mengatasi hambatan yang seperti itu .

Jika kita berada pada posisi yang tidak tepat , misalnya seperti yang saya sebutkan di atas dan tiba tiba si ide itu dating . otomatis kan kita tidak dapat menuangkan ke dalam coretan yang indah bukan ?? terus bagaimana agar si ide ini tidak kabur . .?

Langkah pertama yang harus di lakukan adalah ucapkan salam “ Assalamualaikum , ide . . “ hehe . . mungkin dengan ini si ide akan merasa sungkan untuk pergi seenaknya.

Nah kemudian , buatlah kesepakatan dengan ide tersebut . misalnya : Ide tersebut harus direalisasikan dalam bentuk coretan dalam jangka waktu 7 jam (tergantung sikon ). Nah apabila tidak dapat melaksanakan kesepakatan tersebut maka harus di hukum . contohnya push up 100 kali . hehe . .mampus gak tuh . .

Namun bila sukses melakukan kesepakatan tersebut . maka harus di beri hadiah , misal bakso 3 mangkok . kan enak tuh . . hihi . mendingan bakso 3 mangkok kan daripada push up 100 kali . hayyoow . .

Jadi intinya , hukumlah diri kita saat diri kita gagal dan berilah apresiasi yang special disaat kita berhasil merealisasikan sebuah tulisan . mungkin dengan begitu kita akan lebih semangat kedepanya .

Ayo kita buat dunia kecil kita lebih berwarna. . . . .

[Motivasi Menulis] Menulislah Karena Syurga!

Oleh Naz Nifa

“Tau nda apa yang sedang Allah rekayasa ketika Ia menakdirkan Muhammad menjadi penggembala?”

Tanya seorang pria setengah baya 5 tahun lalu di sebuah rumah makan fried chicken terkenal di kota Banjarbaru, AZ namanya. Mendengar pertanyaannya aku hanya tersenyum, sebagai tanda Aku tidak punya jawaban yang kuanggap tepat.

“Karena Allah ingin menjadikan dia seorang pemimpin besar” ia menjawab sendiri pertanyaannya, seolah tau kalau Aku memang tidak punya jawaban.

“suksesnya seseorang mengembala bisa menjadi indikasi bahwa suatu saat ia akan sukses memimpin manusia” ia melanjutkan penjelasannya, Aku masih diam, menyimak sekaligus berfikir apa hubungan pengembala dan seorang pemimpin. Karena dari strata social kelasnya justru jauh berbeda. Melihat alisku yang berkerut, lelaki setengah baya itu tersenyum

“menggembala bukanlah hal yang mudah. Karena kita harus mengendalikan hewan yang tingkat intelektualitasnya sangat jauuuuh dibawah manusia. Ia harus mengendalikan ternaknya agar lebih beradab dan tidak merugikan orang lain, tidak merusak dan makan tanaman orang”. Katanya panjang lebar.

“terus tau nda mengapa Allah menakdirkan Muhammad menjadi orang yang buta huruf sebelum ia menerima wahyu?” sambil menghirup juice watermelon yang ia pesan, ia kembali bertanya.

“karena Allah ingin manusia meyakini tentang kemurnian Alqur’an sebagai firman Tuhan” jawabku, yang kemudian disambutnya dengan senyum.

“dulu Bapak sering berfikir, jika saja Allah tidak membutuhkan rasionalisasi itu untuk menjelaskan kebenaran Alqur’an sesuai logika manusia, Bapak yakin untuk mengendalikan pola fikir manusia Dia akan menjadikan Muhammad sebagai penulis sejak kecil dan itulah alasan mengapa saya memilih profesi ini” katanya mantap

Ya, selain seorang konsultan kehumasan, Bapak ini sangat suka menulis. Aku mengenalnya setelah beberapa kali share via telfon ketika aku menjabat sebagai koordinator departemen komunikasi dan opini KAMMI daerah kalsel. Hari itu secara tidak sengaja kami bertemu disebuah seminar kehumasan yang mengundangnya sebagai pembicara.

“coba fikirkan anggap saja ada 100.000 penduduk Banjarbaru. Ketika tulisan kalian masuk Koran dan dibaca minimal oleh 0,001 persennya. Kemudian paradigm mereka membaik karena pencerahan dari ide yang kalian tuliskan. Bukankah itu amal jariah yang luar biasa? Apalagi kalau sampai banyak yang baca.

“ setelah memberi jeda ia kembali melanjutkan “mengharapkan balasan dari sebuah kebaikan bukanlah hal yang dilarang.. jika banyak orang yang menulis karena uang, maka menulislah karena syurga, niatkan lillahita’ala. Karena ketika menulis hal-hal baik dan bermanfaat, sebenarnya disaat yang sama kita sedang menabung pahala untuk menebus syurgaNya Allah” katanya.

“belum lagi jika berfikir pada proses perbaikan ummat. Munculnya agama ini karena munculnya ummat. Sejarah membuktikan ummat manapun yang jauh dari budaya menulis dan membaca akan menjadi ummat yang tertinggal dan terkebelakang. Bukankah kebaikan ataupun pengetahuan harusnya dibagi? Bukan disimpan sendiri”

mendengar apa yang ia katakan, Aku mengangguk, tanda setuju.Semenjak pembicaraan itu, motivasiku untuk menyampaikan ide dari tiap pengalaman menjadi semakin besar, terlebih setelah kutemui sebuah kata mutiara yang berbunyi ‘jika kau bukan anak seorang raja ataupun seorang ulama besar, maka jadilah seorang penulis. Karena dunia ini tidak bermula dari apapun kecuali dari aksara’.

Begitu banyak ilmu pengetahuan yang bisa kita gali saat ini, salahsatunya karena ada mereka yang bersikeras menyisihkan waktunya untuk menulis, mengabadikan tiap pengalaman, tiap teori dan pelajaran, tiap pengetahuan dan tiap perjalanan.sejak saat itu Aku menggilai menulis, meskipun lebih banyak moody-nya atau terpaksa karena dikejar deadline. Tapi setidaknya setiap kali mengingatnya, aku selalu menyimpan komitmen bahwa suatu saat aku berharap bisa menuliskan banyak informasi dan pengalaman berharga.

And the last…Aisyah r.a berkata ‘ajari anak2 puisi sejak dini’.

Umar Bin Khattab berkata “ajarkanlah sastra pada anak2mu, agar anak yang pengecut jadi pemberani”.

Buya Hamka berkata “sesuatu yang dibutuhkan untuk menghaluskan jiwa adalah seni dan sastra” Aku berkata “menulislah (apa saja) agar kau dapat mengenali dirimu sendiri”

Mari menulis, mari merayakan keabadian!!!

Berau, 03122011

[QOTD] EWA # 1

TULISKAN apa yang ada di dalam pikiran, BUKAN memikirkan apa yang dituliskan. [Ersis Warmansyah Abbas  a.k.a EWA]

[QOTD] Heri Cahyo # 1

BUKAN berapa banyak ilmu yang kita punya… asal kita mau menuliskan… insyaAllah LEBIH BERMANFAAT — ayooo menulis!! (Heri Cahyo)

[Mengatasi Hambatan Menulis] Menulislah!

Oleh: Citra Dewi

Sebagai pemula dalam bidang ini saya masih sering terjebak dengan berbagai Raja dan Ratu alasan yang sangat terkenal diantaranya: tidak ada ide,tidak trampil, suka menunda, tidak ada waktu , capek dan sebagainya dan sebagainya.

Dilain pihak dengan semakin sering membaca tulisan tulisan sahabat di PNBB, sayapun semakin termotivasi dan segera mengeliminasi negatif thingking yang ada dibenak karena ada tuntutan jiwa yang kuat bergejolak mendorong untuk segera in action dalam menulis dan tidak hanya berandai andai dalam angan. Pada puncaknya saya memilih untuk ´memaksa diri´ dengan segera menulis, menuangkan ide yang ada dipikiran. Apa saja yang ingin di tulis segera dituliskan baik di agenda, HP, dan sesudah itu baru diedit, ditampilkan atau disimpan.

Dan alasan yang terpenting mengapa saya menulis adalah karena menulis buat saya adalah suatu refleksi jiwa. Suatu ungkapan dari pemikiran, pengalaman, perasaan dari suara jiwa yang ditampilkan. Jiwa yang penuh dengan dengan getar getar dari dua sisi kehidupan ini. Ada positivisme, kegalauan, tanda tanya dan pertarungan antara rasa dan asa.

Dengan menulis tekanan yang ada mengalir keluar bagaikan air bah dengan derasnya sehingga setelah menulis ada rasa lega yang luar biasa. Ada kepuasan batin. Menulis ternyata suatu terapi yang murah meriah yang hasilnya sangat effektif. Menulis adalah berpikir, merasakan, dan mengungkapkan. Ketiga kombinasi ini menyatakaan bahwa jiwa mempunyai smaak atau cita rasa.
Mari bersama menjemput, memburu, menangkap, merenggut, menyedok ide serta membagikannya. Selamat menulis!