Oleh : Afiani Gobel

 

Awal dari menulis, adalah membaca.

Mengapa begitu? Karena perintah pertama adalah BACA.

Tidak perlu ditelaah ulang. Karena itulah yang tertuang dalam Al Qur’an.

Lalu, mengapa membaca ? Karena seseorang dapat mengetahui lebih banyak dengan membaca. Dan kehidupan menulis hadir dari ruh membaca.

Lalu muncul pertanyaan selanjutnya. Mbak-nya kok bisa sering2 nulis itu, idenya dapat dari mana ? Banyak baca ya ? (Untuk pertanyaan ini saya akan malu menjawabnya. Karena, saya itu CINTA menulis tapi, hanya SUKA membaca) Intinya besar pasak dari pada tiang. Itu kalau ukurannya membaca buku yaa. Apalagi kalau dilanjutkan dengan ‘Punya banyak sekali buku ?’ (makin saya malu menjawabnya. Karena belakangan saya mulai jarang beli buku)

Jadi, bagaimana mendapatkan ide?

Sederhana saja, yaitu dengan membaca.

Membaca Apa :

  • Membaca Peristiwa

Bagi yang benar2 ingin sering2 melakukan menulis. Maka setiap peristiwa di sekitar kita merupakan sebuah bacaan penting. Disana ada tokoh, waktu, tempat, alur dan segala hal yang kita butuhkan dalam membuat tulisan yang utuh. Kita tinggal membacanya dengan sungguh-sungguh. (Contoh, kecelakaan yang kita lihat, sebuah demo di jalan, sopir angkot yg ugal-ugalan, dll) Baca peristiwa, olah dengan pikiran mendalam, lalu mulailah merangkai kata.

  • Membaca Suara

Telinga kita juga adalah alat ‘baca’ yang luar biasa. Suara akan menyampaikan satu bentuk imaginasi (terutama saat kita tidak melihat sumber dari suara tersebut) yang akan dapat kita olah untuk menjadi sebuah tulisan. Tentu kita pernah membaca, bagaimana suara jangkrik juga bisa menjadi sebuah bagian dalam tulisan. Suara burung yang merdu, menjadi bagian dalam tulisan yang menyatakan bahwa suara itu serupa dengan buluh perindu. Syahdu. Perhatikan suara2 di sekitar kita. Ia adalah satu nada, di mana kita bisa menemukan banyak aksara.

  • Membaca Alam

Pernah lihat video Harun Yahya? Bagi yang sudah, bersyukurlah. Bagi yang belum, carilah. Hehee.
Video Harun Yahya adalah serangkaian video yang menggambarkan bagaimana ajaibnya penciptaan, keunikan binatang, ada juga video tentang tumbuhan. Kesemua isi dari video2 Harun Yahya, menampilkan peristiwa alam yang ternyata merupakan peristiwa yang telah tercantum dan dijelaskan dalam Al Qur’an. Siapapun yang telah membuat video-video itu, ia telah membaca alam dan ‘menulis’kannya dalam bentuk video. Penulis yang telah membaca alam, akan segera menegakkan pena-nya. Perhatikanlah pepohonan, jangan lewatkan untuk membaca hujan, cernalah semilir sang angin, bacalah alam maka ide kan menghampiri kita.

  • Membaca Manusia

Manusia adalah objek paling menarik yang bisa kita tulis. Bagaimana tingkah laku mereka, apa saja yang mereka alami, pendapat mereka yang berbeda-beda, pembicaraan mereka, cara bicaranya, kata-kata mereka. Semua dalam diri manusia dapat kita baca. Bahkan hati, jiwa.. Maksudnya ruhiyah mereka pun dapat pula kita baca. Itulah yang biasa kita sebut aura. (meski kita bukan seorang yang tajam bashirahnya. Tentu sedikit pula yg bisa kita baca. Tergantung batas diri kita) Seorang teman dalam sebuah pertemuan, berkata pada teman-teman saya yang lain. “Hei, hati-hati kalau bicara pas ada Fian. Ntar ditulis lho.” Begitulah saya. Banyak tulisan merupakan hasil dr mengamati manusia dan segala bentuknya. Jadi, waspadalah kalau berinteraksi dengan saya. Bisa jadi tulisan. 😀 Jadi, kenali manusia, baca dirinya dan tulis apa yang telah kita baca.

  • Membaca Media

Kita tidak mungkin senantiasa mendapati diri kita mengalami sendiri sebuah peristiwa, atau selalu mendapatkan cerita dari orang-orang didekat kita, atau sedikit-sedikit beranjangsana untuk membaca alam, atau terlalu sering berkumpul untuk membaca manusia. Adakalanya kita hanya bisa berada di rumah dan tidak menemukan sesuatu yang menarik untuk dibaca. Apakah saat di rumah kita tidak perlu membaca?? Kita mungkin bisa membaca manusia2 yang ada di rumah. Namun, jika itu sudah pernah ditulis, maka menfaat si kotak hitam yang ‘gendut’ atau si warna-warni yang ‘langsing’. (apa coba?) Hehee. Itulah si televisi. Tontonlah TV, maka ia bisa menjadi ide. Beberapa tulisan saya juga terinspirasi dari televisi. Bisa juga nonton film dari DVD. Dengarkan radio, baca koran, majalah, buku dan teman2nya. Karena media menyajikan sesuatu yang mungkin terlalu jauh untuk dapat kita akses. Baca media, dan ide pun datang.

 

  • Mentok Membaca

Ini adalah masa, dimana sudah membaca, sudah sungguh2 mencerna, ternyata sang ide tak juga di dapat. Seorang penulis novel2 terkenal (saya bener2 lupa namanya. Yang jelas dari luar negeri) berkata, “Tuhan, datangkanlah ide.” lalu.. “Dan ide itu pun datang.” lanjutnya. Hmm.. Ajaib ternyata. 🙂 Lakukan ini, setidaknya, setiap kali memulai sesuatu, mulailah dengan ‘bismillaah’. Kebaikan yang di awali dengan kebaikan tidak akan memunculkan selain kebaikan.

Aktifkan setiap indera. Bacalah semesta. Ide akan selalu ada. Tuliskan semuanya.

 

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,