Oleh Siska Ferdiani

“Bu Yani, makannya khusyu banget jidatnya sambil berkerut-kerut gitu.” Bu Yani terperanjat. Bahunya sontak terangkat dan nasi yang sedang dikunyahnya nyaris tersembur

Uhuk … uhuuuk … UHUUUUUKKK …

Melihatnya tersedak, aku jadi panik. “Eeehhh aduuuhh maap … jadi keselek deh tuh, minum … mana minum … nii minum dulu buu …”Segelas air yang kuangsurkan ditenggaknya hingga nyaris tandas.

Aku penasaran dengan sikap aneh rekanku ini. Aku menatapnya dengan intens, pupil mataku melebar“Kamu kenapa sih jeng? Ada yang dipikirin yaa …” .

“Ehmm enggaakk … enggak napa-napa kok bu. Eh udah selesai nih makannya, aku naik duluan ya.” Tatapan mataku mengiringi kepergian bu Yani dari kantin. Di tengah jalan, ku lihat seorang ibu menghentikan langkahnya. Alis mata bu Yani tertarik ke atas, dengan ragu dia menyalami tamunya itu.

***
Sudah baca penggalan cerita di atas? Pastinya sobat ikut mengerutkan jidat saat membacanya bukan? Ingin tahu apa yang terjadi dengan rekanku itu? Atau minimal bertanya-tanyallah, kok tulisannya ada yang dicoret-coret sih? Hehee … suka deh bikin penasaran kalian semua.

Jadi begini sobat, kebetulan kemarin siang saya menemukan buku menarik yang berjudul Asyiknya Menulis Cerita karya Celia Warren. Sebetulnya buku itu diperuntukkan untuk anak-anak, tapi untuk saya yang tak pernah belajar teori menulis, buku simple itu cukuplah membantu memahami tentang beberapa komponen dalam cerita. Berhubung saya ingin membuat serial Lunch Time, jadi ada baiknya tips-tips tersebut ku praktekkan dan sekalian ku share kepada sobat sekalian.

Sebelum itu, beberapa hari yang lalu, saya mengikuti acara bedah cerpen di komunitas sebelah. Cerpennya sendiri menarik, tetapi yang lebih menarik adalah kripik pedasnya, terutama kripik yang satu ini :

Cerpen di atas terlampau memberikan kesan ‘Tell’, minimnya deskripsi, ‘show it, dont tell it’. Memperlihatkan ketergesa-gesaan menggarap dan menuntaskan cerita.

Kalau soal ketergesa-gesaan sih sudah biasa kita dengar ya sobat. Tapi istilah ‘Tell’, ‘show it’ dan ‘don’t tell it’ itulah yang bikin penasaran, kira-kira apa yah maksudnya. Tapi Alhamdulillah, Celia Warren menjawab rasa penasaran saya dengan singkat dan jelas.

Tips 1 Menunjukkan Emosi :
Di dalam tulisan, lebih baik kita memperlihatkan sesuatu dan bukan memberitahukannya. Ekspresi wajah dan bahasa tubuh seseorang memperlihatkan perasaannya. Bayangkanlah karakter tokoh kalian. Lalu, tunjukkanlah, jangan katakan kepada pembaca, tentang perasaan tokoh itu melalui tindakan, reaksi, dialog dan bahasa tubuhnya.

Contoh 1:
Katakan : Bu Yani terperanjat
Tunjukkan : Bahunya sontak terangkat dan nasi yang sedang dikunyahnya nyaris tersembur … uhuk … uhuuuk … UHUUUUUKKK …

Catatan : Saat menunjukkan, kata kerja ‘terperanjat’ tidak muncul. Tetapi kita tahu bu Yani sangat kaget hingga tersedak.

Contoh 2 :
Katakan : Melihatnya tersedak, aku jadi panik
Tunjukkan : “Eeehhh aduuuhh maap … jadi keselek deh tuh, minum … mana minum … nii minum dulu buu …”

Catatan : Saat menunjukkan, kata sifat ‘panik’ tidak muncul. Tetapi dari ucapan tersebut, kita tahu ‘Aku’ sedikit panik melihat rekannya tersedak.

Naah, sekarang sudah paham kan, kenapa ada coretan-coretan di penggalan cerita di atas? Yup, itu hanya sekedar contoh saja sob. Oke sekarang kita beralih ke kasus selanjutnya. Ketika saya meminta saran masukan dari sobat-sobat berkaitan dengan ebook kedua saya yang berjudul ‘Lunch Time’, sobat Doni Febriando melemparkan kripik maicih tingkat 3 kepada saya, berikut petikannya :

Tulisannya mbak menurutku sudah bagus. Temanya pun oke oke. Hanya saja, kalo dianalogikan dgn cerpen, tulisan mbak sedikit bagian pembukanya lalu kebanyakan bag konfliknya lalu ditutupnya lmyn kecepetan. Pdhl aku pas itu lg mikir, eh tb2 udh mulai selesai

Sekali lagi saya berpikir keras, sebetulnya bagian pembuka dan penutup yang bagus itu seperti apa ya? Sekali lagi, beruntung saya ‘bertemu’ dengan Celia Warren, walaupun masih minim contoh tetapi lumayanlah untuk sedikit menyibak kabut misteri tentang teori bagian awal, tengah dan akhir pada sebuah cerita.

Tips 2 Urutan Cerita :

Awal

Mulailah bercerita dengan ringkas. Libatkan pembaca tanpa banyak memberi penjelasan atau info rinci. Membuka cerita dengan kalimat langsung merupakan awal yang menarik.

“Bu Yani, makannya khusyu banget jidatnya sambil berkerut-kerut gitu.” Bahunya sontak terangkat dan nasi yang sedang dikunyahnya nyaris tersembur

Uhuk … uhuuuk … UHUUUUUKKK …

“Eeehhh aduuuhh maap … jadi keselek deh tuh, minum … mana minum … nii minum dulu buu …”Segelas air yang kuangsurkan ditenggaknya hingga nyaris tandas.

Aku menatapnya dengan intens, pupil mataku melebar.“Kamu kenapa sih jeng? Ada yang dipikirin yaa …”

“Ehmm enggaakk … enggak napa-napa kok bu. Eh udah selesai nih makannya, aku naik duluan ya.” Tatapan mataku mengiringi kepergian bu Yani dari kantin. Di tengah jalan, ku lihat seorang ibu menghentikan langkahnya. Alis mata bu Yani tertarik ke atas, dengan ragu dia menyalami tamunya itu.

Dari penggalan cerita di atas kita mengetahui beberapa hal :
1. Tokoh utamanya bernama bu Yani
2. Ada pertentangan dan masalah yang harus di atasi
3. Bu Yani tidak mengenal siapa ibu itu. (Penulis belum memberinya nama)

Tengah

Lalu, karakter tokoh berkembang dan semua peristiwa pun saling berkaitan. Jagalah plot yang terbuka cukup lama agar perhatian pembaca tidak beralih. Usahakan pula tidak terburu-buru agar pembaca mengenal para tokoh dan dapat mengikuti jalan ceritanya.

Akhir

Menyatukan semua ‘plot yang terbuka’ adalah hal yang penting. Jangan sampai pembaca berpikir, “Bagaimana dengan nasib si A dan B?” Berikan hasil yang memuaskan. Di akhir cerita, sebaiknya sebagian besar persoalan sudah terselesaikan. Buatlah pembaca puas setelah membaca kisah itu karena mengetahui apa yang terjadi pada semua tokohnya.

Nah, begitu ya sekilas teori tentang bagian awal, tengah dan akhir. Tapi mohon maaf, berhubung terbatasnya waktu senggang saya siang ini, jadi untuk bagian tengah dan akhir tak bisa saya contohkan sekarang, insya Allah Lunch Time seri selanjutnya, bagian tengah dan akhir cerita akan saya tuntaskan sekaligus share tips selanjutnya.

 

Serial Lunch Time lainnya :

Lunch Tme 2 – Belajar Menulis 2

 

Tags: ,