Oleh: Hazil Aulia

Menulis itu, satu diantara tanda bahwa otak kita masih berfungsi dengan baik. Menulis juga satu indikator yang menunjukkan bahwa otak kita masih normal. Banyak orang yang punya kemampuan untuk berbicara, bahkan orang yang “kurang” normal pun juga memiliki kemampuan untuk berbicara jelas, terlepas dari apakah yang dibicarakannya itu logis, runtut dan berkait. Menulis akan memberikan pembedaan serta menunjukkan “kenormalan” berpikir pada otak kita.

Dalam kenyataannya, banyak sekali di antara kita yang selalu merasakan adanya hambatan yang membelenggu tangan untuk menulis. Ada saja alasan pembenar yang dikemukakan, sibuklah, tidak “pede”lah, tidak mempunyai idelah dan kalau dituliskan di sini tentu bertirik-tirik. Heran saja, mengapa tidak bisa menghasilkan satu bentuk tulisan pun yang bisa dinikmati sendiri, apalagi bisa dibagikan pada orang lain agar turut menikmatinya?

Sebenarnya, semua yang membelenggu itu hanyalah “perasaan” saja, perasaan yang memang dimunculkan oleh “sisi buruk” diri kita, karena tugas sisi buruk kita adalah semua hal yang berlawanan dengan keinginan baik dan mulya dari “sisi baik” kita sebagai manusia.

Bagaimana menghambatnya? Bagaimana caranya agar kita bisa segera mengatakan “ya… akhirnya saya memang bisa.. dan menulis itu memang mudah”?

Ambil sehelai kertas dan alat tulis, atau dengan membuka aplikasi pengolah kata di komputer. Mulailah menulis seperti di bawah ini (yang dicetak tebal).

Saat ini saya ingin menyatakan bahwa otak saya masih normal karena saya mampu menulis suatu tulisan, namun saya merasa memiliki banyak hambatan dalam menulis tersebut.

Hambatan-hambatan itu antara lain:

  • Sibuk
  • Bingung ingin menulis apa
  • Khawatir dicemooh orang yang membaca
  • Tulisan saya tidak berkualitas
    (tuliskan semua hambatan menulis yang ada di pikiran)

Lihatlah, betapa banyaknya hambatan yang saya miliki dalam keinginan untuk membuktikan bahwa saya mempunyai otak yang masih normal.

Selanjutnya, cetaklah tulisan tersebut, dan bacalah. Voila. Ternyata sudah jadi satu tulisan bukan? Ternyata otaknya masih normal bukan?

Lalu bagaimana dengan daftar hambatan yang sudah ditulis itu? Camkanlah. Lihatlah. Sudah ada sehelai kertas yang berisikan tulisan. Itu berarti kalau kita menulis, melakukan tindak menuliskannya, maka hasilnya adalah tulisan. Dengan kata lain, hambatan yang selebihnya bisa diatasi dengan membaca, mengamati sekeliling kita, mendengarkan berita dan sebagainya, tetapi muaranya adalah tetap tindak menuliskannya. Tidak perlu malu, tidak perlu takut dicemooh orang lain yang bisa jadi juga belum menulis. Yang penting happy, dan kita membuktikan bahwa otak kita masih normal, sedangkan yang mencemooh belum tentu termasuk golongan yang normal, karena belum memiliki satu tulisan pun.

Begitu mudah menghambat hambatan keinginan untuk menulis itu bukan?

Yogyakarta, 2 Desember 2011