Oleh Hazil Aulia di PNBB – Proyek Nulis Buku Bareng

 

 

Seperti juga gaya yang bisa mati sehingga dikatakan mati gaya, nafsu menulis pun kadang juga bisa menurun kalau tidak bisa dikatakan mati. Pada saat-saat seperti ini, jamaknya orang merasa bete stadium akut. Sebenarnya keinginan menulis itu masih ada, tetapi seolah ia terselinap diantara berbagai masalah yang muncul dan menggelayuti tangan, pikiran dan perasaan.

 

Kondisi semacam ini sungguh membahayakan bila “diternakkan”, apalagi bila sudah sempat beranak-pinak, wah.. karam dunia.. Namun demikian, kondisi ini sebenarnya sangat-sangat lazim ditemukan dan saya amat yakin sekali bahkan orang yang berprofesi sebagai penulis pun mengalaminya. Lalu apa bedanya dengan kita, mereka yang sangat fasih dalam menulis dengan kita yang masih pembelajar ini? Bedanya terletak pada cara memperlakukan nafsu atau libido menulis yang kendur ini. Kita yang tidak tahu cara memperlakukan si libido menulis yang kendur ini cenderung “mengabaikan” hak-hak si libido tadi, sedangkan mereka yang fasih menulis, tidak berkehendak untuk mengabaikannya, namun bahkan “mengelus-elusnya” agar si libido menulis tadi kembali memuncak.

 

Jadi menurut saya, bila kita merasa bahwa libido menulisnya kendur, coba perhatikan, coba rasakan apakah kita sudah memberikan hak-hak si libido agar ia tetap bisa “meraung-raung” untuk disalurkan dengan menulis atau belum. Kita sudah menyadari bahwa ide tulisan bisa diserok dari mana saja, kita pun mempunyai piranti yang bisa membantu untuk mengingat kejadian, kamera, telepon seluler, buku catatan bahkan sebenarnya menyimpan sementara “bakal” tulisan tersebut di otak untuk kemudian dituliskan kembali. Nah, ajaklah si libido bertualang sejenak, segarkan diri dengan membaca, mengunjungi perpustakaan atau tempat-tempat lain yang bisa menggelorakan kembali si libido menulis tersebut.

 

Saya pribadi, terkadang cukup dengan menjelajahi komentar teman-teman di beranda Facebook atau di grup PNBB ini saja sudah bisa meraungkan kembali si libido menulis agar menyalurkan hasratnya. Pada kesempatan lain, saya juga mengunjungi situs-situs di internet untuk mencari buku-buku elektronik dan menemukan yang bahkan baru akan terbit beberapa bulan ke depan. Atau misalnya meluangkan waktu untuk bercocok tanam sejenak, menyiangi kebun, memasak, mengajak anak bermain dan sebagainya. Aktivitas-aktivitas tersebut rasanya sudah cukup mampu untuk menggetarkan kembali libido menulis agar ia meraung-raung minta segera disalurkan. Buatlah agar ia membuat kita mati penapsaran. Penapsaran? Ya, penapsaran adalah bahasa slang saya untuk mengibaratkan “saking penasarannya”, penapsaran untuk segera menulis kembali.

 

Lah, daripada kita mati penasaran meratapi libido yang kendur tadi, bukankah lebih baik kita mati penapsaran karena si libido menulis tak hentinya mengajak menggoyangkan jemari menyalurkan hasratnya?

 

Sekarang, ayo.. tunjuk jari, siapa yang libido menulisnya masih kendur?

 

Yogyakarta, 8 Desember 2011

 

Tags: , , , , , , , ,