Oleh: Osya Oshin

 

Jika saya tulis, inilah daftar hambatan menulis, setidaknya bagi saya pribadi:
1. Tidak punya waktu
2. Deadline yang mengejar
3. Belum ada ide
4. Pikiran buntu
5. Takut salah
6. Merasa konyol
7. Butuh eskrim dan duren

*yang nomor 7 hanya modus 😀

Semua hambatan tersebut di atas saya sebut sebagai “Monster Penghancur Diri” (agar terkesan garang, saya sebut Monster Breaker).

Bisakah saya lepas dari cengkraman Monster Breaker? Bisa!

Dan saya hanya butuh bantuan malaikat bernama “Keinginan” (yang ini saya namai Will-I-Am —> William; Will artinya Keinginan).

Saat Monster Breaker berusaha menguasai, tak ada jalan lain selain: tinggalkan PC lalu ngeloyor pergi atau tidur! Bukan berarti saya menyerah pada Monster Breaker. Bukan.

Saya lebih memilih jalan-jalan sejenak, sekedar beli eskrim, melumerkan ketegangan.

Atau saya tinggal tidur dengan lagu dari Westlife jaman SMA sebagai pengusir si Monster, dan begitu bangun, Monster itu kabur, saya langsung menulis apa saja.

Menulis tidak hanya di atas kertas, tidak melulu di depan komputer. HP pun jadi.

Tidak masalah jempol six pack karena kebanyakan nulis catatan di HP, yang penting saya bisa menulis, menulis, dan menulis! Stephen King, seperti dikutip dalam buku Quantum Writing, mengatakan: “Menulislah dengan alasan apapun asal bukan untuk meremehkan.”

Nasihat bijak juga saya dapat dari penulis buku Dear Writer: The Classic Guide to Writing Fiction (diterjemahkan oleh penerbit Kaifa dengan judul “Menulis dengan Emosi”), Camel Bird, yang mengatakan bahwa untuk menulis sebuah prosa yang dibutuhkan pertama kali adalah niat dan keyakinan, setelah itu baru pikiran. Bird mengatakan berkali-kali, “Menulislah dengan hati”.

Sejalan dengan pendapat William Forrester, bahwa: “Kunci pertama dalam menulis adalah bukan berpikir, melainkan mengungkapkan apa saja yang Anda rasakan. Maka menulislah –pada saat awal- dengan hati. Setelah itu perbaiki tulisan Anda dengan pikiran.”

Ini artinya, yang perlu kita lakukan hanyalah terus menulis, jangan banyak berpikir macam-macam yang membuat ragu. Lalu setelah kalimat terakhir digoreskan, maka kita membaca ulang dari awal dengan pikiran.

Monster Breaker datang lagi? Sekali lagi, abaikan dia!

Jika dengan jalan-jalan dan tidur masih belum sanggup mengusir Si Monster, ada 1 hal lagi untuk menyiasatinya: bertualang keliling dunia.

Mungkinkah saya mengelilingi dunia ini dalam waktu singkat? Mungkin! Dengan cara apa? Membaca!

Jengah karena terus dikejar Monster Breaker, saya diam-diam berkenalan dengan Naguib Mahfouz lewat novelnya “Di Bawah Bayang-bayang Perang” (judul asli Al Hubbu Tahta Al Mathar). Dengannya saya diajak berkeliling kota Kairo, menelanjangi karakter orang-orang Mesir, ikut larut merasakan suasana Mesir pasca perang dengan Israel yang penuh ketidakpastian, moral dan etika yang langka, pemuda yang terkena wajib militer, sementara pemudinya terjerumus pergaulan bebas. Saya juga berkesempatan mengenal sosok Ibrahim, Nona Muna, Aliyah, Tuan Husni Hijazi, Tuan Hasan Hamudah, Tsaniya, dan sederet orang Mesir lainnya.

Lain waktu, saya singgah di Libanon dan berkenalan dengan seorang pramugari bernama Syuruq, berbagi cerita cinta dengannya lewat novel “Cahaya Cinta” karya Samiroh. Hari berikutnya, mengikuti langkah Bang Valiant Budi Yogi menjadi TKI di Arab Saudi, turut menangis dan tertawa miris bersamanya lewat kisah nyatanya di “Kedai 1001 Mimpi”.

Lewat The Journeys, saya juga menyempatkan singgah sebentar mencicipi hidangan tapas dari Spanyol, menerima kecupan dari lelaki asing dari Lucerne, Swiss, mengunjungi Institute of Mental Health di Singapura, melipir ke Tel Aviv, kedinginan di Belanda, lalu berakhir di pulau surga Karimunjawa, Indonesia.

Begitulah. Ada banyak cara yang dilakukan William untuk membantu saya melibas Mosnter Breaker.

So, Monster Breaker, I dare you to try!

 

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,