Oleh: Diana Harjoto Putra

 

Wuihhh ini bakal jadi PR pertama yang ku kerjakan di PNBB. Heeee, maklum murid kuper alias kurang perduli  ^_^ ……..

 

Hmhh, aku menunggu kesempatan nulis ini dari jam 11.30 WIB tadi. Padahal sekarang udah jam dua siang, abisnya adaaaaaa aja yang mesti dikerjakan. Alhamdulillah akhirnya dapet juga kesempatan untuk anteng sejenak  di depan komputer.

 

Begini kawan, aku sedikit tertantang dengan PR yang satu ini, kebetulan masalah ini sering banget hinggap di hari-hariku. Sebenarnya suka banget membaca dan corat-coret sejak kecil, tepatnya sejak 22 tahun silam, banyak sekali manuskrip dan kerangka cerpen yang tertuang di buku diary (dulu belum punya computer) namun akhirnya ngangkrak karena sering aja tuh tiba-tiba hilang mood-nya, kadang juga karena waktu yang sempit disela aktifitas yang padet.

 

Trus setelah Allah memberikan rizki sebuah computer, penyakit itu ternyata masih berlanjut bahkan cerpen dan tulisan-tulisan magak (karena belum kelar) semakin banyak  memenuhi folderku. Karena sejujurnya aku juga sangat bermasalah dengan tata bahasa yang jauuhhhh bener dari EYD bahasa Indonesia yang baik dan benar.

 

Then  someday about 5 years ago, aku dapet tugas jadi pengurus perpustakaan dan majalah dinding di majelis ta’lim yang dibentuk oleh temen-temen sesama karyawan di sebuah perusahaan asing di Pulau Batam.

 

Aku agak pusing aja tiba-tiba harus memikirkan gimana caranya agar ada sesuatu yang tertempel di mading musholla perusahaan tersebut disetiap pekannya, sebenarnya bukan masalah besar sih….karena aku suka menulis. Hanya saja aku merasa belum pernah sekalipun menulis sesuatu yang menurutku menarik dan layak dibaca oleh banyak orang.

 

Hufffff….. tau nggak kawan, saat itu rasanya seperti memikul beras satu ton. Hmhhhhh…… beraaaaattttt.  akhirnya daripada pusing mikirin mading akupun datang ke sebuah masjid besar di sana, kebetulan sedang ada pengajian yang diisi oleh seorang ustadz muda dari papua yang sering nongol di TV karena ikut audisi da’i di sebuah TV swasta. Nama beliau ustadz Saiful Islam Al-Payage, mungkin kawan sudah tidak asing dengan nama itu.

 

Aku mengikuti acara beliau dengan seksama, sedikit mengurangi rasa stress karena tugas dadakan tadi. Sang ustadz  lebih banyak menceritakan tentang pengalamannya menuju hidayah Allah , sampai bagaimana cara dia menularkan hidayah itu kepada sanak-saudaranya di pedalaman papua sana.

 

Lalu insting imaginasiku bekerja, aku mencatat bebarapa hal di otakku yang kemudian setelah pulang aku menulisnya di komputerku. Aku tidak lagi memikirkan EYD dan segala macamnya, jemariku menari bebas di atas keyboard, tulisanku mengalir semauku, sesuai gaya bahasa dan imajinasiku sendiri, yang ada di benakku adalah “harus ada sesuatu yang bisa kutempel di mading esok hari”. Baru hari itu aku merasa benar-benar bebas menulis tentang perjuangan seorang Al-Payage, tak ada lagi kungkungan bahasa.

 

Alhamdulillah, setelah tulisan 4 lembar kertas A4 itu selesai, dengan sedikit tidak PeDe keesokan harinya aku menempelkannya di madding. Dan tau nggak kawand……..

 

Dua jam setelah aku menempel tulisan itu, beberapa orang teman di perusahaan itu menemuiku. Keringat dingin mengalir begitu saja. Karena gak main-main kawan, yang menemuiku seorang penting di perusahaan itu. Dan saat dia bilang mau ngomong soal tulisanku di mading. aku semakin gemetaran. Hrhrhrhhrhrhrh……

 

Eeeeeeehhhh… ternyata beliaunya bilang gini. “Dee, tulisannya asyik. Seperti mendengarkan orang bercerita, tolong dikopikan rangkap tiga ya, satu untukku dan yang dua lagi pesenan dari mbak Mina dan mbak Santi!”…..

 

Wow…. Amazing banget. Tulisanku dihargai kawan, duh betapa senang hatiku…. Burung-burung di hatiku serasa ikut bernyanyi dan berkicau…..

 

Dan sejak hari itu aku menyadari kekuranganku yang ternyata selama ini selalu merasa terpenjara oleh aturan bahasa yang belum kumengerti. Dan sekarang “mood” tidak lagi masuk daftar alasan untukku tidak menulis. Karena sumber penyakitnya telah kutemui.

 

SO….. GOOD BYE MOODY