Oleh: Mamane Kirana

Diawali pengalaman pribadi ketika saya kecil dulu, sebagai anak kolong, sepertinya jika tak bertengkar kurang afdol. Kalau tidak dengan saudara ya dengan teman main. Situasi ini yang membuat saya bertekad untuk mengupayakan anak, bagaimana caranya supaya tak mengulang masa kecil mamanya. Menurut saya hidup rukun dan saling menyayangi tentu lebih asyik.Tidak berisik.

Lalu lahirlah sisulung, yang sejak awal saya latih untuk berbagi. Tentunya disertai dongeng-dongeng sebelum tidur tentang keindahan dan hadiah dari Allah untuk manusia yang mau berbagi. Juga cerita-cerita akhlak Rasulullah dan para sahabat tentang berbagi.

Ketika mulai hamil anak kedua, selalu yang sulung saya ajak dengan ekspresi gembira mendengarkan denyut jantung siadik ketika saya memeriksakan secara rutin kehamilan tsb. Juga saya minta si sulung menyanyikan beberapa lagu untuk menidurkan si adik, dengan ekspresi wajah serta intonasi yang riang pula, saya katakan dia berhasil menidurkan adiknya, saya katakan si sulung adalah abang yang hebat, penuh rasa sayang, dan mama sangat gembira.

Mendengarkan denyut jantung si adik, merasakan tendangannya, membelai dan mencium (perut mama yang ada adiknya) serta mengobrol bersama dengan adik, adalah saat-saat yang menggembirakan kami berdua.

Sepulang dari rumah sakit setelah melahirkan, dengan pengawasan dan penjagaan super ekstra, saya penuhi keinginan si sulung untuk menggendong si adik. Tetapi tidak lama. Mereka berjarak 3 tahun persis dengan bulan kelahiran yang sama. Lalu mengajak ngobrol dan bernyanyi bersama dengan lagu-lagu yang ceria. Jika si bayi menangis dan si sulung minta perhatian, maka saya dahulukan kebutuhan si sulung.

Sampailah sibayi berusia playgrup, ternyata anak kedua saya sangat temperamen, wajahnya memang ngganteng, imut dan menggemaskan, tapi pemarahnya luar biasa. Di sekolah baru saja teman yang memandangnya sudah di tendang (disini peran kita sangat besar), karena itu saya latih anak untuk meminta maaf dan memberi pengertian, bahwa temannya tadi hanya melihat dan mengagumi ketampanan wajahmu dan anak itu menyukaimu (kataku memberi penjelasan). Masa sih ditendang. Tahulah jawaban versi anak, dia merasa khawatir kawannya akan mengambil gambar yang di buatnya. Pernah juga suatu kali dia menggigit temannya, sampai berdarah, saya dapat laporan dari guru. Seketika saya datang kesekolah dan membawa anak tsb ke dokter, lalu mengajak anak saya dan guru mendatangi rumah anak tsb, sambil membawa hadiah untuk temannya sebagai tanda penyesalan. Sebelum berangkat kerumah ortu anak tsb, sitengah saya drill dahulu atas perbuatannya yang tak terpuji, saya tanya alasannya kenapa si tengah menggigit temannya, dengan nada tegas, lalu apa keuntungan yang dia dapat. Serta saya tekankan bahwa saya sedih dan malu terhadap perbuatannya. Setelah ia paham, saya tanya maukah ia menanggung rasa sedih mama dan kecewa keluarga tsb dengan mendatangi rumahnya untuk meminta maaf? Alhamdulillah ia setuju. Kami berangkat bersama-sama dan meminta maaf. Tapi namanya anak, sebentar mereka sudah akur dan main bersama lagi.

Sikap pemarah tsb berpengaruh juga di rumah, si sulung yang sudah saya latih lembut, awalnya selalu menangis kena gigit si adik. Atau ditinju, ditendang, dinaiki, dicakar…hhuuuih, badan sitengah lebih kecil dari sisulung. Akhirnya saya bikin strategi, ketika sitengah menggigit saya suruh balas menggigit. (tetapi tanpa sepengetahuan si adik, saya yakinkan bahwa si sulung memiliki kekuatan yang lebih di banding adiknya. Dan tak perlu takut menghadapinya, balas saja asal waktu membalas harus ada mama dirumah. Khawatir kalau tak diberi pesan tsb, berakibat fatal. Sementara si adik diluar pengetahuan si sulung saya katakan bahwa abangnya itu anak yang baik selalu mengalah kepadanya karena rasa sayangnya bukan tak berani menghadapimu, lihat badannya aja gede, tentu tenaganya juga gede. Coba aja kalau tak percaya., ternyata sitengah menjajal kekuatan si sulung, digigitnya pantat abangnya dengan seluruh kekuatan giginya, karena ada saya, sisulung langsung balas menggigit…..hahaha satu sama, keduanya nangis kencang, ya karena sakit. Saya tak kehilangan akal, ambil salep trombofob (salep untuk memar) lalu mengoles gigitan di pantat keduanya. Setelah tenang saya peluk keduanya dan mendongeng lagi tentang hidup saling menyayangi dan kerugian yang diakibatkan pertengkaran. Alhamdulillah sejak saat itu adegan perrtengkaran berkurang drastis.

Jika mereka adu mulut, saya akan mendengarkan secara bergantian perkara yang membuat mereka berdua bertengkar. Setelah itu mereka saya minta mendengarkan penjelasan saya dan dari masukan tsb. mereka memutuskan sendiri siapa yang salah, dan kewajiban apa yang harus mereka lakukan. Seperti itu berulang-ulang.

Tak hanya disitu, sambil berkata maaf dan salaman, juga mereka harus berpelukan sambil saling menatap dan tersenyum. (Berpelukannya saya tuntut sepenuh hati, badannya harus nempel betul).

Begitu juga jika salah satu dari mereka sakit, selain memberi contoh, memberi perhatian, dan melibatkan salah satunya,mereka saya ajak untuk memahami rasa sakit yang dirasakan saudaranya.

Bagi yang sakit, saya latih mereka untuk tidak mengeluh tetapi tetap mengatakan ketidaknyamanan yang ia rasakan kepada saya. Membacakan penyakit yang dideritanya dari buku-buku sangat bermanfaat bagi si anak. Pertolongan pertama yang harus diketahui atau dilakukan seorang anak apabila ia merasa sakit juga saya berikan. Perhatian lebih, saya berikan dari biasanya (untuk mengurangi rasa sakit tsb). Serta pujian-pujian bahwa dia anak yang hebat mampu bertahan seperti para sahabat Rasulullah (saya sebutkan nama salah satu sahabat yang dia ingat dan mengulang cerita tsb).

Alhamdulillah dengan kesabaran, komunikasi yang interaktif dan pengertian serta kasih sayang, keinginan saya terwujud.

 

Tags: , , , , , , , , , , , , , , ,