oleh: Irawati Syahriah

Tiap penulis memiliki tips –tips sendiri dalam menuangkan tulisannya, disesuaikan dengan karakter kepribadiaan yang bersangkutan yang unik dan tidak bisa dibuat-buat. Boleh jadi dalam keseharian orang tersebut tampak pendiam namun tulisannya adalah tulisan mengalir dahsyat bak banjir tsunami. Ada pula orang yang tampak rame dan banyak omong, namun tulisannya santun dan menggugah jiwa.

Oleh karena itu marilah berdamai dengan diri sendiri, bila ingin menulis. Bertanya ke dalam diri patutkah  ide yang datang tiba-tiba ini saya tulis. Terkesan penakut dan lamban memang, tapi itulah suatu upaya membentengi diri dari berpikir sebelum bertindak.

Menulis sebagai sebuah action, atau tindakan memang perlu manajemen diri bahkan manajemen hati, menulis seperti berbicara, tidak bisa  dilakukan asal bunyi (asbun). Kerja otak kanan yang acak dalam menyalurkan ide tulisan harus diimbangi dengan otak kiri yang penuh ketelitian, bahkan seluruh otak mesti kita fungsikan dalam menulis. Hal ini perlu dilakukan bukan hanya  karena kita ingin menjaga image (jaim) para pembaca terhadap diri kita, ataupun karena ingin menghasilkan tulisan yang penuh sanjungan, bukan itu para sahabat. Ini hanyalah sebuah bentuk tanggung jawab moral kita ketika nanti pembaca ada yang mempertanyakan tentang akibat atau dampak dari tulisan kita. Berapa banyak tulisan yang membuat para penjahat berubah haluan menjadi orang soleh hanya karena membaca tulisan pencerahan jiwa, dan banyak pula tulisan yang membuat para ABG yang masih polos terpacu adrenalinnya menjadi teroris kelas kakap. Rumah tangga broken home bisa menjadi rukun karena tulisan kita, anak durhaka berbalik menjadi anak soleh juga karena tulisan, so, tulisan bisa merubah hal suram menjadi hal indan, karena tulisan bak pedang,  bisa menghujam jauh kelubuk hati, juga bagai irigasi mengisi jiwa yang kering dan mengaliri sawah hati.

Menulis memang harus dilakukan dengan proforsional bahkan professional, adalah baik kita menerapkan tips, tulis saja ada yang ada dalam pikiranmu, dan jangan memikirkan apa yang akan kau tuliskan, ini memang tips yang sangat cespleng untuk memulai suatu tulisan, tetapi tahap selanjutnya, kalau boleh dianalogikan  para penulis adalah koki masakan, yang ingin menyajikan masakan terlezat, sebelum penyajian barangkali harus ada penyiapan resep dan bahan- bahan serta proses pengolahan sampai penyajian, sehingga akhirnya akan diperoleh masakan yang maknyuss, serta dikemudian hari, akan banyak orang yang ketagihan masakan lezat tersebut. Memang sih bagi koki yang jam terbangnya sudah tinggi mengolah masakan lezat, gak akan ribet dan gak pake lama, tetapi bagi koki pemula atau baru belajar bukankah perlu tanya sana sini (sharing ), tak sekedar baca resep dan berani mencoba, kecuali yang dimasak cuma mi instan he he, itu mah gampang.

Karena ketika tulisan kita dilempar ke khalayak, para pembacanya adalah semua kalangan yang sengaja maupun tidak sengaja membaca tulisan kita, akan selalu ada tanggapan pro dan kontra, like and dilike. So pasti menulislah tentang apa saja dan jangan lupa berdamai dengan diri sendiri, sebelum menuangkan ide,atau  ketika menuangkan tulisan bahkan sesudah tulisan menjadi. Karena akan ada pembaca yang bersorak kegirangan menyambut tulisan kita, ini tidak membuat kita sombong dan akan ada pembaca yang mencemooh dan hal ini juga tidak akan membuat kita patah semangat. Menulislah, berdamailah, dan rasakan kedamaian itu, salam menulis.

 

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,