Oleh: Rahma Damayanty Rivai

 

Kau jatuh cinta, tangkap atmosfer cinta itu segera. Bagaimana? Ya, dengan menuliskannya.

Bila sedih, maka tuangkan lara dalam bentuk tulisan.

Di pagi hari, ketika subuh belum sempurna pergi, ada embun pagi menggantung di ujung daun, tulis puisi tentang indahnya.

Kau mendengar kanak-kanak tertawa sempurna. Kau tak ingin momen itu hilang berlalu bagai debu. Kau tuliskan keriangan dari bocah berlesung pipit itu.

Kau marah, tapi kau ingin tetap santun, jadi tulis kemarahanmu itu.

Kau tahu itu mungkin rindu yang terlarang, haram kau sampaikan. Jadi tulis kerinduanmu, dan berharap rumpun alang-alang mau mendengar curahan hatimu.

Di dompetmu, tiba-tiba berlebih uang saku. Sebagian sudah kau sedekahkan. Maka setelah mencicil emas untuk persiapan nikahmu, belilah buku-buku. Baca buku-buku itu. Ceritakan pada dunia isi buku itu dengan tulisanmu. Berbagilah. Kata seorang penulis: Jangan hanya rakus membaca, tapi pelit berbagi. Berbagi dengan menuliskannya.

Suara seorang penyanyi idola, tiada tara merdunya. Kau merasa perlu memberitahu dunia, maka kabarkanlah dengan tulisanmu.

Hyun Bin dan Park Si Hoo, sukar dilupakan. Dengan tatapan mereka yang melelehkan hati. Kau berdebar. Imsonia. Maka tuliskan gegar di jantungmu.

Kau menulis gelisahmu ketika tetangga sebelahmu heboh bertengkar soal rumah tangga selingkuh.

Dan kau menulis doa dan harapanmu. Agar mudah bagimu mengulang-ulang kalimat-kalimat baik itu.

Ide menulis itu berhamburan bagai kapas lembut di udara yang sejuk. Kau hanya tinggal mengepakkan sayap-sayapmu dan menyimpan di tembolok jiwamu.

Tapi, tunggu dulu. Jangan kau sepertiku. Aku punya 1000 alasan untuk mangkir menuliskannya. Jadi, menulislah saja kawan. Kau pasti bisa. Kau akan merasa lebih baik.

Hatchery of words, November 24, 2011

Rahma Damayanty (lagi belajar menulis)

 

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,