Agar tidak semakin banyak orang yang menyebut saya beralih dari ustadz ganteng menjadi ustadz raja alasan, dan juga untuk menghindari diskualifikasi dari keanggotaan PNBB, maka saat ini saya ingin mengerjakan PR ini. 😀

Dalam buku ‘Jatuh Cinta Menulis’ saya mengutip perkataan seorang guru saya bahwa menulis itu hanya keterampilan membolak-bolik huruf ‘A’ sampai ‘Z’. Jelas bukan, bahwa menulis itu keterampilan. Bukan ilmu. Yang namanya keterampilan, untuk bisa memang harus dibiasakan. Bukan mempelajari teorinya. Dan untuk menjadi biasa, tiada lain yang bisa dilakukan kecuali melakukan menulis. Begitulah yang dimaksud Pak Haderi dalam bukunya ‘Saatnya Belajar Menulis Dengan Menulis’. Begitu juga yang sering kali disampaikan oleh orang yang telah menfkahkan dirinya untuk membuat banyak orang bisa menulis, Pak Ersis Warmansyah Abbas, dalam berbagai tulisannya dan pernyataan-pernyataannya di berbagai kesempatan.

Tapi, apakah memang sesederhana itu? Oh, iya memang sederhana seperti itu. Sebab menulis itu memang tak ada teorinya. Silahkan saja belajar sekian banyak teori. Tapi kalau tak pernah menulis, jangan harap untuk bisa menulis. Naik sepeda misalnya, tak akan pernah kita bisa naik sepeda, kalau kita tak pernah menaikinya. Berenang, juga begitu. Sampai kiamat datang, kalau kita tidak pernah berenang, maka kita tidak akan pernah bisa berenang.

Contoh yang lain nih. Orang-orang dulu, kakek nenek kita, mbah-mbah dan buyut buyut kita, mulai dari Mbah Adan dan Hawa, mereka tidak pernah belajar kamasutra atau teknik-teknik sex lainnya. Tapi mereka bisa tuh melakukannya. Buktinya sekarang kita bisa ada. Itu karena mereka melakukan itu. Sehingga para wanitanya bisa hamil. Dan kemudian Lahirlah kita sebagai generasi yang dihasilkan oleh kegiatan melakukan itu. Walau mereka tak pernah belajar teorinya sebelumnya.

Hambatan menulis, memang pasti ada. Tak ada kegiatan apapun yang dilakukan manusia di bumi ini melainkan akan menemui berbagai hambatan. Hambatan menulis seperti yang telah ditulis oleh Uda Hazil Aulia adalah:

Sibuk
Bingung ingin menulis apa
Khawatir dicemooh orang yang membaca
Tulisan saya tidak berkualitas
(tuliskan semua hambatan menulis yang ada di pikiran)

Ada satu hambatan lagi yang dilewatkan oleh Uda. Yaitu MALAS. Dan dari sekian banyak alasan itu, menurut saya yang paling susah untuk diatasi adalah malas ini. Sibuk, ketika sudah tak sibuk, maka akan ada kesempatan menulis. Kahawatir dicemooh, kalau sudah ganti rai gedek, maka akan selesai masalahnya. Bingung ini, sebenarnya dalam konteks menulis, lebih banyak ke bengong-nya. Bukannya tidak tahu apa yang harus dilakukan. Tapi, lebih kepada mbulet, tidak mau melakukan. Kalau sudah begitu, berarti kembali lagi masalahnya, yaitu MALAS!

Dan malas, itu adalah penyakit yang tidak ada solusinya. Solusinya hanya satu LAKUKAN SEGERA!.

*Tips ini gak tahu saya mau dikasih judul apa. Untuk itu, kepada para bapak-ibu guru dan teman-teman sekalian, tolong dikasih judul yaa… 🙂