Oleh: Osya Oshin

Mitos yang selama ini berkembang di kalangan penulis adalah bahwa aktifitas tulis menulis hanya bisa dimulai jika muncul inspirasi, atau yang biasa diistilahkan sebagai ilham.

Konon, ilham tak ubahnya jaelangkung; datang tak dijemput, pulang tak diantar.

Dengan kata lain, dia bisa datang tiba-tiba seperti jatuh dari langit, tapi kalau sudah mampet bikin sepet. Tidak heran, seseorang akan melakukan apa saja (termasuk bersemedi di goa-goa?) demi menanti kedatangan “Bang Ilham”.

Mungkin tidak sepenuhnya salah, tapi menunggu ilham dengan cara seperti itu, kok, rasanya lamban. Seorang penulis tidak akan produktif jika bersikap pasif, sebaliknya dia harus aktif mengejar “Bang Ilham” dan tidak sekedar menunggu kedatangannya.

Putu Wijaya pernah menyarankan: “Perkosalah dirimu sendiri untuk produktif dan kreatif dalam mengarang.” Ya, memperkosa diri sendiri, sebab sejatinya ilham telah ada dalam diri penulis sendiri.

Ibarat time warp atau lorong waktu, seorang penulis hanya butuh menekan tombol Enter, klik. . . lalu dia akan melesat sekedipan mata ke dalam situasi yang sama sekali berbeda. Sampai pada ruang dan waktu yang dia inginkan. Berkelana menjamah galaksi, menjamah dunia bawah laut, mengobrak-abrik alam mimpi, kembali ke masa lalu, mengintip skenario masa depan, bahkan dunia antah barantah sekalipun.

J. K. Rowling, dengan kelincahannya dalam mengembangkan daya khayalnya, mampu mencipta dunia sihir, membikin jutaan orang di dunia terlena. Atau Edgar Rice Bourroughs, dengan imajinasi liarnya mampu menaklukkan ganasnya belantara Afrika lewat tokoh Tarzan, ciptaannya, mengecoh jutaan generasi selama berpuluh tahun, padahal Bourroughs tak pernah sekalipun menginjakkan kaki di benua hitam itu.

Bagi saya pribadi, ilham bisa saya pungut dari mana saja. Adakalanya ia lahir dari curhatan teman-teman, saudara, orang asing yang baru kenal sambil lalu, atau bahkan penderitaan mantan kekasih *eh?!*

Tidak jarang pula ilham saya petik dari pengalaman pribadi. Berangkat dari pengalaman menimba ilmu di pesantren, misalnya, saya jadi tau seluk beluk darah biru keluarga Kyai, dimana anak-anak Kyai akan dijodohkan dengan anak Kyai pula. Setahun setelah lulus dari pesantren, saya merasa “hamil” cerpen dan akhirnya melahirkan tulisan berjudul “Pilihan Mas Fathan”. Atau saat saya berkenalan dengan lelaki asing di bus yang mengaku memiliki ilmu laduni, turun dari bus saya sudah “hamil” dan melahirkan cerpen “Lelaki Itu Berilmu” segera setelah sampai di rumah.

Tebaran sumber-sumber ilham tersebut benar-benar tersangkut dalam sanubari saya, dan dengan sedikit sentuhan imaji (Imagical Touch) sebagai bumbunya, jadilah cerita fiksi.

Ilham begitu menarik untuk ditulis jika setidaknya memenuhi dua hal: ilham itu lekat dengan fenomena sehari-hari, dan menyentuh rasa di hati. Penghayatan akan nilai hidup, kemarahan, kejengkelan, penderitaan, kebahagiaan, atau apapun yang mengusik batin bisa menjadi lahan-lahan subur bagi lahirnya “Bang Ilham”.

Begitulah. Sebab kehidupan itu sendiri adalah sumber ilham yang tidak akan habis untuk digali. Selanjutnya, tentu saja, penulis hanya perlu berurusan dengan teknik penulisan, seperti plotting, karakterisasi, setting, dll. Lalu, agar cerita fiksi itu lebih bernyawa dan membangkitkan rasa di jiwa pembaca, penulis juga perlu menambahkan sentuhan agama (tanpa harus terkesan menggurui), moral, atau ajaran kebajikan lainnya.

Setelah semua “bumbu” tersebut diracik dan membaur dengan imajinasi yang meletup-letup, tinggal memberi judul yang pas dan kemudian memeriksa ulang kesalahan yang mungkin terjadi sebagai sentuhan akhir (finishing).

Kuncinya hanya satu: Terus Menulis!

Di sekitar kita, “Bang Ilham” gentayangan, tinggal tangkap, olah, lalu tulis. Ya, tulis! Apalagi?

 

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,