Oleh: Osya Oshin

Banyak yang suka nanya, ‘napa sih suka banget nulis?’

Pertanyaan wajar sih. Tapi ada juga yang sedikit ”ganggu” kaya gini, ’emang bakal dapat penghasilan berapa sih dari nulis?’

Tiap orang punya tujuan masing-masing ya dalam menulis.

Ada penulis yang tulisannya gak bikin bosen meski udah dibaca berulang kali sampe bukunya lecek. Itu yang saya rasakan dari tulisan Bang Vabyo.

Ada penulis romantis-realis yang slalu memandang hidup dan cinta dari sudut yang sederhana, namun cukup mengena. Itu yang saya cicipi dari karya-karya Bang Andrei Aksana.

Ada penulis humoris yang mampu menyajikan ke’lucu’an hidupnya tanpa meniadakan hikmah. Itu yang saya lahap dari sajian kata Bang Raditya Dika.

Ada pula para penulis wanita yang mampu memandang sisi kewanitaan mereka dari sudut pandang berbeda. Sebut saja Dee Lestari, Ayu Utami, atau Djenar Maesa Ayu.

Banyak orang yang tujuan menulisnya (menurut saya) salah. Pengen kaya, pengen tenar.

Orang-orang seperti ini (lagi-lagi menurut saya) hampir bisa dipastikan tulisannya tidak berjiwa, karena tidak jujur.

Ada juga yang nulis agar keliatan pinter. Biasanya dilakukan oleh orang yang ‘puber’ intelektual. Dengan kata lain, mereka baru saja ter-ekspose oleh hal-hal yang bersifat filosofis dan prosa artsy.

Biasanya tulisan mereka penuh jargon rumit dan pemilihan kata yang seringkali tidak perlu. Istilah kerennya: Sastra Kamus.

Saya sendiri?

Ah, saya bukan orang pinter. Saya menulis dengan tujuan sederhana: menuangkan kegilaan.

Saya bukan termasuk orang yang jago debat secara lisan, Maka menulis adalah media yang paling tepat untuk mengungkapkan isi otak saya yang seringkali meluap tanpa kendali, sebab bicara kadang membuat lidah ini kelu *alah!*

Kalau ada pepatah mengatakan, We recognize birds from their singing, we do people from their talks, mungkin yang tepat bagi saya adalah: We recognize people from their way of writing; their language.

Orang bisa dinilai dari gaya bahasa tulisnya. Sekali lagi itu menurut saya.

Adakalanya saya serius menuliskannya, biasanya berisi kemarahan yang tertahan, kerinduan yang membuncah, atau justru suatu bentuk keheranan yang sudah sampe ubun-ubun.

Adakalanya saya ingin mencoba berpuisi, tapi karena saya sama sekali tidak berbakat di dalamnya, akhirnya status itu hanyalah sebentuk puisi gagal, niatnya gombal tapi malah ditertawakan.

Adakalanya pula hanya berisi haha-hihi, means nothing but an immense image of a girl named osya who is crazy for a bead of words and words.

Semua semata tertulis untuk menghibur diri saya sendiri, sekedar meluapkan jalan pikiran saya yang seringkali meletup-letup tak terkendali. Syukur-syukur kalau ada yang kebetulan membaca dan mampir untuk berkomentar lalu mereka tertawa. Ah, itu lebih dari sekedar pelipur lara!

It feels fun to make them laugh with me, either laugh me or laugh the way I’m laughin’.

Seperti nasihat dalam buku Quantum Writing bahwa menulis itu menyehatkan.

Ya, sebab menulis itu adalah serangkaian aktifitas untuk menjawab kegalauan, melawan kekosongan, petualangan ide, penataan konsep, permainan kata, dan salah satu aktifitas penting dalam hidup.

So, keep writing you, guys!